Wawasan Moderat dalam Ayat Perang: Analisis Moderasi QS. al-Anfal [8]: 65

Islam menghendaki perbedaan mental sabar di samping orang-orang yang berselisih terhadap umat Islam2 min


-1
Sumber gambar: thehuffingtonpost

Setiap agama memiliki doktrin internal yang bersifat esoteris.Mempercayai apapun yang termaktub dalam kitab suci menjadi keharusan setiap individu untuk meneguhkan keyakinannya. Misalnya, keyakinan umat Islam terhadap kesahihan agamanya.

Pandangan ini benar karena dibuktikan dengan teks al-Qur’an dalam QS. ali-Imran [3]: 19 redaksi ayat ini menyatakan“sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam”. Al-Qur’an menyatakan dirinya sebagai kitab yang menyempurnakan kitab agama-agama sebelumnya dalam QS. al-Maidah [5]: 48. QS. as-Shaff [61]: 9 memuat redaksi“Dia memenangkannya di atas segala agama-agama” dengan ayat ini umat Islam menganggap agamanya memiliki kedudukan istimewa di atas agama-agama lain. 

Baca juga: Tafsir Maqashidi Sebagai Basis Moderasi Islam (Abstraksi Pidato Pengukuhan Guru Besar)

Internalisasi doktrin agama setiap individu mutlak dibutuhkan guna mencapai keyakinan sempurna terhadap Tuhannya (takwa). Pada sisi lain, individu beragama merupakan makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan orang lain. Dalam konteks ini, ekspresi keagamaan seseorang membutuhkan model moderasi yang dapat menghadirkan budaya sosial yang seimbang dan interaktif.

Moderasi dalam Ayat Perang

Moderasi beragama merupakan topik yang telah banyak dikaji dan ditulis dengan kecenderungan counter narasi keagamaan eksklusif dan radikal. Namun, penulis tertarik menganalisis nilai-nilai moderasi yang banyak dilewatkan, khususnya dalam ayat-ayat perang seperti firman Allah di bawah ini. 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّبِىُّ حَرِّضِ ٱلْمُؤْمِنِينَ عَلَى ٱلْقِتَالِ ۚ إِن يَكُن مِّنكُمْ عِشْرُونَ صَٰبِرُونَ يَغْلِبُوا۟ مِا۟ئَتَيْنِ ۚ وَإِن يَكُن مِّنكُم مِّا۟ئَةٌ يَغْلِبُوٓا۟ أَلْفًا مِّنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِأَنَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَفْقَهُونَ

Artinya:

“Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin untuk berperang. Jika ada dua puluh orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. Dan jika ada seratus orang yang sabar diantaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti”. QS. al-Anfal [8]: 65.

Baca juga: Apakah Perempuan Perlu Dilibatkan dalam Moderasi Beragama?

Ayat ini memuat redaksi “kobarkanlah semangat orang-orang beriman untuk berperang” jika dipahami secara literal dapat membentuk pemahaman yang reduktif-parsial. Kata al-Qital dalam terjemahan bahasa Inggris berarti to battle[1]ayat ini memuat perintah Allah kepada Nabi Muhammad untuk membangun mental berperang orang-orang beriman. 

Perang tidak dapat dipisah dengan kesulitan (al-masyaqqah), pengorbanan jiwa dan raga, bahaya dan ancaman. Namun, dibalik perintah perang terdapat pahala, harta rampasan (ganimah), status syahid dari Allah. Ayat ini dilanjutkan dengan amil jazim (إن) yang berarti jika, oleh karenanya fi’il mudlari’ pertama adalah syarat sedangkan fi’il mudlari’ kedua sebagai jawab, kedua fi’il mudlari’ ini dihukumi jazim.

Perintah berperang dalam ayat ini dapat diuraikan dengan melihat makna kalimat dan munasabah ayat. Amil jazim menghendaki dua puluh dan seratus orang-orang beriman yang sabar sebagai syarat, sedangkan jawabnya adalah mengalahkan dua ratus dan seribu kekuatan lawan. Jumlah kekuatan kedua belah pihak ditunjukkan dengan bilangan yang timpang. 

Akan tetapi maksud dari jumlah yang dihendaki ayat ini berkaitan dengan ayat sebelumnya QS. al-Anfal [8]: 64 berupa penegasan al-Qur’an kepada nabi dan orang-orang beriman terkait tawakkal–meyakini Allah sebagai pelindung, pembimbing—yang meniscayakan usaha-usaha lain guna mendapat ridla Tuhan. 

Allah menghendaki usaha-usaha hamba-Nya yang didasari keteguhan iman dalam menjalankan perintah-Nya. Secara bersamaan ayat ini mengisyaratkan mentalitas kesabaran orang-orang beriman berupa perintah berperang, sebagaimana redaksi ayat yang memuat narasi keberhasilan atas orang-orang kafir mensyaratkan kesabaran dan kebesaran mental. 

Baca juga: Moderasi Islam: Wajah Akhir Islam Indonesia?

Sementara Quraish Shihab merinci sikap sabar dalam konteks perang sebagaimana ia mengutip pendapat Thabathaba’i, adalah enam sikap para pejuang diantaranya:

1) Mantap, tidak beranjak dari tempat dan tidak ragu; 2) banyak berdzikir; 3) taat kepada Allah dan Rasul; 4) bersatu tidak berbeda pendapat; 5) tidak angkuh dan mencari muka; 6) tidak membendung jalan Allah.[2]

Oleh sebab itu, penulis dapat menarik benang merah terkait moderasi dalam ayat perang dan sikap moderasi pejuang. QS. al-Anfal [8]: 65 menuntun umat Islam menekankan keseimbangan lahir dan batin dalam segala perjuangan, Islam menghendaki perbedaan mental sabar di samping orang-orang yang berselisih terhadap umat Islam. pembedaan ini lebih menekankan orientasi perjuangan dengan kecenderungan eskatologis yang meliputi: makna hidup dan perjuangan hanya untuk Islam.

Refrensi:

[1]“The Quranic Arabic Corpus – Word by Word Grammar, Syntax and Morphology of the Holy Quran,” accessed December 1, 2022, https://corpus.quran.com/wordmorphology.jsp?location=(8:65:6).

[2]Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan, Kesan Dan Keserasian Al-Qur’an vol 5 (Tangerang: Lentera Hati, 2005). h. 460. 

Editor: Ainu Rizqi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

-1

0 Comments

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals