Kurikulum Cinta, Kurikulum Kehidupan

Agama sejati bukan hanya tentang mengenal Tuhan di masjid atau gereja, tetapi tentang menjadikan kasih sebagai etos hidup sehari-hari3 min


Pada 24 Juli 2024, Kementerian Agama RI secara resmi meluncurkan Kurikulum Cinta di Asrama Haji Sudiang, Makassar. Sebuah langkah penting dalam sejarah pendidikan agama nasional yang digagas langsung oleh Menteri Agama, Prof. Nasaruddin Umar. Dalam pidato peluncurannya, Menag menegaskan:

“Kita bermaksud menciptakan suatu hegemoni sosial yang lebih elegan, yang lebih harmoni, dengan menekankan aspek titik temu, bukan perbedaan. Jangan sampai kita mengajarkan agama, tapi tidak sadar menanamkan kebencian kepada yang berbeda.”

Gagasan ini mengandung keberanian intelektual dan kedalaman moral yang tidak main-main. Di tengah derasnya arus pendidikan yang kian teknokratis dan kompetitif, Kurikulum Cinta tampil sebagai oase—sebuah tawaran visioner untuk memulihkan luka-luka batin dalam kehidupan beragama dan berbangsa. Ia tidak hanya bicara tentang apa yang perlu diajarkan di ruang kelas, tetapi tentang bagaimana membangun peradaban yang memuliakan cinta sebagai fondasi relasi antara manusia, Tuhan, dan alam.

Tiga pilar utama yang diusung adalah cinta kepada Tuhan, cinta kepada sesama manusia, dan cinta kepada alam semesta. Ini bukan sekadar slogan, lebih dari itu mencerminkan pandangan dunia (worldview) yang menyatukan iman, kemanusiaan, dan ekologi dalam satu tarikan napas. Ini bukan kurikulum biasa, ini adalah kurikulum kehidupan. Sebuah narasi tanding terhadap pendidikan agama yang kerap berhenti di tataran normatif dan simbolik, namun gagal menyentuh akar batin dan relasi sosial.

Saya jadi teringat dengan tulisan Nurcholish Madjid yang berjudul “Kalam Kekhalifahan Manusia dan Reformasi Bumi”. Dalam tulisan ini, Cak Nur menyampaikan bahwa tugas utama manusia bukanlah sekadar menjalankan ritus, tetapi menjadi khalifah yang membawa keberkahan dan perbaikan di muka bumi. Kekhalifahan, dalam pandangan Cak Nur, bukan legitimasi untuk menguasai, menghegemoni, maupun menjadi pemimpin politik, tetapi mandat spiritual untuk merawat, memperbaiki, dan menyelamatkan kehidupan.

Ungkapan “reformasi bumi” dalam tulisan Cak Nur itu, merupakan sebuah konsep teologis yang menyandingkan iman dengan tanggung jawab ekologis dan sosial. Artinya, spiritualitas tidak boleh lepas dari etika peradaban. Keimanan harus menuntun pada keberpihakan terhadap yang tertindas dan lingkungan yang terluka, yang terkoyak oleh tangan-tangan jahil manusia. Maka, cinta kepada Tuhan tidak bisa dipisahkan dari cinta kepada sesama dan cinta kepada bumi tempat kaki kita saat ini berpijak.

Baca juga: Intoleransi dan Luka Kolektif Kebhinekaan

Di sinilah Kurikulum Cinta mengambil posisi strategisnya. Ia meretas dikotomi palsu antara yang sakral dan yang profan, antara langit dan bumi, antara ibadah dan tindakan sosial. Dalam paradigma ini, menjaga alam adalah bentuk ibadah. Memuliakan sesama tanpa pandang etnis, suku, dan agama, adalah ekspresi dari cinta ilahiah. Dan proses pendidikan, tidak lagi menjadi ruang dogma, tetapi ruang dialog dan penyadaran.

Gagasan ini tentu saja menantang cara lama kita dalam mendidik dan mengajar. Ia menyentil sangat dalam dari paradigma pendidikan yang selama ini terlalu menekankan pada dogma, ketundukan mekanis, dan relasi satu arah antara guru dan murid. Dalam kerangka Kurikulum Cinta, guru, dosen, dan institusi pendidikan dipanggil bukan sekadar menjadi penyampai doktrin, tetapi menjadi fasilitator dialogis dan spiritual yang memanusiakan peserta didik.

Dalam konteks ini, gagasan Paulo Freire menjadi sangat relevan. Dalam Pedagogy of the Oppressed, Freire mengkritik apa yang ia sebut sebagai banking model of education—model pendidikan yang memposisikan siswa sebagai “wadah kosong” yang harus diisi oleh guru. Model ini menurut Freire bukan hanya tidak manusiawi, tapi juga menciptakan ketimpangan kuasa dan membunuh kreativitas serta kesadaran kritis peserta didik.

Sebaliknya, Freire menawarkan pendidikan sebagai proses dialog, sebuah perjumpaan yang setara antara pendidik dan peserta didik, di mana keduanya saling belajar, saling mendengar, dan tumbuh bersama dalam cinta dan penghormatan. Inilah roh dari Kurikulum Cinta: menjadikan pendidikan sebagai ruang dialogis yang membebaskan, bukan mengindoktrinasi.

Lebih dari itu, Freire meletakkan cinta (love) sebagai elemen sentral dalam praksis pendidikan yang transformatif. Ia menyebut, “Dialogue cannot exist, however, in the absence of a profound love for the world and for people.” Maka dalam pendidikan, cinta bukanlah sekadar perasaan lembut, tetapi komitmen radikal untuk memanusiakan manusia, memperjuangkan keadilan, dan membangun relasi yang etis antara sesama.

Dalam konteks pendidikan agama di Indonesia, prinsip ini mengajarkan kepada kita bahwa iman tidak bisa hanya dibentuk dengan ketakutan dan perintah, tetapi melalui perjumpaan dan cinta kasih. Bukan lagi menyuruh anak untuk “takut kepada Tuhan” secara kaku, tapi mengajak mereka mencintai Tuhan dengan cara mencintai sesama manusia, menjaga lingkungan, dan menebar kebaikan.

Hal ini juga sejalan dengan pendekatan Martin Buber dalam I and Thou, yang menekankan pentingnya hubungan “Aku-Engkau” yang otentik dan saling menghormati, bukan relasi “Aku-Itu” yang menempatkan pihak lain sebagai objek. Dalam pendidikan berbasis cinta, murid bukan objek transfer ilmu, tetapi mitra dialog yang dihargai eksistensinya.

Dengan demikian, Kurikulum Cinta menawarkan jalan baru yang lebih membebaskan dan menyembuhkan dalam pendidikan. Sebuah jalan yang tidak menjadikan agama sebagai alat kontrol sosial atau kekuasaan ideologis, tetapi sebagai energi spiritual yang menumbuhkan empati, cinta kasih, dan kesadaran ekologis.

Dalam suasana kebangsaan yang kian rentan terhadap polarisasi, kontestasi identitas keagamaan, dan eksploitasi alam yang masif, Kurikulum Cinta tampil sebagai bentuk praksis dari teologi pembebasan ala Indonesia. Sebuah upaya untuk menjembatani langit dan bumi, iman dan etika, spiritualitas dan keadilan.

Karena pada akhirnya, agama sejati bukan hanya tentang mengenal Tuhan di masjid atau gereja, tetapi tentang menjadikan kasih sebagai etos hidup sehari-hari. Dan jika pendidikan tidak mampu menanamkan itu sejak dini, maka kita telah kehilangan jantung dari agama itu sendiri.

Editor: Emha Wafi
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi đꙂ

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!


Like it? Share with your friends!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Imam Hanafi

Master

Pemikir dan Peneliti Senior di Institute for Southeast Asian Islamic Studies (ISAIS)

One Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals