Penggambaran Islam dalam Manga

Manga telah menjadi media mainstream dalam berkisah, bagaimana Islam digambarkan di sana?


God teaches us: We should guard our modesty. We should not display our beauty

Itulah kalimat pembuka dalam manga Otoyomegatari (The Bride’s Stories) babak 75 yang berjudul Rambut. Apabila kita sering mengkaji al-Qur’an, maka kalimat di atas tidak akan asing dalam benak kita, yup, bukalah Surat Al-Nūr: 31 dan bacalah,

“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya….”

Pertanyaannya, mengapa ayat ini muncul dalam manga Otoyomegatari dan kisah apa yang hendak ia ceritakan? Baiknya kita mulai dari awal, berkenalan dengan manga itu sendiri. Singkatnya, manga adalah komik. Secara panjang-lebar, manga adalah komik yang diterbitkan dari negara Jepang dan berbahasa asli Jepang.

Antara manga dengan komik yang kita kenal tidak ada perbedaannya: ia adalah media untuk menyampaikan cerita dalam bentuk gambar disertai tambahan dialog-dialog dan teks lainnya: baik itu sfx (efek suara seperti ‘dor’ suara tembak), monolog, penjelasan setting, atau teks lainnya yang dirasa penting oleh mangaka (penggambar komik) untuk memperjelas cerita. Karena fungsinya menarasikan kisah dalam bentuk gambar, segala macam genre bisa kita temui di dalamnya, baik itu romansa, thriller, psikologi, drama, dan lain sebagainya.

Salah satu kisah yang dinarasikan dalam bentuk manga, adalah Otoyomegatari (The Bride’s Stories) karya Kaoru Mori. Manga ini ber-setting di Asia Tengah khususnya sekitar lautan Kaspia pada abad ke-19, masa di mana Kekhalifahan Utsmani sedang panas-panasnya dengan Kerajaan Rusia.

Ia menceritakan tentang Amir Halgal, gadis berusia 20 tahun, yang karena desakan orang tua terpaksa menikah dengan Karluk Eihon, pria yang mulanya dikira Amir sudah berusia senja, tetapi ternyata baru berumur 12 tahun. Perbedaan usia yang menjulang dengan usia pengantin pria yang masih muda, membuat mereka berdua mengalami kesulitan dalam membentuk komunikasi layaknya pengantin pada umumnya. Ditambah, banyak gosip yang beredar salah satunya omongan yang menyatakan keprihatinan bahwa si mempelai wanita terlampau tua bila nanti telah tiba masa mengandung anak. Itu semua menambah pelik dalam kehidupan rumah tangga mereka.

Tetapi, kisah ini tidak hanya milik mereka berdua, banyak tokoh-tokoh lain yang juga memiliki jatah tampil banyak dalam manga ini, tersebutlah Mr. Smith, antropolog dari Inggris yang mengamati dan menulis kebudayaan masyarakat Asia Tengah; Pariya, wanita muda teman Amir Halgal yang bersifat tomboi sehingga orang tuanya kesulitan mencarikan jodoh untuknya; Laila dan Leyli, saudari kembar dengan sifat periang nan jahil; Anis, istri yang menyuruh suaminya berpoligami demi membantu kawannya yang hampir menggelandang karena menjanda; dan masih banyak lainnya.

Pada intinya, manga ini adalah manga yang menceritakan kebudayaan melalui lensa manga dan dari sudut pandang aneka macam tokoh yang hidup pada abad ke-19, yang dilukis indah oleh Kaoru Mori.

Melihat dari setting waktu dan tempat, kita bisa memperkirakan bahwa manga ini kaya akan kisah terhadap orang-orang Islam. Memang benar, meskipun Kaoru Mori tidak secara eksplisit menyebut Islam di sana, tetapi semua itu bisa dilihat dari nuansanya yang penuh dengan budaya Islami: suara adzan di tengah riuhnya pasar Istanbul, etika busana wanita berupa hijab, orang-orang di antara karavan yang mengangkat tangannya untuk berdoa semoga diberi kelancaran dalam menunaikan haji, dan lain sebagainya.

Selain itu, kisah-kisah di dalamnya pun menceritakan budaya Islami. Misalnya poligami, Kaoru Mori men-tackle topik ini dari sudut pandang Anis, wanita yang menikah muda dengan seorang saudagar kaya nan penuh kasih sayang. Namun, Anis masih merasa kurang dengan kehidupannya, apabila dibuat amtsal, dia bagaikan burung dalam sangkar, karena kondisi sosial dan status yang dia emban membuatnya tidak bisa bergerak bebas bagai wanita lainnya, misal ke pasar atau bergosip di beranda rumahnya yang bagaikan istana.

Maka jalan satu-satunya untuk memuaskan hasrat berkomunikasi ialah dengan pergi ke pemandian umum. Di sana, Anis berjumpa dengan Shirin, wanita dari kalangan sederhana yang telah bersuami dan beranak satu. Perjumpaan mereka semakin lama semakin erat sehingga masing-masing mempererat diri dengan menyatakan satu sama lain sebagai saudari di Masjid.

Namun kebahagiaan tidak berlangsung lama, suami Shirin meninggal karena sakit. Mendengar kabar tersebut, Anis meminta suaminya untuk mengambil Shirin sebagai istri kedua demi menyelamatkannya dari hidup di jalanan. Suaminya menyatakan sanggup dan melakukan poligami, memindahkan Shirin dan keluarganya ke dalam lindungan rumah tangganya.

Meskipun manga Otoyomegatari mengisahkan masyarakat abad ke-19, ingar-bingar kisahnya masih bisa kita lihat pada masyarakat Muslim masa sekarang. Poligami, cek. Berhijab, cek. Hubungan pria dan wanita yang kaku, cek. Oleh karena itu, membaca manga ini bagaikan cermin. Kaca yang apabila kita gunakan akan menimbulkan senyum karena apa yang dikisahkan bisa kita cari persamaannya di sekitar kita.

Poligami masih semarak di sekitar kita, bahkan ada kesan prestige yang didapat bila dilakukan. Hubungan pria dan wanita dalam masyarakat tradisional masih kaku, ada sedikit segregasi yang tak sadar kita lakukan, misalnya di acara kondangan, para tamu dipisah sesuai dengan gendernya.

Tetapi, fungsi Otoyomegatari lebih dari itu, selain sebagai cermin bagi umat Islam sendiri. Ia bisa menjadi salah satu jembatan bagi orang non-Islam atau mereka yang tak familiar dengan budaya Islam untuk bisa mengenal Islam lebih dekat. Sifat kisahnya yang tidak sentris religius, alias fokus kepada aspek keagamaan, melainkan sejarah dan kebudayaan, membuat ia bisa ditelan siapa saja.

Dengan demikian, ketika orang membaca manga ini, misal demi memenuhi pemuasan akan kisah romansa, dia secara tak langsung memahami pula mengapa poligami dilakukan di belahan bumi lainnya. Prasangka buruk yang mungkin mendiami benak pembaca tentang poligami, bahwa itu adalah perbuatan yang merendahkan wanita karena menduakan pasangannya sama halnya dengan berkhianat, menjadi paham bahwa poligami bisa sebagai payung yang melindungi harkat dan martabat wanita.

Atau misalnya tentang hijab, banyak yang memiliki prejudice bahwa itu adalah lambang penindasan terhadap wanita karena melarang wanita mengekspresikan tubuhnya. Tetapi seusai membaca babak ke-79 tentang rambut, mereka paham bahwa konsep rambut sebagai keindahan masih bisa diekspresikan meskipun hanya terhadap suami mereka, dan itu pun bukan pembatasan yang mengekang nan mencekik, karena, apabila hanya suaminya yang bisa membelai dan menggerai rambut istrinya, ada nuansa sensualitas yang bisa melanggengkan kasih sayang.

Penggambaran Islam dalam media manga amat kita perlukan, karena dengan menyebarkan nilai-nilai positif Islam di sana, secara tidak langsung akan memperbaiki citra Islam yang sayangnya masih buruk di berbagai komunitas dunia. Penyebutan Islam identik dengan teroris, keterbelakangan, dan pengekangan masih ramai memenuhi benak-benak mereka yang belum bertemu dengan nilai Islam yang penuh kesejukan. Sehingga banyak prasangka buruk terhadap Islam yang berlanjut menjadi diskriminasi yang masih sering dijumpai oleh saudara-saudari Muslim kita di mana-mana.

Bisa dibilang, manga bisa menjadi salah satu kunci komunikasi massal terhadap masyarakat internasional mengingat persebaran manga tidak hanya terbatas di Jepang. Ia merambah ke seluruh dunia dan menjadi salah satu media hiburan mainstream di mana-mana.

Apalagi bermula dari manga, ia bisa diadaptasi menjadi anime (kartun), yang semula hanya gambar diam berwarna hitam-putih; menjadi bergerak, berwarna, dan bersuara sehingga bisa menjaring banyak konsumen. Misalnya di Indonesia, banyak manga-manga yang diterbitkan di sini, tersebutlah Crayon Shinchan, Detektif Conan, Naruto, Doraemon, dan lain sebagainya. Namun popularitas mereka bukan dari sana, melainkan dari kartunnya yang ditayangkan di TV-TV lokal setiap Minggu pagi.

Meskipun begitu besar potensi yang dimiliki manga, sayangnya masih amat terbatas manga yang menggambarkan Islam atau umat Islam. Sejauh yang saya ketahui, manga yang menggambarkan Islam dan diakui oleh dunia Internasional barulah Otoyomegatari. Ia telah mendapatkan banyak penghargaan, misalnya penghargaan “Manga Taisho” pada tahun 2011; YALSA (The Young Adult Library Services Association) menominasikannya menjadi “Cerita Bergambar Terhebat untuk Remaja” pada tahun 2012; kemudian juga mendapatkan penghargaan oleh Angoulême International Comics Festival pada tahun 2012.

Kenyataan seperti itu, janganlah membuat hati bermuram durja. Malah dengan begitu harusnya mengingatkan kita bahwa menceritakan Islam dalam media manga masih memiliki banyak peluang. Kita tak kurang-kurang memiliki banyak cerita untuk dikisahkan kepada khalayak internasional. Islam sejak zaman Nabi Muhammad hingga sekarang telah memberi polesan warna yang cemerlang dalam sejarah manusia! Kalau sudah begitu, adakah di antara pembaca yang mau menggambarnya?

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 2

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals