Moderasi Beragama dalam Bingkai Pendidikan Indonesia

Buku ini merupakan gagasan dan respon penulis terhadap moderasi beragama di Indonesia. Penulis mencoba merespon berbagai kebijakan moderasi beragama.3 min


1
1 point

Judul Buku: Moderasi Beragama dan Layanan kesehatan: Gagasan dan Respon Kebijakan

Penulis: Dr. H. Suwendi, M.Ag.

Penerbit: Ladang Kata

Tahun: 2021, Cetakan Pertama

ISBN: 978-623-6386-10-1

Jumlah Hal: xii+172 hlm, 14,5 x 20,5 cm

Moderasi beragama menjadi gagasan yang terus disosialisasikan khususnya oleh Kementerian Agama Republik Indonesia. Gagasan moderasi beragama diartikan sebagai proses memahami sekaligus mengamalkan ajaran agama secara adil dan seimbang, agar terhindar dari perilaku ekstrim atau berlebih-lebihan saat mengimplementasikan. Hadirnya moderasi beragama menjadi sangat tepat untuk membantu mengatasi persoalan yang dihadapi bangsa.

Menurut Lukman Hakim Saifuddin (Bapak Moderasi Beragama) setidaknya terdapat tiga alasan penting kita perlu moderasi beragama. Pertama, terjadinya perkembangan di masyarakat dalam kehidupan yang melampaui batas dan tidak memperhatikan kemaslahatan sebagai tujuan agama. Kedua, semakin kuatnya klaim kebenaran yang subjektif dan terkesan memaksakan kehendak mengikuti pemahaman agama kelompok tertentu. Ketiga, semangat beragama yang berkembang di Indonesia tidak selaras dengan kecintaan terhadap bangsa.

Baca Juga: Pesan Moderasi Beragama bagi Generasi Milenial

Kehadiran moderasi beragama menurut Suwendi diistilahkan sebagai “oksigen” dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Konstruksi sosial keagamaan menjadi latar belakang munculnya gagasan besar moderasi beragama. Munculnya fenomena politik identitas, kekerasan mengatasnamakan agama, serta beberapa upaya menghilangkan peran agama dalam konstruksi sosial. Hal tersebut menjadi urgen untuk mengembangkan moderasi beragama tidak hanya dalam ranah gagasan namun dalam ranah layanan keagamaan terutama dalam berbagai kebijakan pemerintah.

Moderasi Beragama dan Pendidikan di Indonesia

Pendidikan menjadi aspek penting dalam kehidupan manusia dan setiap warga negara Indonesia berhak mendapatkan pendidikan dalam proses meningkatkan kualitas hidupnya dan meningkatkan kesejahteraan hidup. Pendidikan terhadap manusia penting dalam rangka mewujudkan fitrahnya di muka bumi untuk menciptakan keseimbangan. Moderasi beragama dalam pendidikan Islam dapat dilakukan melalui berbagai upaya seperti penguatan moderasi di lingkungan pendidikan dan dan memasukan nilai-nilai moderat dalam mimbar keagamaan.

Penguatan moderasi beragama di lingkungan pendidikan sudah banyak dilakukan khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Lingkungan perguruan tinggi sebagai lingkungan yang melahirkan akademisi dan intelektual muslim tentunya perlu melahirkan sarjana-sarjana muslim yang moderat. Tentunya perguruan tinggi menjadi sangat penting untuk diperhatikan dalam mencegah menguatnya paham ekstrim.

Mahasiswa yang telah lulus dari  PTKI nantinya menjadi guru di lingkungan pendidikan seperti RA, MI, MTS, MA yang diharapkan mampu memberi penguatan moderasi beragama di lingkungan sekolah. Tidak hanya itu lulusan PTKI sekarang juga dapat menjadi guru di TK, SD, SMP, SMA/SMK yang tentunya akan memperluas peran serta lulusan PTKI dalam penguatan moderasi beragama di sekolah.

Suwendi melihat untuk mensukseskan penguatan moderasi beragama di PTKI perlu memperhatikan empat hal. Pertama, menyelenggarakan Ma’had Al-Jami’ah di PTKI. Kedua, penguatan terhadap dosen mata kuliah umum yang tidak memiliki latar belakang pendidikan keagamaan Islam. Ketiga, penguatan kajian Islam yang bermuara pada tafaqquh fiddin. Keempat, penguatan metodologi studi Islam dengan reformulasi kurikulum.

Baca Juga: Apakah Perempuan Perlu Dilibatkan dalam Moderasi Beragama?

Di samping penguatan moderasi beragama di lingkungan pendidikan, perlu juga memasukkan nilai-nilai moderat pada mimbar keagamaan. Mimbar keagamaan menjadi mimbar para pemuka agama untuk menyampaikan ajaran agama. Nilai-nilai moderasi beragama perlu diperhatikan oleh pemuka agama ketika menyampaikan ajaran agama. Mimbar agama menjadi bagian yang sakral dan tidak boleh dinodai dengan isi ceramah yang mengandung sikap ekstrim dalam beragama.

Pendidikan Karakter dan Layanan Keagamaan

Pendidikan karakter menjadi penting dalam membangun karakter generasi penerus bangsa. Proses pendidikan karakter di lingkungan pendidikan menjadi upaya menanamkan budaya yang baik. Tujuannya yaitu generasi muda mampu memiliki sikap dan bertindak sesuai nilai-nilai kepribadian yang ada. Proses pendidikan karakter harus dilakukan secara konsisten kepada generasi muda Indonesia.

Moderasi beragama dan pendidikan karakter tentunya perlu disinergikan untuk mewujudkan SDM yang unggul. Terjadinya dinamika regulasi pendidikan di Indonesia dapat mengganggu penguatan moderasi beragama dan pendidikan karakter. Seperti kebijakan lima hari sekolah yang mendapat berbagai kritikan sebab dirasa terdapat kekurangan di dalamnya.

Kebijakan lima hari sekolah ini akan membatasi proses penguatan moderasi beragama dan pendidikan karakter. Kebijakan lima hari sekolah dapat memberikan implikasi kepada penyelenggaraan pendidikan keagamaan Islam.

Melihat permasalahan tersebut Suwendi menawarkan empat poin yang dapat dilakukan. Pertama, tidak memberlakukan kebijakan yang mengatur jam belajar sekolah lima hari dalam seminggu. Kedua, sinergitas antara pembelajaran di sekolah dan layanan pendidikan keagaman. Ketiga, pelibatan komunitas dalam pembahasan kebijakan lima hari sekolah dengan masyarakat yang membidangi layanan pendidikan keagamaan Islam. Keempat, kebijakan yang melibatkan pendidikan keagamaan Islam seharusnya mengimplementasikan prinsip dan pendekatan buttom up, bukan top down.

Pendidikan karakter dengan mensinergikan dengan layanan pendidikan keagamaan akan memudahkan terwujudnya moderasi beragama khususnya dalam generasi penerus bangsa. Layanan keagamaan bagi warga negara Indonesia menjadi penting sebagai wujud hadirnya pemerintah dalam memberikan pelayanan keagamaan.

Baca Juga: Islam dan Negara: Moderasi Islam Nusantara Dalam Proses Berdirinya Negara Indoenesia

Layanan keagamaan yang cukup penting yaitu zakat, layanan kepada penghayat dan regulasi buku. Dari ketiga poin tersebut yang terakhir cukup menarik untuk diperhatikan oleh kita semua. Buku sebagai sumber ilmu tentu dapat memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap pemikiran seseorang. Maka dari itu kehadiran buku perlu diperhatikan untuk mengantisipasi munculnya paham ekstrim di Indonesia.

Regulasi buku dan pengadaan buku perlu pelibatan pihak-pihak terkait seperti Kementerian Agama untuk menelaah buku-buku yang menjadi bahan ajar di sekolah maupun buku umum yang beredar di masyarakat secara luas.

Moderasi Beragama dalam Bingkai Pendidikan Islam Indonesia

Buku ini cukup menarik untuk dibaca khususnya bagi pemangku kebijakan dalam mengimplementasikan moderasi beragama dan pelayanan keagamaan. Pembahasan yang disajikan cukup lengkap karena penulis terlibat langsung dalam kelompok kerja penguatan moderasi beragama. 

Buku ini secara tidak langsung membuka mata saya bahwa implementasi nilai-nilai moderasi beragama tidak sekadar memahami gagasan serta tidak ekstrim. Tidak cukup dengan hanya begitu. Kebijakan pun perlu sejalan dengan nilai-nilai moderasi beragama agar implementasi moderasi beragama bisa utuh dan menyeluruh

Saya mengucapkan terima kasih atas buku yang telah ditulis oleh Dr. H. Suwendi, M.Ag. yang beliau berikan ketika saya berkunjung ke kediaman beliau, semoga kesehatan dan keberkahan menyertai beliau.

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

1
1 point

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Farkhan Fuady

Master

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals