Pentingnya Menjaga Kesehatan Nalar Berdakwah Kita

Sudah sangat jelas. Nabi saw menginginkan manusia mendapatkan hidayah dan selamat dari api neraka, sedangkan kamu tidak demikian, justru sebaliknya.


Suber gambar: nalarpoltik.com

Belum lama ini, tragedi memilukan sekaligus memprihatinkan terjadi di daerah Sigi, Sulawesi Tengah. Diberitakan pada Jum’at, 27 November 2020 lalu, empat orang dalam satu keluarga dibunuh dan enam rumah, termasuk rumah ibadah, dibakar.Diduga hal ini dilakukan oleh kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Terlepas dari siapa pelakunya dan apa motifnya, yang jelas perbuatan tersebut jauh dari nilai-nilai kemanusiaan, apalagi keagamaan.

Setiap manusia, siapa pun dia, yang naluri dan fitrah kemanusiaannya normal, pasti akan mengutuk ‘pembantaian’ tersebut. Jika para pelaku berdalih melakukan perbuatan tersebut atas dasar ‘berjihad’, maka pertanyaannya, jihad yang bagaimana maksudnya? Dengan tujuan apa jihad itu dilakukan? Atas dasar apa ‘pembantaian’ tersebut dinamai dengan jihad? Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk dicari jawabannya sebab akan membuka dasar pemikiran dan ideologi yang mereka anut.

Baca juga: Pendakwah yang Menyesatkan

Jika jihad itu dimaknai dengan usaha dan upaya berdakwah demi meyampaikan ajaran Islam, maka dalam hal ini, yang semestinya menjadi panutan dan tauladan adalah Nabi Muhammad saw. Dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad saw mempunyai tujuan yang sangat mulia, yaitu menyampaikan ajaran Islam demi keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu pula, kebahagiaan yang paling diharapkan Nabi saw untuk menjadi kenyataan adalah melihat umatnya mendapatkan hidayah Islam, sehingga terjamin keselamatan mereka di dunia dan akhirat.

Ketika Nabi saw menjadi figur sempurna dan tauladan mulia dalam berdakwah, maka amanat dari beliau untuk berdakwah (ballighû ‘annî wa-law âyah) juga semestinya dilakukan dengan cara-cara yang beliau ajarkan. Al-Qur’an, kitab petunjuk yang beliau sampaikan kepada kita, juga telah memberi bimbingan bagaimana berdakwah secara santun dan elegan. Tidak kita temukan, baik di dalam Al-Qur’an ataupun Hadis, perintah untuk memaksa orang-orang untuk masuk Islam, apalagi membunuh manusia yang tidak pernah sama sekali angkat senjata memerangi umat muslim.

Jika memang ‘jihad’ itu dimaknai dengan berdakwah, maka sudah tentu dakwah itu menggunakan pendekatan personal secara bijaksana (hikmah), ceramah yang ramah nan santun (mau’idzah hasanah) serta diskusi yang baik dan bermartabat (al-mujâdalah al-hasanah). Cara-cara itulah yang diajarkan oleh Al-Qur’an dan dipraktikkan Nabi Muhammad saw. Sebab bagaimana pun juga, Al-Qur’an sendiri, 18:29, menyatakan bahwa Islam telah memberi ruang kebebasan bagi manusia untuk menerima atau menolak kebenaran Islam.

Melihat penjelasan di atas, tentu gambaran tentang aktivitas dakwah seharusnya sebatas pada penyampaian dan penjelasan tentang kebenaran ajaran Islam, bukan pemaksaan untuk masuk Islam.

Jika memang ‘jihad’ dimaknai dengan berdakwah, maka nalar berdakwah yang seharusnya dibangun adalah bagaimana orang-orang bisa menerima Islam dengan cara yang baik, sehingga mereka mendapatkan keselamatan di dunia dan akhirat. Kesadaran bernalar tersebut sangat penting sebab tidak sedikit kita temukan kasus-kasus penganiayaan, pembunuhan, pembakaran, atau bahkan peledakan tempat-tempat tertentu dengan dalih berjihad menuntas praktik-praktik dan tempat-tempat maksiat. Lahirnya kasus-kasus tersebut tentu bermula dari pemahaman yang kurang tepat terhadap makna dan tujuan dakwah itu sendiri.

Terkait hal tersebut, ada satu kisah yang kiranya bisa menyegarkan kembali kesehatan nalar berdakwah kita, lebih-lebih bagi kita yang memiliki semangat beragama dan berdakwah yang tinggi namun belum dibekali pengetahuan Islam yang memadai. Kisah ini terjadi antara Syekh Mutawallî al-Sya’râwî (w. 1998 M) dengan seorang pemuda yang memiliki semangat dakwah tinggi dan menganut pandangan beragama yang cukup ekstrim. Kisah ini diceritakan sendiri oleh beliau di sela-sela ceramahnya.

Mulannya, beliau bertanya kepada pemuda tadi, Menurutmu, bagaimana hukum peledakan atau pengeboman tempat-tempat hiburan malam, boleh atau tidak? Dengan penuh keyakinan dan suara lantang, pemuda tadi mejawab, “Tentu saja boleh, dan bahkan membunuh mereka, yang berada di tempat-tempat hiburan malam tersebut, juga diperbolehkan.” Mendengar jawaban tersebut, beliau kembali bertanya kepada pemuda tadi, “Jika kamu membunuh mereka ketika mereka sedang berbuat dosa, melakukan perbuatan maksiat kepada Allah, maka di mana tempat akhir mereka?”

Seperti saat menjawab pertanyaan sebelumnya, pemuda tadi dengan tegas menjawab, “Tentu saja (tempat mereka) di neraka.” Setelah mendengar jawaban tersebut, beliau melanjutkan pertanyaan, “Sepengetahuanmu, ke mana syetan itu mengajak dan menjerumuskan manusia?” Si pemuda menjawab dengan singkat, “Ke neraka.” Setelah itu, beliau menimpali jawaban pemuda tadi, “kalau begitu, kamu dan syetan mempunyai tujuan yang sama, yaitu ingin menjerumuskan manusia ke neraka.”

Baca juga: Jejak Langkah Strategi Dakwah Rasulullah di Madinah

Kemudian beliau memberikan kesimpulan kepada pemuda tadi, “Coba sekarang perhatikan perbedaan antara kamu dan Nabi Muhammad saw. Sudah sangat jelas. Nabi saw menginginkan manusia mendapatkan hidayah dan selamat dari api neraka, sedangkan kamu tidak demikian, justru sebaliknya. Nabi saw berjalan di satu lembah sedangkan kamu berjalan di lembah lain.” Itulah kalimat penutup dari Syekh Mutawallî al-Sya’râwî pada dialog tersebut.

Sebuah kisah percapakan yang singkat namun mengingatkan kita kepada nilai-nilai prinsipil di dalam Islam, terutama pada sisi nalar berdakwah. Dakwah yang diajarkan dan dipraktikkan oleh Nabi saw adalah bertujuan demi kebaikan dan keselamatan semua umat. Dakwah yang menjunjung dan mengedepankan kasih sayang kepada siapa saja dan dalam keadaan apa saja. Tampak jelas, semangat membara dalam berdakwah tanpa dibarengi dengan bekal pengetahuan yang cukup tentang Islam hanya akan melahirkan kemudaratan yang lebih besar daripada manfaat.

wallahualam bissawab

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Nurul Ihsannudin
Peminat Kajian Studi Islam, terutama Studi al-Quran Dan Hadis. Pernah 'nyantri' di Al Azhar Cairo Dan UIN Suka Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals