Pendidikan dan Dakwah dalam Al-Qur’an

Mendidik, bukan menghardik; mengajar, bukan menghajar, mengajak, bukan mengejek; memandu, bukan mengadu; merangkul, bukan memukul.


Maha Besar Allah Yang Maha Tinggi, penuh rahmat dan ampunan. Dia menciptakan manusia dan menempatkannya sebagai wakil-Nya. Untuk maksud itu Allah swt melengkapi manusia dengan pengertian, pengetahuan, dan pandangan rohani, agar memahami alam semesta dan dirinya sendiri serta mengenal dan mengagungkan-Nya dalam kebenaran.

Sejak dalam kandungan setiap insan sudah teken kotrak bahwa Allah swt adalah Tuhan Pemeliharanya. Itulah fitrah bertauhid yang disematkan Allah swt dalam diri manusia. Sementara ilmuwan menyebutnya God spot. Allah swt berfirman dalam Alquran (ditulis maknanya),

Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman, “Bukankah Aku Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Ya, kami bersaksi!” Demikianlah, supaya kamu pada hari kiamat tidak berkata, “Ketika itu kami lalai.” Atau agar kamu tidak mengatakan, “Leluhur kami mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedangkan kami anak keturunan sesudah mereka. Apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu?” Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu agar mereka kembali kepada kebenaran. (QS 7:172-174).

Allah swt menjadikan manusia dari tanah, kemudian dari setetes mani, lalu dari segumpal darah, lantas dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna. Allah swt menetapkan dalam rahim apa yang Dia kehendaki sampai waktu yang sudah ditentukan, kemudian mengeluarkannya sebagai bayi hingga berangsur-angsur tumbuh sampai dewasa. Di antara manusia ada yang diwafatkan dan ada pula yang dipanjangkan umurnya sampai pikun dan tidak mengetahui sesuatu pun. (QS 16:70, 22:5).

Pendidikan perdana Allah swt kepada Nabi Muhammad saw ialah membaca. Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Menciptakan manusia dari segumpal darah yang menggantung. Bacalah, dan Tuhanmu Maha Pemurah. Yang mengajar manusia menggunakan pena. Mengajar manusia apa yang tak ia ketahui. (QS 96:1-5).

Dalam wahyu perdana tersebut Allah swt mengulang perintah membaca tanpa menyebutkan apa yang mesti dibaca. Maknanya, agar manusia proaktif membaca apa saja yang dapat menambah ilmu, iman, dan amal, serta meningkatkan kearifan hidupnya. Bukankah Allah swt menciptakan kita tanpa tahu apa-apa?

Allah mengeluarkan kamu dari rahim ibumu tidak mengetahui apa-apa, dan Dia membuat untukmu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, agar kamu bersyukur. (QS 16:78). Jangan kau ikuti apa yang tidak kau ketahui, karena setiap pendengaran, penglihatan dan hati akan dimintai pertanggungjawaban.(QS 17:36).

Allah swt berpesan kepada para nabi sebagai da’i dan pendidik umat, “Wahai nabi, sungguh, Kami mengutus engkau sebagai saksi, pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Sebagai pengajak kepada Allah dengan izin-Nya dan sebagai pelita pemberi cahaya. Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang mukmin bahwa mereka akan memperoleh karunia yang besar dari Allah. Janganlah kauturuti orang-orang yang kafir dan kaum munafik, jangan hiraukan gangguan mereka; tawakallah kepada Allah. Cukuplah Allah sebagai Pelindung.” (QS 33:45-48).

Para Nabi menyeru umat agar mendengarkan tuntunan ke jalan Allah. “Hai kaum kami, penuhilah seruan Allah dan berimanlah kepada-Nya. Dia akan mengampuni segala dosa dan menyelamatkan kamu dari azab yang pedih. Siapa yang tidak mendengarkan ajakan orang yang menyeru ke jalan Allah, ia tak dapat menggagalkan rencana Allah di bumi dan tak ada pelindung selain Dia. Mereka dalam kesesatan yang nyata.” (QS 46:31-32).

Allah swt memberikan bimbingan kepada para da’i-Nya, “Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana dan pesan yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang terbaik. Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan siapa yang mendapat petunjuk.” (QS 16:125).

Allah swt sekaligus memberikan rambu-rambu dakwah kepada rasul-Nya. “Engkau tak pernah mengharap agar Alquran diturunkan kepadamu, kecuali sebagai rahmat dari Tuhanmu. Janganlah menjadi penolong orang-orang kafir. Jangan ada apa pun yang akan merintangi kau dari ayat-ayat Allah sesudah diturunkan kepadamu. Ajaklah mereka kepada Tuhanmu, dan janganlah masuk golongan kaum musyrik. Janganlah kamu seru tuhan lain selain Dia. Segala yang ada akan binasa, kecuali wajah-Nya. Segala ketentuan ada pada-Nya, dan kepada-Nya kamu dikembalikan.”(QS 28:86-88).

Para rasul berdakwah secara optimal lalu berserah diri kepada Allah swt. Syu’aib berkata, “Wahai kaumku, bagaimana pendapatmu jika aku mempunyai bukti yang nyata dari Tuhanku dan ia member aku rezeki yang baik dari-Nya? Aku tidak ingin menentangmu atas apa yang aku larang; yang kuinginkan hanyalah kerukunan semampuku. Keberhasilanku dalam tugas ini hanya dari Allah. Kepada-Nya aku bertawakal dan kepada-Nya aku kembali.” (QS 11:88).

Para Nabi mendidik dan berdakwah dengan tindakan dan keteladanan. Allah swt memberikan testimoni dan rekomendasi kepada mereka. Nun. Demi pena dan demi catatan yang ditulis manusia. Dengan karunia Tuhanmu, engkau bukanlah orang gila. Sungguh, bagimu pahala yang tiada putusnya. Sungguh, engkau mempunyai akhlak yang agung. (QS 68:1-4). Sungguh, dalam diri Rasulullah kamu mendapatkan teladan yang baik; bagi bagi siapa yang mengharapkan Allah dan hari kemudian, dan banyak mengingat Allah (QS 33:21).

Telah ada bagimu teladan yang baik untuk diikuti pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya, “Kami berlepas tangan dari apa yang kamu sembah selain Allah. Kami mengingkari kamu. Antara kami dan kamu timbul permusuhan dan kebencian untuk selamanya, – kecuali kamu beriman kepada Allah semata…  Sungguh, pada mereka sudah ada teladan yang baik bagimu, – bagi siapa yang mengharapkan dari Allah dan hari kemudian. Siapa berpaling, sungguh Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji. (QS 60:4-6).

Setiap muslim niscaya menjadi da’i dan pendidik, kapan saja dan di mana pun ia berada. Mendidik, bukan menghardik; mengajar, bukan menghajar, mengajak, bukan mengejek; memandu, bukan mengadu; merangkul, bukan memukul.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals