Ruwetisme Hidup

Apalah arti hidup ini kalau bukan perihal mengerti batasan.


Sumber ilustrasi: artstation.com

Manusia memang selalu berdinamika. Tak seperti kucing, anjing, atau makhluk-makhluk non-manusia lainnya. Walau memang kodratnya makhluk adalah tumbuh dan berkembang, namun cuma manusia lah yang diberi-Nya sangu akal untuk berpikir. Diberi pula hati untuk peka akan apa-apa yang ada di dalam dan di luar dirinya.

Mudahnya, pengetahuan di jagat yang begitu luas ini ibarat titik-titik acak di otak kita. Dengan mengetahui satu hal, muncullah satu titik di diri kita. Bila saja titik-titik itu berdiri sendiri tanpa adanya penghubung seperti garis, maka tiada gunanya selain menimbulkan kesombongan belaka. Ilmu lah yang mampu menghubungkan satu titik ke titik yang lain. Titik-titik tersebut akan menemukan konektivitasnya sendiri dalam bentuk kesatuan ilmu.

Ada baiknya dan memang sudah seharusnya buat kita untuk menghubungkan titik-titik itu dengan titik-titik yang lain. Dengan meluasnya pengetahuan, pun semakin dalamnya ilmu yang dipelajari, perlu alat untuk memaksimalkan konektivitas titik-titik tersebut. Agar kita tak cuma ngerti kalau ilmu bermusik ya berhenti di musik saja, tidak ada hubungannya dengan ilmu melukis, misalnya. Itu pun masih terbilang dekat, jarak antara musik dan lukisan, masih dalam koridor seni atau keindahan. Belum lagi kalau menghubungkan musik dengan aparat yang saat ini sedang viral-viralnya.

Baca juga: Paradigma Integrasi-Interkoneksi: Cuma Tinggal Simbol?

Sepertinya di sinilah hati ikut berperan. Dengan semakin banyak tahu, akankah kita merasa kalau sebenarnya lebih banyak hal yang tidak kita tahu? Atau justru gumedhe saja dengan yang sudah diketahui, sampai membodoh-bodohkan orang lain yang belum tahu. Bijaknya, ya silakan merasa tahu sekaligus merasa tidak tahu. Merasalah pintar sekaligus bodoh. Ada masanya buat kita untuk percaya diri dengan yang kita sudah tahu, dan ada pula masanya buat kita untuk sungkan dengan kurangnya pengetahuan kita.

Dengan mindset yang sudah kita bikin dan kita yakin sedemikian adanya, output-nya akan terlihat dari cara kita menjalani hidup. Bagaimana cara menghadapi masalah, seberapa lama masalah itu harus diselesaikan, atau justru perlu-perlu saja untuk ndak secara langsung menghadapi masalah itu dulu. Toh tidak semua masalah hidup bergantung pada kekuatan fisik. Ada pula yang mengandalkan kelihaian berpikir, ada pula yang menomorsatukan kegigihan hati.

Dalam dinamika hidup pun, kita ndak jauh dari yang namanya harapan. Dan harapan bakal terus-menerus berubah. Saat harapan terwujud, akan muncul harapan yang lebih tinggi. Saat harapan tak tergenggam, akan turunlah prioritas harapan ke posisi yang lebih rendah.

Tapi tak semua orang begitu. Ada yang saat harapannya sudah tercapai, ya sudah cukup demikian saja. Ndak perlu yang lebih tinggi daripada itu, yang penting berharap tentang hal-hal lain yang belum pernah diharapkan. Ada pula yang kalau harapannya tak terwujud bakal bergerak sebebas-bebasnya. Bagaimanapun caranya, harapan itu harus terwujud. Tak perlu melihat kemampuan diri atau betapa tingginya kemustahilan harapan tersebut.

“Tidak ada yang tidak mungkin,” kata orang-orang. Lebih tepatnya, kata orang-orang yang tidak tahu diri. Orang-orang yang menilai bahwa hidup itu bebas, maka sebebas-bebasnya pula ia bertindak. Tapi, kebebasan macam apa yang menginjak, membatasi, bahkan mengungkung kebebasan orang lain?

Baca juga: lupa diri

“Kadang menyerah itu perlu,” kata orang yang lain. Lebih tepatnya, kata orang-orang yang lemah. Orang-orang yang berpikir kalau ndak semua yang diinginkan itu harus terwujud. Terwujud ya senang, ndak terwujud ya biasa saja. Sedih-sedih atau kecewa dikit ya tiada salahnya. Hidup ini terbatas. Tiap orang kan punya batasnya masing-masing.

Ambil aman saja. Hidup memang tampaknya bebas, tapi kita punya batasan untuk tidak mengusik kebebasan orang lain. Kita memang bebas saja mau jadi apa, mau ke mana, memilih apapun yang kita mau, tapi nanti ujung-ujungnya juga sadar kalau ternyata kita memang ndak mampu untuk jadi apa yang tadinya diinginkan, ndak mampu pergi ke mana inginnya pergi, dan sebagainya. Apalah arti hidup ini kalau bukan perihal mengerti batasan.

Mau meyakini hidup ini bebas atau terbatas, ya silakan saja. Atau memahami kalau hidup ini adalah tentang mengerti batasan, saya kira bakal lebih oke untuk memilih yang demikian.

Sudahlah, stok rokok saya masih cukup untuk beberapa hari ke depan. Puluhan kaset pita juga masih menunggu giliran untuk diputar. Nampaknya album-album Dewa 19 masih sedap didengarkan via Walkman kuno dengan disertai kopi tubruk dan rokok kretek ini. Hidup terlalu ruwet untuk meruwetkan hidup itu sendiri.

Kadipiro, 15 Oktober 2021

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Duljabbar

Master

Alumni Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang | Kini sedang mblakrak di Yogyakarta

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals