Andai Ramadhan Setiap Saat, Pasti akan Lebih Islami

Kadang mbatin saja andai Ramadhan setiap saat pasti semua akan Islami tidak hanya Arie Untung, Kartika Sari ataupun Ustadz Kiwilyang baru-baru ini katanya Hijrah.


Menjadi Penyakit tahunan Masyarakat Indonesia di kala datang Bulan nan berkah ini,  bahwa umat Islam di  seluruh dunia akan berbondong-bondong melaksanakan ajaran agama dengan sesungguhnya.

Tidak hanya soal agama, seakan-akan ini adalah rezeki seluruh umat di muka bumi. Kenapa tidak?

Pasti kita akan melihat tayangan televisi yang serba Islami, Para artis yang aselole (sebut saja Si Goyang Dribel)  akan tampil di telivisi dengan berpakaian agak tertutup dan sangat Islami (tidak hanya menonjol) pakaiannya aduhai, Islaminya bak orang-orang di timur tengah.

Tidak hanya di media elektronik seperti televisi,tapi juga di media sosial sebut saja Awkarin yang belakangan ini jadi endorser jilbab. Padahal di bulan-bulan sebelumnya dia buat vlog yang ngehot.

Tidak lupa Sirup Marjan dan saudara-saudara yang menghiasi dunia persilatan (Iklan).

Kadang mbatin saja andai Ramadhan setiap saat pasti semua akan Islami tidak hanya Arie Untung, Kartika Sari ataupun Ustadz Kiwilyang baru-baru ini katanya Hijrah.

Padahal kata Pak Guru saya dulu hijrah itu berpindah tempat misalnya melangkah dari kanan ke kiri itu juga bernama hijrah.

Kadang pemaknaan hijrah itu diolah yang bersifat Ngislami dari buruk ke baik tapi sebenarnya tidak itu makna sebenarnya. Pemahaman saya, kalau dari perilaku buruk ke baik itu bernama taubat bukan hijrah.

Dan terlalu sempit artian tersebut (oleh kelompok tertentu). Kalau saya mengatakan ini fenomena kaum alay yang ingin ngeksis di media sosial.

Saya sering berdebat dengan orang-orang yang kadang tidak memaknai agama dengan luwes, agama kok dipersulit, ketika bisa mudah kenapa harus dipersulit.

Dengan bungkusan jilbab besar dari ujung kepala sampai ujung kaki “itu budaya Arab yang jangan ditiru secara tekstual, walaupun agama mengajarkan untuk menutup aurat” itu semacam fashion, tak masalah asalkan tak menjadi identitas politik dan bahkan merubah cara pandang yang sangat konservatif.

Ramadhan itu bukan bulan untuk Ngislami (bergaya paling Islam sendiri), tetapi Ramadhan itu adalah bulan yang mulia untuk mengubah perilaku yang kurang baik untuk lebih baik dan berlanjut ke bulan-bulan selanjutnya (Istiqomah), sehingga tidak melukai esensi dari Ramadhan itu sendiri.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
3
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Ainul Fahruri

Ainul Fahruri merupakan Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga. Sosoknya merupakan seorang penyuka buku, film romantis, sangat minat  dengan isu agama, sosial, dan berita kekinian. Saat ini ia menjabat sebagai Ketua Dema Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (2017-2018).

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals