Metode Tafsir Muhammad Al-Jabiri

Menurut al-Jabiri dalam dalam bukunya Nahnu wa al-Turaas, untuk menjelaskan ayat al-Qur’an ada step by step yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.3 min


2
2 points

Al-Qur’an adalah kitab hidayah. Ia menjadi hudan dan busyra bagi orang-orang mukmin. Inilah sebagian pemahaman teologis umat Islam terhadap al-Qur’an. Implikasi sosiologisnya, mereka akan berusaha memahami al-Qur’an secara sungguh-sungguh karena dari al-Qur’an itu sendiri mereka akan mendapatkan kabar gembira dan petunjuk untuk mengarungi bahtera kehidupan dunia hingga sampai ke pelabuhan akhirat.

Ijtihad memahami al-Qur’an ini berlangsung dari masa ke masa dan pada berbagai belahan bumi umat Islam, meskipun tetap ada sebagian dari mereka yang berinteraksi dengan al-Qur’an secara performatif bukan informatif sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya.

Kemudian, jika kita berbicara tentang pemahaman terhadap al-Qur’an khususnya dalam konteks kekinian, maka diperlukan rumusan langkah-langkah metodologis yang serius untuk dapat mewujudkan tujuan al-Qur’an agar kontemporer untuk dirinya sendiri dan untuk kekinian kita sekarang, agar tidak terjebak pada bias-bias ideologi ataupun aliran dalam memahami makna al-Qur’an.

Menurut al-Jabiri dalam dalam bukunya Nahnu wa al-Turaas, untuk menjelaskan ayat al-Qur’an ada step by step yang harus dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ada tiga langkah yang harus dilalui: 1) membersihkan al-Qur’an dari selubung teologi, 2) pembacaan objektif, 3) pembacaan berkelanjutan.

Membersihkan al-Qur’an dari paham ideologi di sini jangan dipahami secara bahasa yakni menjadikan keberadaan al-Qur’an sama persis sebagaimana ketika pertama kali diturunkan kepada Nabi. Namun harus dipahami sebagai kemandirian al-Qur’an dari segala bentuk pemahaman atasnya, yang terkodifikasi dalam berbagai kitab tafsir yang disusun oleh ulama-ulama terdahulu dengan beragam metode, pendekatan dan corak.

Pemahaman al-Qur’an yang lahir dari tafsir-tafsir atau hal lainnya tentu saja dipengaruhi oleh ruang dan waktu mufassir yang sarat dengan selubung ideologis, sosiologis bahkan psikologis mufassir. Di sinilah arti penting melepaskan al-Qur’an dari muatan-muatan epistemologis agar nash al-Qur’an yang akan dipahami lebih lanjut adalah nash yang otentik.

Hasil dari langkah pertama ini akan memberikan kita yang hidup pada era modernisasi akan gambaran murni al-Qur’an tentang suatu konsep yang dibawa ketika pertama kali turun pada abad ke-7 Masehi sekaligus membantu kita bisa berinteraksi langsung dengan teks al-Qur’an yang masih murni dan tidak tercemari oleh muatan-muatan epistemologi yang dipenuhi dengan selubung ideologis dan dogmatis. Kemudian, setelah langkah pertama ini berhasil, maka yang selanjutnya dilakukan adalah pembacaan objektif terhadap ayat al-Qur’an itu sendiri.

Apa yang mungkin menjadi pertanyaan di benak kita adalah bagaimana cara kita memperoleh pembacaan yang objektif terhadap al-Qur’an? Apakah ada langkah-langkah khusus? Menurut al-Jabiri pembacaan objektif dapat dicapai dengan cara fashl qari ‘ani maqur’ yakni memisahkan antara pembaca dengan apa yang dia baca. Dalam artian, pembaca harus melepaskan pengaruhnya terhadap suatu objek-terbaca. Lebih jauh lagi, menurut al-Jabiri metode ini meniscayakan beberapa langkah, yaitu:

1. Pendekatan Struktural

Pendekatan ini menegaskan bahwa dalam mengkaji sebuah teks (tradisi atau al-Qur’an), harus didasarkan pada teks-teks sebagaimana adanya. Pendekatan ini bertujuan membatasi yang mempunyai teks (صاحب النص) pada persoalan tertentu saja terkait masalah teks dan relasinya secara linguistik.

Salah satu doktrin pendekatan struktural adalah keharusan menghindari pembacaan makna sebelum membaca ungkapan lafdziah-nya. Hal ini sangat ditekankan agar pembaca mampu membaca teks dengan menanggalkan terlebih dahulu berbagai jenis pemahaman tentang teks yang dimiliki.

2. Analisis Historis

Analisis ini dilakukan untuk menemukan keterkaitan antara pemikiran pemilik teks dengan lingkup historisnya dengan berbagai aspeknya, baik budaya, ideologi, politik, maupun sosial. Selain itu, analisis ini juga untuk menguji validitas kesimpulan yang diperoleh dari langkah sebelumnya, yaitu pendekatan struktural.

Maksud dari validitas (الصحة) dalam hal ini bukanlah “argumen logisnya”, melainkan “kemungkinan historis” yang memberikan kepada kita jaminan atas berbagai makna yang termuat dalam teks dan yang tidak termuat dalam teks. Melalui analisis ini, upaya memahami makna yang dimaksudkan teks akan sangat terbantu, meskipun makna tersebut tidak terkatakan secara eksplisit.

3. Kritik Ideologis

Analisis historis tidak akan sempurna tanpa pengungkapan fungsi ideologinya. Kritik ideologi ini berupaya untuk mengungkap fungsi ideologi (sosial-politik) yang dilahirkan oleh sebuah pemikiran. Sebab tidak bisa dipungkiri bahwa setiap pemikiran adalah anak zamannya, sehingga kritik ini harus dilakukan agar menghasilkan pembacaan yang obyektif terhadap sebuah teks.

Dalam langkah yang ketiga ini kita sudah diperbolehkan untuk menggabungkan pemahaman-pemahman kita tentang teks yang pada langkah awal, pendekatan struktural, harus dikesampingkan terlebih dahulu. Terungkapnya fungsi ideologis yang terkandung dalam sebuah pemikiran merupakan salah satu cara menjadikan sebuah teks yang melahirkan pemahaman tersebut hidup kembali sesuai masa kehadirannya (لنفسه معاصرا).

Pembacaan ini bertujuan untuk merealisasikan tujuan sebelumnya, yakni agar al-Qur’an kontomporer untuk kekinian kita. Cara yang ditawarkan al-Jabiri adalah dengan washlul qari wal maqru’ bahwa seorang pembaca harus mampu mengaitkan teks dengan kondisi kekinian kita, setelah sebelumnya melalui langkah-langkah validitasi otentisitas teks al-Qur’an dan objektivisasi pembacaan.

Melaui langkah ini diharapkan makna teks menjadi kontemporer untuk pembaca. Di sinilah diperlukan pembacaan yang berkelanjutan, di mana seorang pembaca harus berhubungan secara berkelanjutan dengan makna obyektif dengan menjadikan kekinian kita sebagai pijakan.

Melalui langkah-langkah metodologis di atas, ketika membaca dan memahami al-Qur’an, al-Jabiri mengharapkan agar al-Qur’an menjadi otentik dan kontemporer pada masanya. Pada saat yang bersamaan, sebagai pembaca harus mampu mempertemukan teks al-Qur’an yang otentik dan obyektif dengan kekinian kita, sehingga terjadi dialektika dan pamaknaan yang berkelanjutan.

Ketiga langkah di atas harus disinergikan secara seimbang agar pembacaan terhadap teks al-Qur’an mendapatkan pemahaman dan manfaat yang berarti untuk kehidupan sekarang, tanpa harus melemparkan teks tersebut jauh dari dirinya dan tidak “terpengaruh” oleh ideologi para mufassir masa lalu.

Jika kita bingkai konsep hermeneutika al-Jabiri ini dengan pembagian hermeneutic menurut Sahiron, maka dapat kita klasifikaiskan sebagai hermeneutic obkjektifis cum subjektifis. Mungkin apa yang menjadi pertanyaan serius adalah sejauh mana penafsir dapat membersihkan al-Qur’an dari bias-bias non-qur’ani? Bagaimana dia menyadari bias tersebut? bisa jadi apa yang dia anggap sebagai murni al-Qur’an sebenarnya bias secara tidak sadar, bukankah demikian? Atau bisa jadi kesadaran yang ia miliki sebenarnya adalah “kesadaran palsu”! Lantas bagaimana membedakan keduanya? Wallahu ‘alamu bih.


Like it? Share with your friends!

2
2 points

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Rafi

Master

Nama saya Muhammad Rafi. Saya berasal dari Kalimantah selatan, lebih tepatny kota Amuntai, sebuah kota yang terkenal dengan itik panggang dan apamnya. Saya dilahirkan di sebuah desa kecil yang bernama Kaludan Besar, pada tanggal 19 Juli 1997 bertepatan dengan 11 Rabiul Awal. Saya adalah anak pertama dari 4 orang bersaudara dari pasangan Abdul Gani Majidi dan Maimunah. Dalam perjalanan pendidikan dan keilmuan, saya memiliki 2 basic, sekolah negeri dan pondok pesantren. Mulai dari MI dan SD, MTs, Aliyah dan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidyah Amuntai. Saat ini say sedang berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Jurusan Ilmu al-Qur'an dan Tafsir sekaligus sebagai Mahas Santri di Pondok Pesantren LSQ ar-Rohmah Bantul.

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals