Platform Sosial Media dan Dukungan Netizen terhadap Atlet

Karakteristik sosial media yang bersifat dua arah menjadi wadah yang ampuh dalam meluapkan pandangan yang kadang destruktif


Sumber gambar: Kompas/Totok Wijayanto

Kegiatan keolahragaan baik di tingkat nasional maupun internasional selalu mendapat reaksi positif masyarakat Indonesia. Dukungan yang kuat terhadap tim favorit ataupun individu atlet itu sendiri menjadi fenomena bagi perkembangan keolahragaan di Indonesia. Fanatisme yang tinggi terhadap olahraga di kalangan masyarakat Indonesia ini pun tanpa memandang suku, budaya, dan ras. Antusiasme masyarakat Indonesia terhadap olahraga dapat dilihat ketika ada event besar yang sedang berlangsung.

Hal ini dapat dibuktikan pada pergelaran Asian Games tahun lalu bagaimana masyarakat sangat bergelora dan energik mendukung para atlet. Fenomena ini senada dengan yang dikatakan Mikhail Bakhtin, Jouissance atau kenikmatan adalah sensasi yang lumrah muncul dalam semangat karnaval. Rasa persatuan dan persamaan persepsi dalam mendukung tim dan atlet yang didukung seolah-olah mempersempit ego dan memperluas rasa sportivitas di benak masing-masing pendukung.

Pelampiasan dukungan ini tidak hanya berjalan di dunia nyata. Euforia ini juga diekspresikan melalui platform sosial media seperti facebook, instagram, dan twitter. Dalam hal ini netizen memegang peranan penting terhadap pola di lini massa sosial media. Tidak sedikit akun yang mengatasnamakan fanpage suatu tim atau fanbase atlet. Fanpage ini biasanya bertugas menayangkan pemberitaan tim yang akan bertanding, seperti analisis pertandingan, taktik, dan cuplikan gol.

Tidak jarang pula kehidupan pribadi atlet menjadi sorotan netizen, terutama netizen “garis keras” yang hanya mendukung individu atlet ketimbang tim yang dibelanya. Keunikan dari fanbase ini adalah setiap akun dipegang oleh seorang admin yang bertugas menjawab pertanyaan dari netizen, sehingga terjadi dialog interaktif yang terkadang memancing perdebatan.

Karakter komentar netizen ini jika dikaji secara tipologis dapat dibagai menjadi dua, yaitu netizen yang cenderung mengeluarkan kalimat eufemisme (halus) dan netizen yang cenderung melontarkan kalimat disfemisme (kasar). Netizen yang condong berkomentar eufemisme lebih legowo dalam menyikapi pertandingan suatu tim yang didukung. Jenis komentar ini dapat ditemui dengan ciri-ciri bahasa yang lebih halus dan bijak, komentar motivasional, serta kritik membangun yang bersifat teknis pertandingan.

Sebaliknya, komentar yang menjurus ke disfemisme lebih emosional dan tidak terkontrol. Tidak jarang pula akun pribadi atlet seperti instagram dan twitter menjadi sasaran netizen yang yang kadung emosi. Atlet yang pernah menjadi sasaran emosi fans adalah pasangan ganda putra badminton Indonesia Marcus Fernaldi Gideon dan Kevin Sanjaya Sukamuljo.

Berbagai macam hujatan dilontarkan netizen terhadap pasangan nomor satu dunia ini lantaran prestasinya yang dinilai menurun ditahun 2019 dibandingkan tahun 2017 dan 2018 yang selalu mencatatkan rekor. Tidak hanya Marcus/Kevin, di cabang olahraga yang sama, atlet yang menjadi sasaran amarah netizen adalah sektor tunggal putri badminton yang dinilai stagnan dan tidak memberikan kontribusi positif bagi tim nasional.

Konsekuensi dari unek-unek yang ditulis oleh netizen yang membabi-buta bisa berakibat buruk bagi perkembangan psikologis atlet. Atlet yang tergiring opini negatif dapat berpengaruh terhadap performa di lapangan alih-alih bangkit dari kekalahan. Karakteristik sosial media yang bersifat dua arah menjadi wadah yang ampuh dalam meluapkan pandangan yang kadang destruktif. Hal buruk secara tidak langsung bisa juga menjadi bumerang bagi pengunggah komentar negatif itu sendiri.

Mengutip tulisan dari Tirto.id, ”Saat yang menghampiri hujatan atau kritikan, para pengunggah status curhatan akan menghadapi konflik internal yang semakin besar.” Rasa ketidakpuasan yang jika tidak terkontrol ini dapat berakibat pertikaian di dunia nyata seperti hilangnya rasa sportivitas. Melihat perkembangan keolahragaan di Indonesia yang semakin maju, sudah seharusnya berbanding lurus dengan karakter fans di sosial media.

Kritik terhadap tim atau atlet tentu sangat diperlukan untuk mengetahui kekurangan serta masukan dari sudut pandang fans. Selain itu, memperbanyak pengetahuan yang bersifat edukatif seperti literasi yang berhubungan dengan olahraga akan menambah wawasan fans sehingga dapat berkomentar lebih bijak.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Imam Rahmatullah

Ketua Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Riau-Yogyakarta (HMPR-Y)  2018-2019

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Keolahragaan Universitas Negeri Yogyakarta

"Bertinju dengan buku dan tulisan"

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals