Quo Vadis Kemerdekaan?

Kalau seperti itu, merdeka seperti apa yang mau kita rayakan?


kemerdekaan
Ilustrasi kebebasan dan kemerdekaan (Sumber: Mediaumat.news)

Tahun 2020 rasa-rasanya melaju dengan sangat cepat. Dengan liukannya yang curam dan tikungan tajamnya, tak terasa kini telah memasuki purnama kedelapan. Tentu bulan kedelapan ini adalah bulan yang ditunggu-tunggu oleh jutaan rakyat Indonesia pada 75 tahun silam.

Ya, tepat 17 Agustus 1945 silam, Bung Karno dan Bung Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Gegap-gempita mewarnai wajah-wajah lesu rakyat Indonesia yang telah membayar kemerdekaan dengan darah dan air mata. Setelah berabad-abad hidup di bawah ketiak penjajah, kini mereka bebas; lepas dari cengkeraman yang tak tahu makna keadilan dan kemanusiaan.

Euforia kemerdekaan sampai detik ini masih disajikan secara rutin saat memasuki bulan Agustus. Buktinya, dapat kita tengok di setiap perkampungan. Bendera merah putih dan umbul-umbul menghiasi seluruh pelataran warga. Setidaknya ada sedikit penghias yang menjadikan pemandangan puspawarna, dengan adanya bendera merah putih dan umbul-umbul yang bertebaran hampir di seluruh rumah warga. Meskipun sebagian benderanya nampak lusuh, semoga rasa nasionalismenya tak turut lusuh. Tak terurus.

Selain merayakan euforia kemerdekaan dengan memasang bendera dan umbul-umbul, kegiatan rutin dalam merayakan kemerdekaan itu ialah upacara tahunan yang diselenggarakan tepat pada 17 Agustus oleh sekolah-sekolah, pegawai negeri, lembaga pemerintah, sampai ke istana presiden.

Namun, sadarkah kita, saat upacara bendera 17 Agustus tersebut, apakah kita turut menghayati proses dikibarkannya Sang Saka Merah Putih? Yang dulunya harus dikibarkan di atas genangan darah, keringat, air mata dan nyawa para pejuang. Selain itu, pertanyaan yang nampaknya sungguh seksi adalah: apakah kita telah benar-benar merdeka?

Dua pertanyaan di atas, beberapa hari ini terasa menyesaki ruang dalam otak saya. Apakah betul upacara bendera pada 17 Agustus tersebut benar-benar dihayati? Saya rasa tidak utuh dan menyeluruh.

Baca Juga: Quo Vadis Politik Kriminal RUU-Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS)

Pengalaman saya pribadi, sejak di sekolah dulu setiap mengikuti upacara bendera mingguan, yang ada hanya merasakan panas dan mendengarkan keluh kesah dari teman-teman yang merasa capek. Sungguh miris.

Selama ini, perayaan upacara bendera juga terasa jauh dari kata sakral. Dirayakan di bawah terik matahari yang menusuk kulit. Dilaksanakan hanya sebagai formalitas dan pelaksanaan program kerja pengurus OSIS. Minim penghayatan serta minus keseriusan.

Mungkin bagi sebagian orang yang benar-benar menghayati, hal itu sungguh terasa menyayat hati. Sebab lebih panas lagi bara api perjuangan para pejuang kita dahulu. Tapi, yang namanya manusia, sudah pasti tak jauh dari kata-kata “sambat”. Itulah yang menyebabkan kesakralan upacara bendera semakin kurang merasuk dalam hati.

Pelaksanaan yang terus menerus seperti itu, menurut saya, hanya menjadikan upacara ajang formalitas belaka. Sangat sulit dirasakan makna simbolik dan semangat nasionalisme yang sesungguhnya terdapat pada esensi sebuah upacara bendera.

Selanjutnya, apakah kita sudah benar-benar merdeka? Pertanyaan ini nampaknya pertanyaan purba yang tak lekang dimakan waktu. Sedari dulu, saya sering mendengarkan pertanyaan serupa. Tapi baru kali ini saya mempertanyakan ulang dengan kesadaran penuh dari hati saya.

Saya rasa, kita kini memang sudah merdeka. Tapi, jika meminjam perkataan Jean-Paul Sartre, kemerdekaan sesungguhnya adalah: “merdeka untuk”, bukan hanya “merdeka dari”. Setelah 75 tahun teks proklamasi dibacakan oleh orator ulung kita; Bung Karno, nampaknya proses memaknai kemerdekaan masih beristirahat di persimpangan jalan.

Kita merdeka hanya sekadar “merdeka dari” cengkraman penjajah. Itupun secara fisik. Secara pemikiran dan jati diri, kita masih terperdaya oleh budaya-budaya dari luar Indonesia. Setelah masa orde lama purna, kita seperti menjadi “robot” yang telah diatur oleh sesuatu di luar diri kita (baca: Indonesia).

Baca Juga: Korupsi: Menguji Integritas Pemerintah dan Aparat Penegak Hukum

Sebagian kecil contohnya ialah proses impor yang sampai sekarang masih leluasa di ranah perdagangan. Padahal, segala sumber daya alam telah tersedia di tanah air kita ini jika benar-benar kita kelola dengan baik.

Pada tahapan merdeka ini, capaian menuju “merdeka untuk” sepertinya masih sangat jauh di cakrawala. Kita masih sulit untuk menggapainya. Kenyataan seperti ini harus kita sampaikan secara jujur, bahwa kemerdekaan yang sejati masih jauh dari kata ideal.

Pasca-reformasi 1998, nafas segar yang digadang-gadang oleh pemuja demokrasi telah terbuka tabirnya. Tapi, apakah seluruh lapisan masyarakat benar-benar merasakan demokrasi, yang sifatnya, “merdeka untuk” mengkritik telah terlaksana sepenuhnya? Tidak, saya rasa. Hak kemerdekaan yang berupa mengkritik nampaknya belum bisa terwujud sempurna.

Fenomena-fenomena berpendapat di khalayak umum pun sepertinya sekadar terkungkung di kerongkongan masing-masing. Banyak yang mencoba berpendapat di sosial media, seketika, bermunculanlah jiwa-jiwa “sok” intelek dan budaya menghakimi yang tanpa dasar. Kalau seperti itu, merdeka seperti apa yang mau kita rayakan?

Kita telah kehilangan jati diri kita. Sangat mudah terbentur dan dibenturkan, tapi tak kunjung terbentuk. Jika hendak ditelusuri lebih dalam, fenomena seperti itu terjadi karena masih minimnya budaya membaca.

Tak hanya itu, masyarakat kita saat ini juga tak ubahnya seperti bola. Mudah digiring oleh opini-opini yang tak memiliki nilai lebih untuk kebaikan masyarakat ke depannya

Pada bulan Agustus seperti ini, sudah selayaknya kita refleksikan kembali makna kemerdekaan dan esensi-esensi yang ada pada upacara bendera. Perlu kita sadari pula, bahwa sifat kemerdekaan masih stagnan pada keadaan merdeka dari penjajah, bukan merdeka untuk melakukan kebebasan kita sebagai manusia yang beradab dan berkemanusiaan. Apalah arti merdeka jika masih saja menjadi budak. Budak harapan sekalipun.[MJ]
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jadi, bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannyadi sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.iddi sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ainu Rizqi

Master

Tim Redaksi Artikula.id | Alumni Pondok Pesantren Darul 'Ulum. Mahasiswa jurusan Akidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Kalijaga

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals