Sang Tukang

bagi seorang tukang, menganggur bisa jadi sama lamanya dengan bekerja. Bahwa rumahnya jauh lebih buruk, lebih kecil, lebih murah daripada rumah yang pernah dibuatnya


gambar: manaberita

Sudah 3 minggu ini tukang bekerja di rumah. 2 atau 3 hari ini tentu selesai. Jadilah rumah ini punya garasi. Awalnya rumah ini hanyalah rumah biasa tipe 36 dengan ukuran tanah 120 m2. Sebelum menikah bahkan sebelum punya pacar aku sudah mengambil kredit rumah melalui fasilitas kantor. Sebuah kemudahan untuk PNS sepertiku. Tanpa bunga dengan angsuran 550 ribu perbulan selama 15 tahun. Flat.

Setelah menikah, sebagaimana kebanyakan pasangan baru, tentu menginginkan ‘teritori’ tersendiri bebas dari bayang-bayang orang tua (bagiku mertua). Jadi sebulan setelah pesta, kami pindah ke rumah tersebut. Sebuah rumah mungil namun tetap terasa lapang karena besarnya cinta kami satu sama lain (lebay.com) dan mungkin juga karena kami belum punya anak.

Oh iya, ada yang kelupaan..

Sebulan sebelum menikah  rumah tersebut sudah kami pugar (perhatikan pemilihan kata ‘kami). Aku dan (calon) istri menambah ruang dapur dan sebuah kamar lagi. Rumah asli hanya terdiri dari sebuah kamar tanpa dapur. Karena ukuran tanahnya hanya 120 m2, penambahan kamar dan dapur ini telah menghabiskan seluruh tanah sampai ke belakang. Untuk biaya penambahan ruang ini aku meminjam ke koperasi kantor 3 juta, istriku meminjam ke koperasi kantornya 10 juta. Aku emang ‘pintar’ kan? Hehe.. .

Tukang yang mengerjakan rumahku saat itu sama dengan yang mengerjakan penambahan garasi saat ini. Dia adalah mantan anak buah Bapakku yang juga adalah tukang bangunan. Bapak juga yang merekomendasikannya.

“Kerjanya rapi, orangnya jujur” demikian Bapak membuat referensi.

Jadilah dia yang mengerjakan rumahku. Dari hasil pekerjaan penambahan dapur dan kamar yang terdahulu, referensi Bapak tidak meleset. Tukang itu (aku memanggilnya Mas. Mas Yanto) memang jujur dan kerjanya rapi.

“Halo.. Mas? Lagi dimana” aku pede saja dia masih menyimpan namaku di HPnya. Ternyata masih.

“Di rumah To” Dia memanggilku To. Namaku Anto. Nama kami mirip.

“Lagi ada kerja Mas?”

“Ini lagi bikin kamar mandi di rumah Pak RT. Kenapa?”

“Ini.. saya mau nambah ruang Mas. Kapan selesainya Mas?”

“Minggu mungkin udah kelar”

Hari Senin sore akhirnya kami sepakati sebagai hari di mana dia akan datang kerumah. Melihat rencana bangunan garasi. Juga runding harga.

Perlu juga kuceritakan kenapa aku mau bikin garasi. Baru beli mobil. Itu sudah jelas. Namun aku juga ingin menceritakan kejadian pembelian mobil ini.

Aku dan istri dua-duanya kerja. Aku PNS dia juga. Aku III/b dia III/a. Dengan satu dan lain cara akhirnya kami bisa mengumpulkan uang sebesar 10 juta di usia pernikahan kami yang ke dua. Mengingat bahwa uang tersebut kami dapatkan dalam dua tahun, aku pikir kami cukup hebat. Sekaligus cukup berani mengambil resiko. Hehe.. Cukup hebat: karena di luar 10 juta sudah ada pengeluaran 20 juta lainnya. 10 juta untuk kuliahku 2 semester. Yang 10 lagi ikut investasi bisnis travel milik kawan di Jogja. Total 30 juta. Dalam 2 tahun. Oleh dua orang PNS golongan III. Cukup berani: karena (lain kali saja kuceritakan).

Dengan 10 juta tentu tidak ada mobil yang bisa kami beli. Dengan pertimbangan bahwa berdasarkan tahun-tahun sebelumnya kami akan punya cukup uang untuk membayar cicilan, jadilah istriku meminjam di Bank. 30 juta. Karena gajinya masih utuh. Berbeda dengan gajiku yang udah dipotong untuk bayar cicilan rumah. (Pinjaman 10 juta dari koperasi kantornya udah lunas dalam 18 bulan).

Rencana beli mobil ini kami ceritakan kepada mertua. Kebetulan sekali mertuaku punya dua mobil. Yang satu masih kredit. Beliau rupanya juga mau menjual salah satu mobilnya. Jadilah kami membeli mobilnya yang sudah lunas. Harganya 50 juta (termasuk murah jika dibandingkan dengan harga pasaran yang sekitar 60 juta). Bayar 40 hutang 10. Makasih Pak, Buk.

***

Senin itu Mas Yanto tidak jadi datang. Anaknya yang bungsu (anaknya 3 orang) sakit dan rewel terus. Janji kami perbarui. Selasa pagi.

“Mungkin nanti habis juga semuanya sekitar 10 juta” demikian Mas Yanto menyampaikan analisis biaya pembangunan garasi. Dia minta upah 3,75 juta. Jadi beli bahan sekitar 6 juta. 10 juta.

“Bahan bangunan sekarang pada naik” demikian tambahnya seolah paham isi otakku.

“Upahnya gak bisa di tekan lagi mas?” Tawarku. Betapa jahatnya aku. Baru kemudian aku menyadarinya.

Dia tersenyum. Tidak menjawab. Aku tidak paham.

“Kasih harga tetangga lah Mas” Dengan tanpa hati aku ‘menekan’ lagi. Dia memang tetanggaku ketika aku masih tinggal dengan orang tua. Dengan tanpa malu aku mengingatkannya akan hal itu. Sungguh aku menyesali dialog ini pernah terjadi.

Dia tersenyum lagi. Aku masih tidak paham. Belakangan kejadian ini mengingatkanku pada sebuah lagu lawas ‘Widuri’, “kumenyesali diri tak tahu apakah arti senyummu…”.

“Gimana ya..” tanyanya seolah berguman.

“3 aja bisa gak Mas?” aku ‘maju terus’.

“Tambah lah sedikit To”

“3 ajalah Mas”

“Ya.. udahlah tidak apa” katanya. Aku senang.

750 ribuku tidak jadi keluar. Aku lupa bahwa saat ini sangat banyak orang yang terpaksa harus ‘menelan’ dari pada tidak dapat sama sekali. Aku lupa bahwa dengan gaya dan kondisi kerjaku dan istriku yang sekarang, 750 ribu bukanlah jumlah yang sangat besar. Aku lupa bahwa 750 ribu bagi seorang tukang bangunan adalah jumlah yang sangat besar. Aku lupa bahwa do’a orang yang teraniaya sangatlah manjur. Aku lupa bahwa baru saja aku menganiaya orang.

Aku puas seolah menang dari sebuah perundingan besar. Mirip Rizal Malarangeng yang merasa menang ketika negosiasi tentang sebuah konsesi minyak bumi di Cepu dengan sebuah perusahaan asing. “Kemenangan mimpi” Komentar Amin Rais. Mirip Bung Hatta yang merasa menang di KMB ketika menjadikan Republik menjadi RIS. Kemenangan ‘seolah-olah’. Seolah-olah menang.

“Kapan bisa mulai kerja Mas?”

“Kamis lah To, besok mau mbawa Yudi ke puskesmas” Yudi nama anaknya yang bungsu. Tak kutanyakan apa sakitnya. Hanya saja saat itu aku berpikir tentu sakit yang tidak berat seperti pilek atau batuk atau demam atau sakit ringan semacam itu. Karena kalau sakitnya agak parah tentu tidak dibawa ke Puskesmas.

Belakangan aku tahu bahwa aku salah. Dua kesalahan. Kesalahan pertama sakitnya tidak ringan. Kesalahan kedua tidak hanya orang yang sakit ringan yang ke puskesmas. Dalam banyak peristiwa bukan ringan atau beratnya sebuah penyakit yang membawa orang ke Puskesmas, melainkan biaya yang jadi pertimbangan.

“OK. Hari ini dan besok saya beli bahan-bahannya dulu”

***

Kamis itu Mas Yanto mulai mengerjakan garasi rumahku. Dia dibantu oleh dua orang tenaga lain. Sebutannya pembantu. Pembantu tukang. Yang satu adalah adik Mas Yanto sendiri. Namanya Misman. Pangilannya Bagong. Aku memanggilnya Mas Bagong. Yang seorang lagi aku tidak pernah kenal sebelumnya. Tapi Mas Yanto dan Mas Bagong memanggilnya Cu, singkatan dari Ocu. Abang dalam bahasa Kampar. Namanya Umar. Aku memanggilnya Abang.

Seperti telah disepakati sebelumnya kunci rumah aku letakkan di sudut halaman di bawah bunga dekat septic tank. Jadi ketika aku berangkat kerja aku tidak perlu lagi kembali menunggu mereka datang. Jam kantorku setengah delapan, tapi aku berangkat dari rumah pukul 6, paling lambat setengah tujuh, karena aku mengantar istriku terlebih dahulu ke Simpang Panam. Tempat di mana ada angkutan umum yang akan membawanya ke Bangkinang. Kantornya. Dari Panam aku langsung ke kantor.

Selama Mas Yanto kerja di rumahku aku selalu pulang di siang hari. Kadang kembali ke kantor, lebih sering tidak sih. Hehe..

Setiap aku pulang ke rumah sekitar jam 12 atau jam 1, Mas Yanto pasti sedang makan siang. Kadang aku datang dia baru mulai makan, kadang baru saja selesai makan. Sedang merokok. Selalu sendirian.

“Mas Bangong dan Bang Umar kemana Mas?” Sekali pernah kutanyakan.

“Mereka makan di rumah” Rumah mereka memang tidak terlalu jauh dari rumahku. Lagipula mereka masing-masing punya sepeda motor. Mas Bagong naik sebuah motor cina merek ‘BEIJING’, Bang Umar naik ‘Mio’-sepeda motor matic keluaran Yamaha. Mas Yanto sendiri naik ‘Smash’. Kadang boncengan dengan Mas Bagong.

Sekali itu saja kubertanya. Belakangan aku tahu. Bahwa siang begini di rumahnya tidak ada siapa-siapa. Anaknya yang pertama sekolah. SD kelas 2. Yang tengah dan yang kecil ikut Ibunya mencuci dari rumah ke rumah. Jadi daripada pulang dan makan siang di rumah, Mas Yanto membawa makan saja saat berangkat pagi. Toh istrinya juga tidak sempat lagi masak siang. Masih mencuci di rumah orang.

Kadang aku pulang dalam keadaan sudah makan. Bisa jadi ada acara makan siang di kantor, atau aku singgah dulu ke rumah makan. Kadang aku beli nasi bungkus dan makan di rumah. Kadang aku makan bareng dengan Mas Yanto Kadang sendirian karena dia sudah makan. Lauk kesukaanku adalah ikan bakar. Ikan Gurame atau Ikan mas yang tidak terlalu besar. Bisa juga ikan nila yang sudah agak besar, diselingi dengan ayam goreng bumbu. 10 sampai 15 ribu sebungkus.

Kalau kami makan bersama (dengan makanan masing-masing) aku bisa tahu sambal dan lauk yang dibawa mas Yanto. Kadang dia membawa ikan goreng pakai cabe dengan tumis kangkung. Kadang telur bulat goreng dengan rebusan pucuk ubi. Kadang ikan teri dengan tumis bayam. Kadang telur saja yang di-dadar. Kadang ikan asin ‘bulu ayam’ dengan lalap timun. Pernah sekali hanya makan nasi dengan tempe goreng tepung dan sekali dengan nasi plus mie rebus yang sudah kembang karena menunggu dari pagi.

Mas Yanto kalau makan sangat lahap. Seolah makanan yang sedang dinikmatinya adalah hidang lezat dari hotel berbintang, tempat kantorku kadang bikin acara. Dia makan tanpa banyak bicara. Minum sedikit di awal makan. Lalu minum lagi setelah selesai makan. Dia juga tidak pernah menyisakan makanannya. Kalau dia makan ikan, maka betul-betul tulangnya saja yang tersisa. Kepala dan tulang lunak lainnya habis. Berbeda denganku. Aku makan tidak pernah lahap. Tidak pernah habis, walaupun sambalnya enak. Mungkin karena ini badanku selalu kurus. Tapi mungkin juga karena sebab lain.

Pekerjaan membuat garasi sama seperti pekerjaan pembangunan lainnya, dimulai dari menggali pondasi. Karena rumah ini bukan rumah bertingkat, pondasinya tidak perlu terlalu dalam. Sekitar 30 cm sudah cukup. Pekerjaan menggali pondasi ini tidak terlalu berat. Karena bangunan lama sudah ada, pondasi baru berbentuk letter ‘L’. samping dan depan saja. Walaupun tidak terlalu berat (bagi mereka: bukan bagiku) namun tetap saja menguras keringat. Apalagi kota Pekanbaru sangat panas.

Setelah menggali pondasi, pekerjaan berikutnya adalah memasang batu, lalu membuat balok cor di atas pasangan batu. Memasang batu untuk dinding. Membuat balok cor lagi. Plsater. Cor lantai. Pasang kuda-kuda. Atap. Les plang. Loteng. Semuanya pekerjaan berat. Setiap 2 atau 3 jam mereka istirahat. Mengambil napas, minum dan rokok sebatang.

Berbeda dengan Mas Bagong dan Ocu yang ceria yang masih sempat bikin humor di tengah lelahnya kerja, Mas Yanto pendiam. Komentarnya hanya sekali-sekali diselingi senyum tipis.

kumenyesali diri tak tahu apakah arti senyummu…”

Dalam hal upah, Mas Yanto juga tidak neko-neko. Setiap minggu dia meminta uang sebesar 1 juta. Kuhitung-hitung kalau pekerjaan ini selesai dalam waktu 3 minggu, maka setiap mereka bergaji 47 ribu perhari. Tapi tiga minggu terlalu lama. Kalau selesai dalam waktu 2 minggu bergaji 71 ribu perhari. Kalau seandainya setiap pembantu dapat 50 ribu saja maka Mas yanto bisa bergaji sekitar 114 ribu perhari. Cukup besar. Lebih dari 3 juta sebulan. Betapa cepatnya aku menghitung rezeki orang. Betapa lambatnya aku menyadari bahwa anaknya sekolah. Bahwa bagi seorang tukang, menganggur bisa jadi sama lamanya dengan bekerja. Bahwa rumahnya jauh lebih buruk, lebih kecil, lebih murah daripada rumah yang pernah dibuatnya.

Tapi ini sudah lebih dari 2 minggu dan pekerjaan belum selesai. Aku mulai agak risau. Bukan karena memikirkan upah mereka yang akhirnya menjadi kecil. Tapi memikirkan bahwa sudah hampir 3 minggu ini mobilku ‘tidur’ di halaman rumah.

***

Hari ini Jum’at, hari ke 16 Mas Yanto kerja. Masih pagi. Aku baru saja tiba di kantor ketika HPku berbunyi. SMS.

“To, bisa pinjam dulu uang 700 ribu?” (Hmm.. lebih baik kutelepon saja)

“Kenapa Mas?”

“Yudi sakit lagi” Aku sudah hampir lupa kalau anaknya yang bernama Yudi sakit – lagi.

“Mas sekarang di mana?”

Rupanya dia di Puskesmas. Jadi hari ini tidak kerja.

“Bagong dan Ocu saja yang kerja” Jelasnya tanpa kuminta.

“Tidak apa Mas. Jadi kita ketemu di mana?”

Akhirnya kami janjian ketemu di ATM di Depan PTPN V. Aku duluan yang tiba. Aku ambil uang 500 ribu, kutambah dengan uang dari dompet menggenapkan jadi 700 ribu. Dia datang tak lama kemudian. Wajahnya kuyu. Terlihat jelas ia kurang tidur.

Ia tersenyum.

kumenyesali diri tak tahu apakah arti senyummu…”

“Ini Mas” kataku sambil menyerahkan uang yang dia minta.

“Makasih To” katanya. Uangku diterimanya. Dimasukkan saku celana, namun ia belum beranjak. Kelihatan bingung.

“Ada apa Mas?” Tanyaku.

Agak lama baru dia bisa menjawab. Rupanya anaknya yang kecil itu sudah 3 hari ini dirawat di Puskesmas. Sekarang memang ada puskesmas rawat inap. Sebuah fasilitas yang baru beberapa tahun ini ada. Diperuntukkan untuk semua lapisan masyarakat. Walaupun hanya lapisan masyarakat paling bawah yang mengunakannya.

Setelah 3 hari dirawat dan belum ada kemajuan, pihak Puskesmas menyarankan agar dirujuk ke rumah sakit. Tapi mereka tidak punya kendaraan selain ‘Smash’. Membawa anak kecil (baru 3 tahun) yang sedang sakit dengan roda dua sejauh lebih dari 10 km, tidak perlu kecerdasan untuk menilai bahwa itu adalah perbuatan yang ceroboh. Mas Yanto minta tolong kepadaku untuk mengantarkan mereka (istrinya dan Yudi) ke rumah sakit. Taksi atau sewa oplet bisa kena 100 ribu. Naik bis kota? Hah, ide Gila!

Kami berangkat ke Puskesmas. Mas Yanto mengiringi dengan sepeda motor.

Oh Tuhan..

Anak itu kurus sekali.. Kepalanya besar dengan tulang pipi yang menonjol. Tangan dan kakinya juga sangat kecil.

Sepanjang jalan menuju rumah sakit aku sangat gelisah. Teringat dengan omonganku yang dulu. Teringat pada penawaranku terhadap upah. Teringat pada kata-kataku tentang ‘tetangga’. Teringat tentang senangnya hatiku ketika upahnya berhasil kuturunkan. Teringat pada makan siangnya yang sangat sederhana. Teringat pada istrinya yang jadi babu dan tukang cuci dari rumah ke rumah.

Teringat dengan bajunya yang basah oleh keringat ketika kerja membuat garasi. Teringat pada wajah letihnya setelah membanting tulang dibawah kejam panas mentari. Teringat pada buruknya kondisi kamar di Puskesmas tampat anaknya dirawat. Teringat pada harga kamar disebuah rumah sakit swasta tempat mertuaku pernah dirawat yang senilai dengan upah mereka bertiga. Teringat dengan senyumnya yang tidak pernah lebar. Aku teringat pada semuanya.

Aku teringat bahwa aku telah lama lupa bahwa aku adalah anak seorang tukang bangunan. Sebuah profesi yang yang juga telah dijalani Bapak selama hampir 40 tahun.

Malam itu aku mengajak istriku ke rumah sakit. Anak itu berada di ruang ICU. Ketika aku sampai di sana Mas Yanto sedang duduk di bangku di luar ruang ICU. Dia tertidur sambil duduk. Di bawah bangku tersebut terdapat selembar kertas yang di-klep jadi satu. Aku ambil. Sebuah resep dokter yang belum ditebus dan beberapa bon pembayaran. Biaya dokter. Biaya rontgen. Apotik. Sewa kamar. Pemeriksaan Lab. Harga obat. Semuanya lebih dari 500 ribu.

Teringat aku pada ‘keuntunganku’ yang 750 ribu… ***

14 April 2010

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
3
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Margi Santoso

Pegawai di Kementerian LHK dan pengajar di SMK Kehutanan

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals