Perbedaan Itu Menyatukan, Bukan Memisahkan

Hubungan harmonis antar anggota masyarakat dan anak bangsa akan melahirkan limpahan rahmat, sedangkan perpecahan mengundang laknat.


Bangsa Indonesia secara jenial telah membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasar Pancasila dengan pilar Undang-Undang Dasar 1945 dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Perjuangan para pendahulu untuk mewujudkan sebuah negara yang merdeka dan berdaulat sungguh patut disyukuri sepanjang masa dengan merawat eksistensinya melalui gotong-royong sebagai perekat solidaritas dalam segala lini kehidupan.

Bangsa Indonesia menghayati dan menyadari bahwa kemajemukan suku, agama, bahasa, dan golongan dalam masyarakat merupakan kehendak Tuhan. Kemajemukan tersebut hendaknya dikelola menjadi kekuatan untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkeadaban. Perbedaan itu menyatukan, bukan memisahkan.

Setiap warga negara Indonesia mempunyai dua dimensi hubungan yang harus selalu dikukuhkan, yakni hubungan vertikal dengan Tuhan, dan hubungan horizontal dengan sesama manusia di masyarakat, melalui karya-karya kemanusiaan, didasari keyakinan bahwa semua manusia adalah saudara.

Salah satu faktor penunjang persaudaraan adalah persamaan. Semakin banyak persamaan, semakin kokoh pula persaudaraan. Persamaan cita-cita membangun sebuah Negara sangat dominan menjadikan orang rela berkorban apa saja demi keluhuran mereka. Sebagai makhluk sosial, manusia merasa tenang dan nyaman berada bersama jenisnya. Islam menganjurkan untuk mencari titik temu sesama anak bangsa.

Untuk membangun solidaritas kebangsaan, masyarakat niscaya bersinergi membangun jiwa kebersamaan berlandasan lima dimensi persaudaraan: (1) persaudaraan sesama manusia; (2) persaudaraan nasab dan perkawinan; (3) persaudaraan suku dan bangsa; (4) persaudaraan sesama pemeluk agama; dan (5) persaudaraan seiman.

Pertama, manusia adalah satu umat dalam ikatan keluarga dunia dan persaudaraan universal. Masing-masing berpartisipasi pada agenda kegiatan yang bermanfaat pada semua golongan manusia. Mereka niscaya hidup bersama di satu bumi ini dengan rukun, damai, dan tolong-menolong satu sama yang lain.

Manusia itu dahulunya satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi untuk menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan… (QS 2:213).

Kedua, persaudaraan nasab memperoleh legitimasi kukuh dalam Al-Quran. Kehidupan keluarga adalah anugerah dan nikmat. Keluarga yang tersusun dari pasangan suami-istri, anak, cucu, dan seterusnya niscaya dikelola dengan sebaik-baiknya, agar selalu mendapat limpahan rahmat Allah swt.

Allah menjadikan buat kamu pasangan-pasangan dari kodratmu sendiri dan Dia menjadikan dari pasangan-pasangan itu anak-anak, laki-laki dan perempuan, dan cucu-cucu dan Dia memberikan kepadamu rezeki yang baik-baik. Adakah mereka masih percaya kepada yang batil dan tidak mensyukuri nikmat Allah? (QS 16:72).

Wahai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu (Adam) dan Allah menciptakan pasangannya (Hawa) dari dirinya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan nama-Nya kamu saling meminta. Dan peliharalah hubungan kekeluargaan. Sungguh, Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (QS 4:1).

Ketiga, persaudaraan suku dan bangsa. Antara persaudaraan iman dan persaudaraan nasional-kebangsaan bukan persoalan alternatif, ini atau itu, tetapi sekaligus. Seorang Muslim yang baik menjadi nasionalis dengan paham kebangsaan yang diletakkan dalam kerangka kemanusiaan universal. Ketika Muslim melaksanakan ajaran agamanya, maka ia seorang nasionalis yang baik yang menguntungkan bangsanya.

Hai manusia, Kami ciptakan kamu dari satu pasang laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu beberapa bangsa dan suku bangsa, supaya kamu saling mengenal, bukan supaya saling membenci, bermusuhan. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu dalam pandangan Allah ialah yang paling bertakwa. Allah Mahatahu, Maha Mengenal (QS 49:13).

Keempat, persaudaraan sesama pemeluk agama. Iman adalah soal keyakinan pribadi seseorang. Pengakuan agama-agama lain merupakan ikrar hak setiap agama berada dalam suatu hubungan sosial yang saling menghargai, membantu, dan menghormati. Bersaudara dalam keragaman untuk bekerja sama dalam progam-program amaliyah kemasyarakatan.

Kelima, persaudaraan seiman-seagama.Persaudaraan demikian merupakan idaman terbesar umat Islam. Persaudaraan dalam Islam berorientasi pada keberagamaan, tolong-menolong dan bimbingan hidup bersama. Orang-orang mukmin sesungguhnya bersaudara; maka rukunkanlah kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah supya kamu mendapat rahmat (QS 49:10).

Rasulullah saw bersabda, “Mukmin yang satu dengan mukmin yang lain ibarat bangunan yang saling mengukuhkan”; “Mukmin yang satu dengan mukmin yang lain ibarat satu tubuh; bila salah satu anggota tubuh menderita, maka anggota tubuh yang lain ikut mengalami demam dan berjaga sepanjang malam hari.”

Hubungan harmonis antar anggota masyarakat dan anak bangsa akan melahirkan limpahan rahmat, sedangkan perpecahan mengundang laknat. Ukhuwah berorientasi pada maslahat bersama melalui tolong-menolong, saling mengingatkan, dan keteladanan.

Di antara resep hidup rukun dan damai ialah sikap lemah lebut, menghindari buruk sangka, dan memperolok satu sama lain.

Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal. (QS 3:159).

Nabi Muhammad saw senantiasa akrab terhadap kaum mukminin, memaafkan kesalahan, dan menutupi kekurangan mereka. Allah swt menjadikannya panutan para pemimpin sepeninggalnya. Suatu hari Nabi saw bertanya, “Maukah kalian kuberitahu siapa orang yang paling kucintai?” “Tentu, ya Rasul,” jawab mereka. Beliau menegaskan, “Orang yang paling baik akhlaknya.” (HR Ahmad).

Tidak ada kemenangan, jika tidak ada kekuatan
Tidak ada kekuatan, jika tidak ada persatuan
Tidak ada persatuan, jika tidak ada keutamaan
Tidak ada keutamaan, jika tidak ada kesucian jiwa.

(Soedirman)

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
6
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals