Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Al-Qur’an

Eksistensi Allah Yang Maha Esa diteguhkan dalam Al-Qur’an dengan ayat yang populer disebut Ayat Kursi


hidayatullah.com

Sila pertama Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa, dalam khazanah Islam disebut tauhid. Kata tauhid seakar dengan kata wahid yang artinya satu dan kata ahad yang artinya esa; tunggal.

Kata wahid merupakan bilangan yang mempunyai deret berikutnya, yakni dua, tiga, empat, dan seterusnya, sedangkan kata ahad tidak berderet, sehingga tak ada duanya. Jadi, tidak berbilang. Tauhid artinya mengesakan Allah swt.

Ayat Al-Qur’an yang secara harfiyah menggunakan lafal ahad tidak lain adalah surat Al-Ikhlash yang artinya sebagai berikut.

Katakanlah, “Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak diperanakkan serta tidak ada apa pun yang seperti Dia.”

Komitmen terhadap keesaan Tuhan menuntut orang beriman untuk tidak menyembah apa atau siapa pun selain Allah. Kredo atas komitmen ini tertera dalam Al-Qur’an surat Al-Kafirun berikut.

Katakanlah, “Hai orang-orang kafir, aku tidak menyembah apa yang kamu sembah. Kamu pun bukan penyembah apa yang aku sembah. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Kamu pun tidak akan menyembah apa yang kusembah. Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Eksistensi Allah Yang Maha Esa diteguhkan dalam Al-Qur’an dengan ayat yang populer disebut Ayat Kursi sebagai berikut.

Allah. Tiada tuhan selain Dia, yang hidup, berdiri sendiri, abadi. Dia tak pernah mengantuk dan tak pernah tidur. Milik-Nya segala yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di hadapan-Nya tanpa izin-Nya? Dia mengetahui segala yang  di hadapan mereka dan di belakang mereka. Mereka tidak mengetahui ilmu Allah sedikit pun selain atas kehendak-Nya. Singgasana-Nya meliputi langit dan bumi. Dia tidak merasa berat memelihara keduanya. Dia Maha Tinggi lagi Maha Agung. (Al-Baqarah 255).

Allah selalu hadir dalam kehidupan manusia dan manusia pun hendaknya mengorientasikan hidup dan matinya untuk Dia semata.

Katakanlah, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidup, dan matiku adalah untuk Allah Tuhan alam semesta. Tiada sekutu baginya. Demikian itulah diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang pertama berserah diri.” (Al-An’am 162-163).

Dialah Allah, Pemilik segala yang di langit maupun di bumi dan Dia mengetahui segalanya.

Allah memantau segala gerak-gerik manusia, yang terang-terangan maupun yang disembunyikan, baik dalam keramaian maupun dalam kesunyian.

Milik Allahlah segala yang di langit dan di bumi. Jika kamu nyatakan apa yang ada dalam hatimu atau kamu sembunyikan niscaya Allah membuat perhitungan dengan kamu. Maka, Allah mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya. Allah berkuasa atas segalanya. (Al-Baqarah 284).

Orang beriman niscaya mendekatkan diri kepada Allah, karena sejatinya Dia Mahadekat kepada hamba-Nya.

Bila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan setiap orang yang berdoa bila berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku, supaya mereka selalu dalam kebenaran. (Al-Baqarah 186).

Tidak ada tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
9
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals