Ibrah yang Dibawa Perang Badar

Perang Badar memberikan ibrah bahwa perang tersebut dapat dimenangkan oleh kaum muslimin bukan semata tanpa usaha.


Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan umatnya menjumpai dua peperangan yang terjadi pada bulan Ramadhan, yaitu perang Badar danFathu Makkah (Pembebasan Mekkah).

Perang Badar sendiri terjadi pada tahun pertama umat Islam diwajibkan untuk menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Mengenai hari atau tanggal terjadinya Perang Badar, para ulama berbeda pendapat.

Sebagian ulama berpendapat,“kaanat waq’atu badr yauma tis’ah ‘asyar min syahri ramadhaan”. Perang Badar terjadi pada hari ke sembilan di bulan Ramadhan (Imam Abu Ja’far bin Jarir al-Thabari, Tarikh al-Thabari: Tarikh al-Umam wa al-Muluk, 2011, juz 2, h. 19).

Dalam riwayat lain dikatakan,“anna waq’ata badr kaanat yaumal jumu’ah shabiihah sab’a ‘asyarata min syahri ramadhaan”.PerangBadar terjadi di hari Jumat pagi, (hari) ketujuh belas dari bulan Ramadhan (Imam Abu ‘Umar Yusuf al-Qurthubi, al-Isti’aab fii Ma’rifah al-Ashhaab, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiyyah, 2010, juz 1, h. 137).

Perang Badar yang terjadi pada tahun 2 H dimenangkan oleh pasukan kaum muslimin yang berjumlah kurang lebih 313 orang melawan pasukan Quraisy yang berjumlah kurang lebih 1.000 orang. Jumlah ini merupakan jumlah yang tidak seimbang. Lalu, mengapa perang Badar ini dapat dimenangkan oleh kaum muslimin?

Tentunya tak lain adalah dari pertolongan Allah subhanahu wa ta’ala, namun secara al-Ahkam al-Kauniyah, Nabi Muhammad dan kaum muslimin memang pantas untuk menang.Jika dilihat dari segi jumlah pasukan, kaum muslimin memang kalah dari kaum Quraisy, tetapi mari melihat dari segi yang lain.

Pertama, jarak antara Madinah dengan Badar yang lebih pendek dari jarak Mekkah dengan Badar. Jarak yang ditempuh kaum muslimin untuk menuju area peperangan lebih pendek yang menyebabkan tidak terlalu banyak tenaga yang terkuras selama perjalanan.

Kedua, saat kaum muslimin menuju Badar dari Madinah dan kaum Quraisy juga menuju Badar dari Mekkah di perjalanan mereka masing-masing turun hujan, namun hujan yang turun memiliki intensitas yang berbeda.

Hujan yang turun saat perjalanan kaum muslimin menuju Badar adalah hujan yang tidak terlalu deras, hujan ini cukup untuk memeberikan kesejukan dan membuat pasir menjadi padat sehingga kaki tidak mudah terperosok. Sedangkan hujan yang terjadi di perjalanan kaum Quraisy adalah hujan yang sangat deras. Hujan yang mengganggu perjalanan mereka ke lokasi peperangan.

Ketiga, Nabi Muhammad dan kaum muslimin lebih dulu sampai di lokasi peperangan dan dilanjutkan dengan mengatur strategi. Saat Nabi Muhammad memerintahkan pasukan kaum  muslimin untuk mendiami suatu area di lokasi peperangan, salah satu sahabat ada yang bertanya “Yaa Rasulullah, apakah ini wahyu atau strategi perang?” Rasulullah menjawab, “Strategi perang”.

Lalu sahabat tersebut memberikan pendapatnya, “Yaa Rasulullah, jika ini adalah strategi perang, menurut saya lebih baik kita memposisikan diri di sana, dekat dengan sumber air kaum kafir Quraisy”.

Nabi Muhammad menyetujui pendapat salah satu sahabat tersebut dan memerintahkan pasukan untuk mengubur semua sumur air di lokasi agar kaum Quraisy tidak mendapatkan air.

Keempat, pada malam sebelum peperangan terjadi, kaum muslimin ditidurkan dengan pulas oleh Allah, sementara di sisi lain, kaum Quraisy pada malam tersebut tidak dapat tidur dan khawatir dengan peperangan yang akan terjadi pada hari esok.

Pada malam tersebut, Nabi Muhammad berdoa kepada Allah, yang kurang lebih seperti ini, “Yaa Allah, bantulah kami, jika esok Engkau tidak memenangkan kami dalam pertempuran maka tidak ada lagi yang akan menyembah-Mu”.

Nabi Muhammad berdoa seperti ini karena beliau merupakan Nabi terakhir yang diutus oleh Allah untuk menyebarkan agama Islam, jika beliau dan pasukan kalah dalam peperangan, maka tidak ada lagi yang menyebarkan agama Islam.

Kelima, saat terjadi peperangan, semua pasukan kaum muslimin tunduk atas apa yang diperintahkan oleh Nabi, menjalankan tugas dengan baik dan mematuhi strategi awal yang telah dirancang.

Perang Badar memberikan ibrah bahwa perang tersebut dapat dimenangkan oleh kaum muslimin bukan semata tanpa adanya usaha, melainkan sebaliknya, yaitu adanya usaha keras yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dan pasukannya beserta pertolongan dari Allahsubhanahu  wa ta’ala.

Untuk mencapai sesuatu tidak dapat melalui cara yang instan tetapi diperlukan cara dan strategi yang tepat dan menerima nasihat dari orang di sekitar.Hal ini dicontohkan oleh Nabi Muhammad saat ada sahabat yang memberikan sarannya mengenai lokasi yang akan mereka diami selama peperangan.

Selanjutnya, perang ini mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang disiplin karena kaum muslimin yang saat itu mengikuti peperangan adalah orang-orang yang patuh terhadap perintah Nabi serta disiplin dengan menjalankan tugasnya sebaik mungkin.

Dan yang terakhir adalah tidak meremehkan the power of du’a atau kekuatan doa. Nabi Muhammad senantiasa bermunajat kepada Allah agar selalu dimudahkan urusannya termasuk dalam perang Badar. Begitu juga jika ingin mencapai sesuatu, maka rajinlah beribadah dan berdoa memohon pertolongan dari Allahsubhanahu wa ta’ala.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Amal Hayati

Seorang mahasiswi UIN Sunan Kalijaga yang sedang belajar untuk mengembangkan potensi menulis dalam dirinya.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Tak Berkategori

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals