Berebut Wacana Peran

Semua benturan tersebut, pada akhirnya menuntut manusia untuk berani mengambil sikap sekaligus belajar menafisrkan.


savanapost.com

Secara tiba-tiba, pembaca dibuatnya terperangah. Bahkan tanpa sungkan bak menyuruhnya untuk terus menyernyitkan dahi, mengingat apa yang sedang ada di depan mata.

Tak ada jeda waktu yang hendak diumbarnya dengan bebas. Kekosongan yang semena-mena merajalela telah jauh ditendangnya, dan yang tersisa hanyalah segumpal akut rasa curiga. Terus mencoba dengan maksud menikam makna.

Ya, judul buku “Tuhan yang Kesepian” karya Tasirun Sulaiman telah berhasil membuat pembaca tampil gusar. Gelisah dibuatnya bukan main. Bahkan pembaca harus terbelalak berkali-kali untuk memastikan, sembari memintal kata ketidakpercayaan dalam benaknya, “apakah benar judulnya demikian?”.

Sebagian dari mereka yang kreatif, tanpa tergesa-gesa tentu akan berusaha menekan rasa curiganya dengan menafsirkan judul “Tuhan yang Kesepian” penuh kehati-hatian.

Tidak sembrono langsung mencaci ataupun melabeli penulis dengan semangat stigmatif. Prasangkanya justru akan disertai peminjaman pisau analisis yang matang, ala hermeneutika. Entah itu membacanya dengan gagasan Martin Heidegger, Paul Ricoeur, Jurgen Habermas atau mungkin yang lainnya.

Sementara bagi pihak yang sedikit kurang sabar, dengan sangat terburu-buru mungkin akan langsung menghujatnya. Mengimbuh nyinyiran khas terhadap penulisnya. “Ya, bagaimana tidak?, setidaknya judul tersebut telah menjadi bukti konkret atas ketidaksopanannya terhadap Tuhan”. Mungkin demikian ketusnya.

Provokator ulung saya menyebutnya. Judul tersebut berhasil menarik perhatian sekaligus merangkul rasa penasaran yang terus membuncah di ujung ubun. Jika dianalogikan, hampir mirip dengan rasa gelisah seorang perindu tatkala menunggu kabar dari sang kekasih.

Ya, ada benarnya apa yang telah disampaikan oleh penulis essai beken Yusri Fajar dalam Kopdar SPK (Sahabat Pena Kita) II di IAIN Tulungagung beberapa bulan yang lalu. Bahwa judul adalah salah satu persoalan urgen yang menentukan kedudukan tulisan anda. Judul yang provokatif adalah salah satu trik untuk menarik perhatian pembaca. Ya, hal inilah trik yang digunakan oleh Tasirun Sulaiman.

Jelas memang, jikalau hanya sekadar membaca judulnya secara sekilas, tentu akan menimbulkan pretanyaan besar bernada sumbang kontroversial. Sedikit seret untuk langsung memahaminya.  Terlebih lagi penulis sedikitpun tidak memberikan gambaran dasar dan pendefinisian awal tentang kesepian yang seperti apa.

Buku yang tebalnya 210 halaman itu baru memberikan pencerahan tentang kesepian di subbab judul bagian akhir. Lagi-lagi harus diakui, trik ini sangat manjur menggiring pembaca untuk mengkhatamkan buku tersebut.

Meskipun demikian, secara filosofis sejatinya makna “Tuhan yang Kesepian” itu muncul tersuguhkan hampir di setiap subbab judul. Namun hal tersebut hanya akan ditangkap oleh mereka (pembaca) yang sedikit agresif. Sebab penulis membuat alur ibarat melepar batu sembunyi tangan. Menaruh makna secara tersirat.

Persisnya hendak menunggangi cara berpikir ala Qodariyah yang silih bergantian dengan Jabariyah. Pola ini berlaku tatkala manusia dihadapkan dengan problematika hidup sebangsa kebingungan, kegelisahan, ujian, bencana hingga penderitaan hidup yang berkepanjangan.

Dalam posisi inilah manusia berusaha mengambil dan memainkan peran. Terkadang menuntut benar dan salah sesuai apa yang dikehendakinya. Memberikan label penilaian sesuai apa yang menjadi harapan kebahagiaan versinya. Bahkan tanpa sungkan menggeser peran dan kuasa Sang Tuhan. Oleh penulis dianalogikan aliran eksistensialis yang sedang berebut peran dalam setiap peristiwa kejadian.

Perebutan wacana tentang siapa yang berperan ini pula yang sering menjadi alasan klasik penyesatan, kejahatan dan pemusnahan. Dalam konteks ini agama sebagai pijakan. Agama yang kemudian dibenturkan dengan segenap persoalan hidup manusia. Seperti halnya agama dan cinta kasih Tuhan. Agama dan kemanusiaan universal. Agama dan kehidupan politik. Agama dan kesucian jiwa. Serta agama dan sosial-kemasyarakatan.

Semua benturan tersebut, pada akhirnya menuntut manusia untuk berani mengambil sikap sekaligus belajar menafisrkan. Meskipun disatu sisi juga harus diakui, bahwa tidak menutup kemungkinan penafsirannya adalah salah satu jalan yang banyak ditunggangi oleh desainer ulung dalam wujud hegemoni kekuasaan.

Sehingga tidak heran, jika setiap saat manusia selalu ditempatkan pada posisi yang gamang. Latah akan hikmah kejadian. Sebab semuanya hanya akan terpahami oleh mereka (pembaca) yang sadar atas firman Tuhan. Dan tanda-tanda kehidupan hanyalah bermakna teleologis yang bermuara pada Tuhan sang pencipta alam.

Allah swt. berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 118, “Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” Demikian pula orang-orang yang sebelum mereka telah mengatakan seperti ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan Kami kepada kaum yang yakin”.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals