Menjaga Keseimbangan Hidup

"..Tak ada baiknya ucapan tanpa pengamalan, pengetahuan tanpa ketakwaan, sedekah tanpa ketulusan, kekayaan tanpa kedermawanan.."


Wahai orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dengan takwa yang sesungguhnya, dan janganlah kamu mati kecuali dalam Islam; dan berpegang teguhlah pada tali Allah dan jangan berpecah-belah… (QS 3:102-103).

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul jika mengajak kamu kepada yang memberi kamu kehidupan; ketahuilah bahwa Allah berada antara manusia dan hatinya, dan bahwa kepada-Nya kamu akan dihimpun kembali. (QS 8:24)

Orang beriman yakin akan adanya dua dimensi kehidupan: kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Setiap orang mendambakan kehidupan yang baik dan penuh kebahagiaan pada keduanya. Untuk itu Allah swt menuntunkan doa yang paling indah dan sempurna dalam Al-Quran, “Ya Tuhan pemelihara kami, anugerahilah kami segala yang baik di dunia, dan segala yang baik di akhirat, serta peliharalah kami dari azab neraka.” (QS 2:201).

Orientasi hidup dunia dan akhirat dituntunkan Allah swt dalam Al-Quran melalui lisan kolega Qarun,“Carilah dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu kehidupan akhirat, dan janganlah lupa bagianmu di dunia ini; dan berbuat baiklah kepada sesama sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah engkau mencari kesempatan untuk berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan. (QS 28:77)

Dunia adalah ladang untuk menanam amal akhirat: Ad-dunya mazra’atul akhirah. Perolehan seseorang di dunia dan akhirat adalah tergantung orientasinya. Segala yang bernyawa takkan mati kecuali dengan izin Allah; waktunya sudah ditentukan. Siapa menghendaki balasan dunia, kepadanya Kami berikan, dan barang siapa menghendaki balasan akhirat, kepadanya Kami berikan akhirat, dan Kami akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur. (QS 3:145).

Setiap orang mendambakan kebaikan hidup di dunia dan akhirat. Rasulullah saw pun memberikan panduan dengan sabdanya, “Man aradaddunya fa ‘alaihi bil ‘ilmi w aman aradal akhirata fa ‘alaihi bil ‘ilmi w aman aradahuma fa ‘alaihi bil ‘ilmi – Siapa yang menginginkan kebaikan hidup di dunia, maka dengan ilmu. Siapa yang menginginkan kebaikan hidup di akhirat, maka dengan ilmu. Siapa yang menginginkan kebaikan hidup di dunia dan akhirat, maka dengan ilmu.”

Perbandingan volume dunia dan akhirat digambarkan Nabi Muhammad saw dalam sabdanya yang sangat popular, “Celupkan jarimu ke dalam lautan. Air yang terbawa oleh jarimu itulah dunia…” Orang bijak berkata, “Kehidupan akhirat bukan kehidupan yang akan datang, melainkan kehidupan itu telah mulai sekarang.”

Allah swt adalah tujuan pencarian. Setiap amal yang tidak dimaksudkan karena Allah swt akan hilang sia-sia. Setiap hati yang tidak dihubungkan dengan-Nya penuh penderitaan. Semua manusia akan binasa, kecuali yang berilmu; semua yang berilmu akan binasa, kecuali yang beramal; semua yang beramal akan binasa kecuali yang ikhlas.

Kebahagiaan adalah dambaan setiap manusia. Apa hakikat kebahagiaan dan bagaimana cara menggapainya? “Nikmatilah kebahagiaan dari hal-hal yang sederhana.” (Albert Einstein);

“Orang yang tidak merasa bahagia dengan yang sedikit, selamanya tidak akan menemukan kebahagiaan.” (Abikors); “Keadilan, kebenaran, dan kebebasan, itulah pangkal kebahagiaan.” (Plato); “Kebahagiaan adalah keharmonisan apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dilakukan.” (Mahatma Gandhi).

“Jalan menuju kebahagiaan: bebaskan hatimu dari rasa dendam dan rasa takut; hidup sederhana, sedikit berharap, banyak memberi; isilah penuh harapanmu dengan kasih sayang; pancarkanlah cahaya; lupakan dirimu sendiri dan ingatlah orang lain; perlakukanlah sesama manusia seperti engkau ingin diperlakukan.” (Mattern);

“Kebahagiaan haruslah diperjuangkan, bukan dengan mengeluh, meminta belas kasihan orang lain, atau dengan pasrah kepada nasib.” (Cicero); “Berbahagialah atas apa yang kaudapat hari ini dan berusahalah serta mohonlah kepada Tuhan untuk kebaikan hari esok.” (Nabi Muhammad saw).

Tak ada baiknya ucapan tanpa pengamalan, pengetahuan tanpa ketakwaan, sedekah tanpa ketulusan, kekayaan tanpa kedermawanan.

Hati hidup dengan hidayah, mati dengan kesesatan; sehat dengan kesucian, sakit dengan ketergantungan; jaga dengan dzikir, dan tidur dengan kelengahan. Siapa yang bertakwa dilindungi Allah, siapa yang bertawakal dicukupkan kebutuhannya, siapa yang bersyukur ditambah rezekinya, dan siapa yang bersedekah dilipatgandakan balasannya.[]

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

 

 

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
5
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin

Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Alquran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Anggota tim penyusun Tafsir Tematik Litbang Kemenag RI dan tim penyusun draft revisi Alquran dan Terjemahnya Tim Kemenag RI 2017. Telah menulis lebih dari 50 buku tentang Alquran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Kajian

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals