Komunikasi Agama dan Budaya Laku Nenepi

Adakalanya budaya dengan berbagai tradisinya mampu memberikan pengaruh pada proses keberagamaan manusia. Bahwa kodrat manusia tidak bisa lepas dari dimensi sosialnya


Dalam realitas kultural masyarakat Indonesia yang beragam dan majemuk, dengan kekayaan tradisi budaya dan agamanya. berbicara agama dan budaya tentu merupakan sebuah keniscayaan. Pada kondisi tertentu dari agama dengan berbagai ritualnya akan memengaruhi kebudayaan dari sebuah masyarakat. Sehingga tak jarang pada tataran tertentu agama bisa dikatakan memiliki superioritas dari budaya. Akan tetapi, adakalanya budaya dengan berbagai tradisinya juga mampu memberikan pengaruh pada proses keberagamaan manusia. Hal ini tentu terkait dengan sifat kodrati manusia yang tidak lepas dari dimensi sosialnya.

Perbedaan religiusitas antara masyarakat muslim perkotaan dan pedesaan, misalnya memperlihatkan adanya tipologi keberagamaan yang berbeda. Jika muslim perkotaan menjalankan aktivitas agamanya lebih cenderung fleksibel dan sederhana berbeda dengan muslim pedesaan yang masih memegang teguh prinsip, tradisi, serta ritual keagamaan yang tidak jarang diinternalisasikan dengan kebudayaan. Demikian pula masyarakat muslim di Kotagede, Yogyakarta.

Berbicara Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bagi sebagian masyarakat tentu tidak akan pernah habis dibicarakan. Tiap sudutnya pun banyak mengandung cerita. Berbagai kenangan dan lagu pun telah banyak diciptakan untuk mempersepsikan DIY, salah satunya yang paling terkenal adalah lagu Yogyakarta ciptaan Kla Project. Selain sebagai kota pelajar dan wisata, Yogyakarta juga dikenal sebagai kota kebudayaan. Maka tidak heran jika banyak dari tiap sudutnya mengandung nilai-nilai historis.

Nilai-nilai historis ini pun dalam perjalanannya terus dipertahankan dan dilestarikan sebagai bagian dari identitas sebuah masyarakat. Yogyakarta di masa silam dalam sejarahnya merupakan ibukota kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede. Sehingga terdapat banyak peninggalan sejarah yang umumnya terdiri dari kraton, masjid, dan makam. Oleh karena itu, masyarakat Kotagede berupaya dengan teguh menjaga nilai-nilai sakralitas dalam menjalankan ajaran, tradisi atau ritual.

Salah satunya adalah tradisi dan budaya laku nenepi di makam Panembahan Senopati, Kotagede Yogyakarta. Makam Kotagede adalah sebuah makam yang merupakan tempat disemayamkannya Danang Sutawijaya, pendiri kerajaan Mataram Islam yang kemudian bergelar Panembahan Senopati beserta beberapa kerabatnya. Makam Penembahan Senopati sendiri bagi masyarakat Kotagede memiliki arti yang begitu penting. Maka tak heran jika sampai saat ini, makam Penembahan Senopati banyak dikunjungi baik oleh wisatawan lokal maupun internasional. Ada yang yang hanya sekadar mengunjungi sebagai destinasi wisata sejarah, namun ada juga yang melakukan laku nenepi di makam untuk mendapatkan sesuatu.

Bagi orang Jawa, mendatangi tempat-tempat sakral untuk ‘ngalap’ berkah, seperti melakukan laku nenepi di makam Panembahan Senopati. Tidak bisa lepas dari alam pikiran orang Jawa tentang makam dan konsep raja. Makam bagi orang Jawa adalah pengahayatan dari kehidupan setelah kematian. Orang Jawa sebagaimana dikatakan pakar kebudayaan Koentjaraningrat masih percaya bahwa jasad leluhur masih terus menyertai dalam kehidupan dunia dan dapat dimintai pertolongan. Sehingga keberadaan sebuah makam dianggap sebagai tempat keramat, yang sering dikunjungi oleh penziarah untuk memohon doa restu, terutama bila seseorang akan menghadapi tugas yang berat dan untuk memperoleh sesuatu.

Oleh karena itu, kepercayaan akan kontak dengan makam nenek moyang yang sudah meninggal masih terus terjalin, apalagi seseorang yang sudah meninggal itu adalah seseorang wali atau orang yang memiliki kharisma. Hal ini pun senada sebagaimana yang dikatakan oleh Syekh Nawawi al-Banteni di dalam kitab Nashaihul ‘Ibad tentang empat macam motivasi ziarah, yakni untuk mengingat kematian, mendoakan orang yang ada di dalam kubur, untuk tabarruk atau mendapatkan keberkahan, serta untuk memenuhi hak ahli kubur yang diziarahi.

Sedangkan konsep raja bagi orang Jawa memiliki nilai yang sangat tinggi. Raja bagi orang Jawa bukanlah orang sembarangan, melainkan orang pilihan Tuhan yang merupakan wakil Tuhan di muka bumi. Raja sebagai wakil Tuhan di muka bumi terlihat dari adanya gelar yang dipakai, yakni Senopati ing Ngalaga Ngabdurrakhman Sayidin Panatagama Khalifatullah yang artinya disamping sebagai seorang pemimpin rakyat, seorang raja juga mempunyai kedudukan sebagai pemimpin keagamaan sekaligus wakil Tuhan di dunia.

Sehingga seorang raja pun dipercaya memiliki kemampuan adikodrati yang dapat melindungi rakyatnya dari berbagai musibah seperti, bencana alam, penyakit, kelaparan, dan keonaran. Begitu juga dengan raja Mataram pertama, Panembahan Senopati. Meskipun secara jasad sudah mangkat, namun karena semasa hidupnya Panembahan Senopati adalah seorang raja yang dipercaya sebagai wali Allah sehingga tetap dihormati karena dianggap orang yang dekat dengan Tuhan.

Oleh karenanya, masih banyak masyarakat, khususnya masyarakat Kotagede yang menjalankan tradisi laku nenepi di makam Panembahan Senopati. Laku nenepi merupakan laku spiritual yang dikenal dengan laku tarekat dan hakekat untuk mencapai makrifat dengan Tuhan. Bahasa lain dari laku nenepi sendiri adalah semedi (berkontemplasi). Atau berdoa secara kusyuk di makam Panembahan Senopati. Semedi dalam tradisi ritual mistik kejawen merupakan sebuah cara untuk mencapai makrifat tertinggi menuju Tuhan yang diawali dengan: a) mengambil jarak antara dirinya dengan nafsu-nafsu duniawi, dan b) konsentrasi untuk berzikir kepada Allah.

Dalam melakukan laku nenepi seseorang harus mengikuti tata cara metode yang sudah ditetapkan oleh pihak kraton Yogyakarta, yakni dilaksanakan pada hari Minggu, Senin, dan Kamis pada pukul 10.00-13.00 WIB, dan Jumat pada pukul 13.00-16.00 WIB. Adapun dalam pelaksanaannya diawali dengan bersuci, mandi dan berwudhu, memakai pakian khas Jawa berupa surjan (pakaian), lurik (kain), dan blangkon, dan mempersiapkan sesaji atau ubarampe berupa kemenyan, air kelapa muda dan kembang. Kembang yang biasa digunakan terdiri dari kembang liman, kembang telon, dan kembang setaman. Kemudian dilanjutkan dengan berdoa, zikir, dan tahlil

Kembang yang digunakan ini pun bukan tanpa makna, adapun setiap kembang mempunyai arti sendiri. Di sinilah nilai sebuah agama kental dalam tradisi, seperti kembang liman yang melambangkan tentang saudara gaib yang dipercaya masyarakat Jawa sebagai kiblat papat lima pancer. Kiblat papat lima pancer sendiri merupakan aspek tasawuf yang begitu kental di kalangan masyarakat Jawa, yang diartikan secara sederhana sebagai makhluk pendamping hidup manusia yang tak kasat mata dimulai dengan pancer, yakni manusia sebagai dirinya sendiri.

Kemudian papat, yang dalam tradisi Jawa setelah masuknya Islam di tanah Jawa dimaknai sebagai empat malaikat penjaga manusia. Yang digambarkan oleh Jibril (penerus informasi Tuhan untuk kita), Israfil (pembaca buku rencana Tuhan untuk kita), Mikail (pembagi rezeki untuk kita), dan Izrail (penunggu berakhirnya nyawa untuk kita). Sehingga secara keseluruhan dapat dimaknai bahwa kiblat papat lima pancer merupakan hakikat diri sendiri dalam menemukan aku sejati atau Tuhan. Sebagaimana ungkapan masyhur di kalangan ahli tasawuf: “Man Arafa Nafsahu Arafa Rabbahu” (Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya).

Selanjutnya adalah kembang telon, yang melambangkan ungkapan rasa hormat dan syukur kepada arwah leluhur, yakni keharuman nama Panembahan Senopati yang dalam perjuangannya selalu ditunjukkan untuk kepentingan manusia. Nilai-nilai laku nenepi inilah yang kemudian selalu dijaga selain untuk mendoakan orang yang sudah wafat dan ‘ngalap berkah’, lebih jauh juga untuk mengingatkan manusia tentang kematian, sehingga dalam menjalani hidup selalu berbuat kebaikan dan meninggalkan perbuatan buruk. Karena di dalam laku nenepi setiap orang juga mengagungkan nama Tuhan.

Laku nenepi tidak hanya sekadar ritus, tapi lebih mengandung nilai kepercayaan yang mendalam. Karena laku nenepi ini tidak hanya sekadar ritual tradisi namun juga menjadi sistem kebudayaan yang berkomunikasi dengan ritual keagamaan. Di mana nilai-nilai agama yang terkandung di dalam tradisi laku nenepi sangat kental seperti, bertawassul sebagai bagian kepatuhan diri kepada sang Pencipta. Sebagaimana firman Allah Swt: “Hai orang-orang beriman, bertakwalah/patuhlah kepada Allah Swt dan carilah perantara yang dapat mendekatkan kepada Allah Swt dan berjuanglah di jalan Allah Swt, agar kamu mendapat keberuntungan” (Q.S. al-Maidah: 35).

Oleh karena itu, ritual laku nenepi di makam Panembahan Senopati, merupakan sebuah fakta sosio-antropologis manusia dalam keingitahuannya terhadap hal-hal di luar dunia yang nyata. Di mana keingintahuan tersebut tidak dapat dipenuhi melalui filsafat dan ilmu pengetahuan. Melainkan melalui ritus keagamaan.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals