Antara Kolam Renang, Isa Alamsyah dan 4 Level Malu dalam Menulis

Umumnya bagi penulis pemula, sisi psikologis adalah target sasaran yang akan mendapat ujian pertama.


Foto: Isa Alamsyah sharing menulis di kolam renang (Sumber: Komunitas Bisa Menulis Public Group | Facebook/ edited by DK)

Hari Minggu pertama di bulan kemerdekaan, tepatnya pada tanggal 2 Agustus, secara tidak sengaja saya mendapatkan notifikasi keberuntungan.

Lah notifikasi apa? Kok bisa-bisanya menyebutkan itu sebagai suatu keberuntungan? Semacam notifikasi doorprize kah itu? Ataukah mungkin ada kabar gembira diskon sembilan puluh sembilan persen di bazar buku?

Bukan. Bukan informasi itu yang tiba-tiba masuk ke kolom pusat notifikasi  smartphone saya. Melainkan notifikasi nonton bareng (red; nobar) di salah satu grup Facebook yang bernama Komunitas Bisa Menulis (red: KBM). Ya, itu salah satu grup yang hampir dua tahun lalu saya tergabung di dalamnya.

Grup KBM sendiri menampung banyak anggota, mulai dari penulis pemula, penulis sastra; novelis, cerpenis dan lain sebagainya.  Bahkan di grup ini juga ada Mbak Asma Nadia, pengelola grup yang masif mengadakan acara diskusi dan sharing bersama.

Di beberapa kesempatan kadang saya melihat beliau menjadi moderator mengawal jalannya acara.

Belakangan ini saya berinisiatif untuk memastikan kebenaran perihal siapa pendiri grup KBM. Tentu upaya itu saya lakukan bukan tanpa alasan, melainkan justru saya penasaran sejauh mana keterlibatan bintang besar sekaligus penggiat literasi kawakan seperti mbak Asma Nadia di dalam grup tersebut.

Rasa penasaran itu kenyataanya berhasil mengantarkan saya untuk mengobrak-abrik isi grup. Beberapa kolom yang nangkring di toolbar grup pun saya jelajahi dengan teliti, mulai dari pengumuman, nonton bareng, foto, acara, file, album hingga saran.

Namun sayangnya rasa penasaran saya tidak sedikitpun terpatahkan dan terbungkam dengan fakta yang ditemukan.

“Ah, sialan, kegagapan teknologi itu sangat jelas memalukan saya. Masa iya, mengorek informasi di grup itu sesulit cari jarum ditumpukkan jerami? Kan gak ngeh banget ya? Oke, baiklah, saya memutuskan diri untuk mengotak-atik grup itu kembali”, sependek ketus dalam pikiran.

Akhirnya, tanpa pikir panjang, saya tekan nama grup itu hingga laman baru pun muncul. Di sana nampak ada deskripsi singkat tentang grup, peraturan, link dan beberapa keterangan menyangkut visi-misi didirikannya grup.

Terpampang jelas dalam deskripsi riwayat grup dituliskan; “Selamat datang di Komunitas Bisa Menulis (KBM). KBM adalah forum terbuka untuk belajar menulis yang didirikan oleh Isa Alamsyah (Penulis buku 101 Dosa Besar Penulis Pemula dan berbagai buku kepenulisan) serta Asma Nadia (penulis di Indonesia yang bukunya paling banyak diangkat ke layar lebar atau layar televisi)”.

Baca juga: Menapaki Proses Panjang untuk Menjadi Penulis

Oke, fiks, dugaan saya ternyata kurang tepat. Jadi yang mendirikan grup KBM itu Isa Alamsyah bukan Asma Nadia seorang.  Awalnya, saya terheran-heran, siapa itu sebenarnya Isa Alamsyah, hingga sampailah pada satu keputusan bulat untuk searching nama beliau di mesin pencarian (Mbah Google).

Tak harus menunggu sampai satu jam, dalam sekejap mata informasi terkait dengan biografi Isa Alamsyah muncul di muka. Saya terkaget-kaget, ternyata beliau tidak lain adalah suami dari mbak Asma Nadia.

Pendek cerita, mereka adalah pasangan suami-istri yang produktif menulis. Sudah banyak buah tangan mereka turut menyemarakkan dunia literasi. Luar biasa bukan?

Oke, kita skip dulu menyoroti cerita tentang kehidupan pribadi keluarga mbak Asma Nadia dan mas Isa Alamsyah. Kini izinkan saya mengais kembali ingatan terkait nonton bareng di grup KBM.

Kolam Renang Tempat Sharing Anti Mainstream

Beberapa saat setelah pusat notifikasi terisi, secara refleks saya sempat mengabaikannya sesaat namun rasa penasaran yang terus menggelayuti berhasil mendorong saya untuk langsung membukanya.

Kemudian saya klik tautan itu hingga akhirnya tergabung dalam sebuah video yang berlatar belakang kolam renang. “Lahdalah, loh kok kolam renang ya? Apa saya salah masuk grup?”, Geremang singkat dalam hati.

Akhirnya saya putuskan untuk memandangnya lekat-lekat, hingga nampaklah lelaki paruh baya dengan perawakan yang lumayan berisi, kantung matanya besar dan potongan rambut yang tipis. “Oh, mungkin ini yang namanya mas Isa Alamsyah”, sergah pikiran tatkala melihat gambar sosok lelaki dalam video.

Saya dibuatnya melongo sesaat dan terbahak-bahak. Bagaimana bisa coba, acara  sharing pengalaman menulis dilakukan di kolam renang? Bahkan saya baru pertama kali ini menyaksikannya.

Hampir-hampir acara ini sedang mendobrak kemapanan paradigma khalayak, kalau-kalau acara diskusi dan sharing memang harus terhelat di tempat yang formal dan syarat akan kode etik.

Benar saja, apa yang saya asumsikan itu terbukti dengan adanya pihak-pihak yang melontarkan komentar bernada julid dan nyinyir. “Hiiihhh, apa-apaan itu diskusi kok sambil buka-bukaan gitu”, demikian tulis salah satu netizen di kolom komentar. Sisanya, komentar yang nangkring lebih tertarik pada materi yang disampaikan.

Sungguh latar belakang tempat itu mungkin bagi segelintir orang nampak senonoh tapi bagi saya, itu bukanlah suatu masalah, bagaimanapun alur cerita yang disampaikan jauh lebih penting dan menyita penuh perhatian saya.

Mula-mula mas Isa nampak sedang asyik berenang di tengah kolam, namun sesaat kemudian ia menepi dan sibuk mengamankan kedua tangannya di plesteran dinding kolam. Persis seperti seorang siswa yang hendak berdo’a guna memulai pelajaran.

Selanjutnya, beliau mulai menceritakan proses bagaimana ia terjun bebas ke dunia literasi khususnya sebagai penulis. Dituturkan, bahwa awalnya beliau adalah seorang jurnalis di koran Kompas sekaligus pernah pula menjadi wartawan di salah satu kanal stasiun televisi yang lumayan terkemuka.

Baca juga: Menulis Untuk Keabadian

Keterlibatannya dalam media massa tersebut lantas sempat mengantarkannya pada satu titik jenuh, hingga akhirnya tepat di usia 35 tahun ia memutuskan untuk fokus menggeluti dunia literasi.

Mulanya beliau berpandangan bahwa bergelut dengan dunia tulis-menulis lebih menarik, menantang dan menjanjikan. Toh, selain itu pekerjaan yang ditekuni sebelumnya juga masih ada keterkaitan dengan tulis-menulis. Jadi, setidaknya sudah ada bekal yang cukup untuk menjadi penulis.

Meski demikian, ia menyebutkan bahwa tatakala mulai serius untuk menulis buku pertama kali ada banyak alasan yang melulu menghantam pilihannya itu.

Dalam proses panjang itu ada banyak bayangan yang menghantui. Mulai dari kurang percaya diri, rasa malu, minder, takut tak berkualitas sampai tak siap untuk menerima berbagai kritikan sana-sini.

Belum lagi, nanti kalau bukunya sudah terbit, pembajakan liar menjadi masalah utama yang tak dapat dihindari. Tentu, pihak yang melakukan pembajakan ini berangkat dari berbagai alasan.

Mulai dari tingkat kelarisan buku di pasaran, harga yang ditawarkan relatif mahal, isi buku yang dibajak setidaknya memiliki kualitas bagus dan menarik banyak peminat, atau mungkin karena penulisnya yang telah terkemuka.

Sementara buku bajakan yang diterbitkan bisa dijual ke pasaran dengan harga yang relatif murah, hampir-hampir dapat terjangkau oleh semua kalangan.

Meskipun di sisi lain kualitas yang disodorkan jelas sangatlah minim bahkan dapat dikatakan jauh dari kelayakan. Berbanding terbalik dengan buku aslinya.

Pembajakan liar atas suatu buku justru di lain pihak bisa menjadi bumerang bagi peredaran buku yang asli. Sebab, bagaimanapun permainan harga menjadi bahan taruhan. Bisa jadi, buku bajakan itu akan lebih laku di pasaran daripada buku aslinya.

Selain itu, peredaran buku bajakan juga dapat merugikan dua hal; pertama menggoyahkan royalti yang menjadi hak penulis. Kedua, menyerang keadaan psikis penulis.

Bisa jadi, tatkala sang penulis mengetahui bahwa buku yang ditulisnya telah dibajak pihak yang tidak bertanggungjawab, keadaan emosionalnya sangat terganggu.

Alhasil, marah, merasa jengkel, mengutuk keras dan sikap negatif lainnya akan menjadi beban baru yang melekat pada dirinya.

Lebih jauhnya, mas Isa menganalogikan bahwa menjadi seorang penulis itu laiknya kita hendak berenang. Sebelum benar-benar menyemplungkan diri ke dalam kolam, kita terlebih dahulu melakukan pemanasan dan persiapan ini-itu.

Namun, tatkala kita sudah dalam posisi siap untuk nyebur ke dalam kolam, justru orang lain telah terlebih dulu menyiprati banyak air ke arah kita. Nah, begitu halnya dalam menulis. Akan ada banyak onak yang berusaha menggoyahkan komitmen dan tekad kita.

Empat Level Malu dalam Menulis

Umumnya bagi penulis pemula, sisi psikologis adalah target sasaran yang akan mendapat ujian pertama. Gejolak psikologis itu tercitrakan penuh dengan rasa malu yang akan jauh lebih dominan menyelimuti dirinya.

Hal yang demikian bersesuaian dengan pandangan yang dikemukakan oleh Dr. Ngainun Naim, selaku penggiat literasi kawakan tingkat nasional. Menurut beliau terdapat empat hierarki malu yang berlaku dalam menulis.

Pertama, malu untuk menulis. Rasa malu di sini identik dengan keadaan inferioritas dan minder. Ada keyakinan dan pandangan akut yang membelenggu diri sendiri bahwa ia tidak bisa menulis, tulisannya jelek dan berbagai alasan lain yang menurut dirinya ia tidak pantas untuk menulis.

Sederhananya, orang yang memiliki malu dalam tahap pertama ini, kehendak untuk menulisnya hanya terurai sebatas fatamorgana. Cita-cita yang melangit begitu saja namun tak pernah mau digapainya.  Berhenti pada sebatas keinginannya saja.

Baca juga: 40 Inspirasi dan Jurus Menulis

Seseorang yang gagal melewati malu pada level pertama, maka seumur hidupnya tak akan pernah mampu menjadi seorang penulis.

Kedua, malu ketika karyanya dibaca orang lain. Pada level ini, penulis telah berani menulis namun dirinya diliputi rasa ketakutan yang luar biasa.

Mulai dari rasa khawatir tulisannya susah dimengerti dan dipahami oleh orang lain, takut dipermalukan dan dilecehkan oleh pembaca dan tidak siap menerima kritikan serta koreksi yang mendalam.

Meski demikian, sejatinya tanggapan yang ditampilkan oleh orang lain terhadap tulisan kita, pada akhirnya semua itu adalah wujud ujian untuk mengetes sejauh mana keistikamahan diri untuk menulis.

Ketiga, malu yang sudah berkurang. Mereka yang termasuk dalam kelompok ini terus-menerus berusaha memproduksi karya.

Umumnya, kalangan ini sudah kebal dari komentar orang yang tidak begitu menyukainya, meremehkan dan mengabaikannya.

Bahkan semua stigma, stereotip dan semua hal negatif yang ditudingkan kepadanya berusaha keras disikapi dengan bijak, rendah hati dan positif thinking.

Alih-alih ujian yang bertubi-tubi datang itu menjadi penghalang, justru malah sebaliknya, menjadi kekuatan besar untuk menunjukkan komitmennya dalam menulis.

Sementara level yang terakhir, yakni malu kalau tidak menulis. Pada kalangan ini menulis telah mendarah daging. Seakan-akan dalam kontinuitas kehidupannya telah ada mekanisme yang terbenam pada alam bawah sadarnya yang secara otomatis mendiktenya untuk menulis.

Baginya menulis bukan sekadar soal kebutuhan dan kewajiban biasa, melainkan nafas-nafas kehidupan yang tak dapat ditawar lagi. Selaiknya kehidupan manusia yang tidak pernah lepas dari pertukaran gas oksigen sebagai penyambung nyawa.

Semua tahapan inilah yang berhasil dilalui oleh mas Isa Alamsyah, hingga akhirnya ia mampu menghasilkan karya lebih dari seratus buku. Mengelola banyak grup menulis, entah itu offline ataupun online. Meski demikian, ia sendiri menegaskan bahwa dirinya mulai menggeluti dunia tulis-menulis dapat dikatakan terlambat. [DK]
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Bagaimana pendapat Anda tentang cerpen di atas? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga membaca kumpulan cerpen menarik lainnya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 4

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Hikmah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals