Menjaga Kebersamaan Ummat, Menjaga Keberlangsungan Bangsa dan Bernegara

Selamat ulang tahun ke 73 Kementerian Agama RI.


Hari ini adalah hari ulang tahun kementerian Agama RI yang ke 73 (3 Januari 1946). Bersamaan dengan tahun 2019 adalah tahun politik, tema yang diusung adalah  Jaga Kebersamaan Ummat. Tema tersebut adalah tema aktual dan terkini dalam melihat kondisi bangsa di tahun politik. Setidaknya dengan beragam pilihan dalam kehidupan demokrasi bangsa ini harus disikapi dengan baik dan bijak. Setidaknya hal tersebut harus dimaknai dengan mengedepankan kebersamaan di antara ummat.

Ummat Islam adalah ummat yang terbesar di bangsa Indonesia dan bahkan di dunia. Potensi tersebut harus dijadikan sebagai sebuah kekuatan dalam membangun bangsa ini. Hal ini setidaknya dapat dilakukan dengan cara mengisi pembangunan dengan kapasitas masing-masing. Dengan demikian setiap ummat memiliki kontribusi bagi NKRI dan bukan  sebaliknya menjadi pemecah belah ummat.

Sejarah membuktikan kebersamaan di antara komponen bangsa ini menjadikan Indonesia merdeka dari penjajahan. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari pendiri bangsa ini yang mengeyampingkan beragam perbedaan untuk kepentingan kemerdekaan. Semangat inilah yang menjadi tujuan utama seluruh komponen bangsa pada waktu itu. Buah manis persatuan dan kebersamaan tersebut hasilnya pun dapat dinikmati oleh semua orang sampai saat ini.

Bagi generasi penerus dan pelanjut  penting untuk menjaga kebersamaan di antara umat. Kenyataan ini setidaknya dilakukan oleh masing-masing individu dalam masyarakat dengan mencapai tujuan yang sama walaupun caranya yang berbeda. Hal inilah yang harus disadari oleh semua pihak untuk kebaikan bersama.

Fenomena kehidupan berbagsa dan bernegara yang terjadi sekarang berkata lain. Banyak di antara ummat terjadi gesekan bahkan permusuhan dan akhirnya saling tidak sapa satu dengan yang lainnya. Informasi dan berita yang beredar sering menjadi pemicu hal ini. Kematangan unmat dalam memahami persoalan bangsa dan persoalan pribadi sering tercampur aduk. Demikian juga kepentingan kelompok-kelompok mewarnai adanya keretakan ummat ini. Setidaknya dalam pemilihan presiden dan wapres serta pemilu lainnya pada tanggal 17 April 2019.

Hajat bangsa lima tahunan tersebut seharusnya menjadikan seluruh komponen bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar. Pemahaman seperti ini harus dilakukan dengan baik dan terus menerus. Kenyataan tersebut jangan sampai menjadikan gesekan di antara komponen bangsa. Untuk menjaga tersebut bagi ummat Islam jangan terlalu menonjolkan identitas diri masing-masing. Islam harus dipahami secara substabtif bukan dipahami secara parsial. Jika pemahaman pemahaman yang parsial ini dikembangkan maka kebersamaan tidak akan terwujud. Demikian juga gesekan-gesekan akan terus terjadi dan tidak akan ada habisnya.

Fenomena perbedaan dalam memahami ajaran agama pun harus dipahami dengan bijak  dan baik. Semakin tinggi ilmu tentang keagamaan seseorang maka akan bijaklah seseorang tersebut. Sebaliknya, yang sering terjadi adalah pemahaman yang dangkal atas agama menjadikan kebersamaan terlupakan. Oleh karena itu setiap komponen bangsa ini harus selalu belajar substansi agama dengan baik.

Kementerian Agama sebagai sebuah institusi pemerintah menyediakan beragam pendidikan baik formal maupun non formal yang bisa diakses oleh masarakat luas. Pendidikan tersebut baik tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Hal tersebut juga didukung oleh seluruh komponen masyarkat dan organisasi masyarakat tertentu seperti pesantren-pesantren di bawah nahdhatul ulama atau sekolah-sekolah di bawah Muhammadiyah. Beragam pendidikan tersebut dapat diakses dalam rangka menjadikan pemahaman Islam yang baik dan benar.

Tentu saja memahami ajaran Islam tidak disarankan secara autodidak dengan tanpa guru. Apalagi memahami ajaran Islam hanya melalui al-Qur’an dan Hadis saja. Keilmuan ajaran Islam yang dikembangkan ulama sangat tidak mungkin dipahami dengan baik tanpa memahami keilmuan pedukung seperti ilmu al-Qur’an dan Ilmu Hadis. Kedua disiplin tersebut pun terus berkembang dalam sejarahnya.

Untuk itulah, memahami ajaran Islam seharusnya mengikuti tatanan aturan pemahaman sebagaimana yang sudah dibuat oleh ulama. Dengan kedalaman keilmuan tersebut akan melahirkan pemahaman yang dalam atas ajaran Islam. Cara inilah yang akan mengantarkan saling memahami dalam kebersamaan.

Selamat ulang tahun ke 73 Kementerian Agama RI.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga
Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals