Pentingnya Amar Makruf Nahi Mungkar dalam Kehidupan Sosial

para kiai, ibu nyai, gus, ning, ustaz, dan ustazah di kampung yang secara nyata mendidik generasi Muslim dengan amar makruf nahi mungkar.


Sumber gambar: inhilklik.com

Hujjatul Islam Imam al-Gazâlî menyebut amar makruf nahi mungkar sebagai poros (quṭub) agama yang paling agung. Menurutnya, amar makruf nahi mungkar merupakan perkara yang sangat penting dalam kehidupan manusia, dan karenanya Allah mengutus para nabi yang tersebar di berbagai penjuru dunia (Iḥyâ’ Ulûm ad-Dîn, 2005: 781).

Oleh karena itu, apabila pengetahuan dan praktik amar makruf nahi mungkar ditinggalkan, maka fungsi kenabian akan berhenti tanpa penerus, agama akan binasa, kelemahan akan menjalar ke mana-mana, kesesatan akan terbuka lebar, kebodohan akan menyebar luas, kerusakan akan terjadi di mana-mana, negara akan hancur, dan manusia akan mengikuti hawa nafsunya masing-masing layaknya kawanan binatang (Iḥyâ’ Ulûm ad-Dîn, 2005: 781).

Adapun definisi amar makruf nahi mungkar adalah menunjukkan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Sebagian ulama memaknai amar makruf adalah menunjukkan kepada perkara yang diridai Allah, baik berupa ucapan maupun perbuatan. Sedangkan nahi mungkar adalah mencegah perkara-perkara yang dilarang oleh syariat Islam (Mawsû‘ah Naḍrah an-Na‘îm1998, III: 525-526).

Baca juga: Landasan Islam Tentang Masyarakat Tanpa-Kekerasan (Bagian 3)

Para ulama berpendapat bahwa amar makruf nahi mungkar bisa dilakukan oleh siapa saja, baik pemerintah maupun masyarakat biasa. Selain itu, setiap Muslim boleh melaksanakan amar makruf nahi mungkar meskipun belum mengamalkan isi amar makruf nahi mungkar tersebut. Namun, seorang Muslim tetap wajib melasanakan dua hal: pertama, menyuruh dirinya mengerjakan perbuatan makruf dan menjauhi kemungkaran; dan kedua, menyuruh orang lain berbuat makruf dan mencegah berbuat mungkar. Jika dia tidak mampu melaksanakan kedua perkara tersebut, maka dia harus melaksanakan salah satunya (Mawsû‘ah Naḍrah an-Na‘îm1998, III: 527).

Amar makruf nahi mungkar tetap wajib disampaikan meskipun dirasa tidak akan memberikan manfaat. Sebab, kewajiban yang harus dilakukan adalah menyampaikan, bukan diterimanya dakwah tersebut (Mawsû‘ah Naḍrah an-Na‘îm1998, III: 526-527). Artinya, umat Islam harus senantiasa (istikamah) berdakwah meskipun masyarakat tidak mendengarkan dan mengindahkan dakwah itu.

Oleh karena itu, para kiai, ibu nyai, gus, ning, ustaz, dan ustazah di kampung yang secara nyata mendidik generasi Muslim dan masyarakat Muslim (baik di langgar, madrasah, pesantren, maupun pengajian) telah melaksanakan tugas mulia, yaitu amar makruf nahi mungkar. Sebab, mereka mengajak orang lain kepada kebenaran dan kebaikan dan mencegah perbuatan-perbuatan mungkar, dengan senantiasa melaksanakan amar makruf nahi mungkar secara sungguh-sungguh dan kontinu meskipun tidak teriak-teriak amar makruf nahi mungkar.

Baca juga: Pentingnya Menjaga Kesehatan Nalar Berdakwah Kita

Dari Keluarga ke Masyarakat Umum

Para ulama berpendapat bahwa hukum amar makruf nahi mungkar adalah fardu kifayah. Oleh karena itu, ketika ada sebagian Muslim yang melaksanakan kewajiban amar makruf nahi mungkar, maka Muslim lain bebas dari kewajiban tersebut dan tidak berdosa apabila tidak melaksanakannya. Namun, apabila semua umat Islam tidak ada yang melaksanakan kewajiban amar makruf nahi mungkar, maka semua Muslim yang mampu melaksanakannya (tetapi tidak melaksankannya tanpa adanya uzur dan rasa takut) akan berdosa (Mawsû‘ah Naḍrah an-Na‘îm, hlm. 526).

Pentingnya amar makruf nahi mungkar ini banyak disebutkan dalam nas agama, baik Al-Qur’an maupun hadis (lihat Iḥyâ’ Ulûm ad-Dîn, hlm. 782-787). Salah satu ayat yang secara nyata memerintahkan amar makruf nahi mungkar adalah: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar (Âli ‘Imrân (3): 104).”

H. Abdulmalik Abdulkarim Amrullah (Buya Hamka) menjelaskan bahwa amar makruf nahi mungkar (mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran) disebut dakwah. Menurutnya, Âli ‘Imrân (3): 104 tersebut menekankan agar dalam kalangan umat Islam ada satu kelompok Muslim yang mengabdikan diri dan bekerja keras untuk berdakwah, yaitu mengajak orang lain kepada kebenaran dan kebaikan dan mencegah perbuatan-perbuatan mungkar (Tafsir al-Azhar, jilid 2: 866).

Baca juga: Mengingat Kembali Kode Etik Dakwah dan Da’i

Sebab, hidup dan tidaknya agama dan maju dan tidaknya agama sangat bergantung kepada adanya aktivitas dakwah. Adanya aktivitas dakwah ini, maka keberadaan agama menjadi hidup dalam kehidupan umat manusia. Kebenaran dan kebaikan bisa ditebarkan ke mana-mana dan keburukan serta kemungkaran bisa ditolak, sehingga kehidupan masyarakat yang sehat (yang merupakan tujuan hidup manusia) akan tercipta apabila aktivitas dakwah terus menerus dilakukan (Tafsir al-Azhar, jilid 2: 866 & 867-868).

Buya Hamka menjelaskan bahwa aktivitas dakwah ada yang bersifat umum dan ada pula yang bersifat khusus. Aktivitas dakwah yang bersifat umum adalah berdakwah kepada masyakarat Muslim secara umum dari semua lapisan, jenis kelamin, daerah, dan status sosial. Selain itu, berdakwah kepada masyarakat non Muslim, baik agar mereka mau memahami keindahan dan kearifan ajaran Islam maupun mencounter dan menangkis serangan dan tuduhan yang bukan-bukan terhadap Islam (Tafsir al-Azhar, jilid 2: 866).

Sementara aktivitas dakwah yang bersifat khusus adalah berdakwah kepada keluarga sendiri (hlm. 867). Sebagaimana  Allah berfirman:“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka (at-Tarîm (66): 6)”. Menurut Rasulullah saw., ayat ini memerintahkan umat Islam agar mendidik dirinya dan keluarganya mengenai kebaikan yang bisa menyelematkan mereka dari amukan api neraka kelak (Habib Zein bin Smith, al-Fawâ’id al-Mukhtârah, 2008: 82).

Wa Allâh A‘lam wa A‘lâ wa Aḥkam

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Nasrullah Ainul Yaqin
Alumni Pascasarjana Interdisciplinary Islamic Studies Konsentrasi Kajian Maqasid dan Analisis Strategik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals