Hadiah Untuk Diana

"..kalaupun nantinya doa ini ternyata Allah tidak menerimanya, saya kira itu bagian dari usaha saya dan teman-teman sebagai bentuk kasih sayang kepada Diana.."


Belum sampai seminggu saya menerima pesan dari teman tentang meninggalnya salah seorang yang cukup memberi kesan dalam kehidupan saya. Namanya Diana Jasmin dari Bone Sulawesi Selatan. Dia adalah teman yang saya temui ketika KKN di Kecamatan Bontonompo Gowa.

Kendati dalam dua bulan misi perkuliahan dan mengabdi untuk masyarakat, kami cukup akrab, bahkan selesainya tugas KKN tidak membuat saya putus komunikasi dengannya. Terkadang di kampus kami saling memberi sapa, apalagi karena fakultasnya tepat berada di depan asrama saya. Sehingga meski tidak direncanakan, sesekali saya masih dapat melihatnya, atau paling tidak melihat sepeda motornya yang berwarna hijau itu.

Berita tentang perginya teman saya ini, hentak memenuhi kedukaan hati saya dan sekian banyak orang, mulai dari keluarga, sahabat, teman, dan kenalan-kenalan lainnya. Berbagai status saya dapati di media sosial dengan berbagai bentuk narasi penyesalan. Hal tersebut seperti saya katakan tadi karena kedukaan masih menyelimuti hati setiap orang yang mengenal Diana.

Kedukaan-kedukaan itu kemudian terlihat dari doa yang dikirimkan setiap orang kepada Diana. Misalnya saja salat gaib dan doa bersama untuk Diana yang diadakan oleh teman-teman jurusan KPI pada tanggal 27 Desember 2017. Saya yang kemudian tidak dapat hadir di pemakaman beliau karena masih belajar di Kampung Inggris, Pare Kediri hanya mampu memberi hadiah doa dan salat gaib untuknya.

Hampir setiap waktu saya coba mengirimkan bacaan al-Fatihah sembari mendoakan beliau. Sampai tadi pagi saya membaca status dengan nada bertanya “diterimaji kah doa untuk seseorang yang sudah meninggal?”. Meskipun sebenarnya saya sedikit tahu jawabannya, saya mengurungkan diri untuk tidak menjawab, apalagi karena persoalan ini memang ada yang membolehkan dan ada juga yang tidak.

Secara umum ulama-ulama yang membolehkan mengirimkan doa atau hal-hal yang serupa dengannya seperti menghadiahkan bacaan al-Qur’an, berdasar pada ayat al-Qur’an surah al-Hasyr ayat 10, dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa “Ya Tuhan Kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman, Ya Tuhan Kami, sesungguhnya Engaku Maha Penyantun, dan Maha Penyayang”.

Selain dalil ini ada beberapa hadis yang juga menjadi landasan ulama yang membolehkan perkara ini. Di antaranya hadis tentang seorang laki-laki yang berkata kepada nabi Muhammad saw. tentang ibunya yang meninggal mendadak kemudian dia bertanya tentang bolehkah saya bersedekah untuknya, Nabi kemudian mengiyakan. Atau hadis tentang orang yang menghajikan temannya, dan beberapa hadis lainnya yang berkaitan dengan perkara ini.

Adapun yang menjadi hujjah beberapa orang yang menolak untuk mengirimkan doa dan bacaan al-Qur’an atau bersedekah untuk kerabat yang telah meninggal, berdasar pada ayat al-Najm ayat 38-39 bahwa seseorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, dan bahwa bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.

Meskipun demikian, Ibn Abbas menjelaskan bahwa ayat ini sebenarnya telah dinasakh oleh ayat al-Thur ayat 21 “dan orang-orang yang beriman dan anak cucu mereka mengikuti mereka dengan iman, maka kami hubungkan anak cucu mereka itu dengan mereka dan tidaklah mengurangi sedikitpun dari amal mereka. Tiap-tiap orang terikat dengan apa yang dikerjakannya”.

Selain itu, ada juga yang menjelaskan ayat 38-39 dari al-Najm tadi, bahwa Allah tidak mengatakan bahwa orang tidak bisa mendapat manfaat dari orang lain, namun Allah berfirman, seseorang hanya berhak atas hasil usahanya sendiri, sedangkan hasil usaha orang lain adalah hak orang lain.

Dari sini kemudian dianalogikan seperti harta yang menjadi hak seseorang, namun ketika telah disedekahkan maka menjadi hak orang lain, seperti salat mayyit dan doa-doa lainnya yang kita hadiahkan kepada si mayyit. Atau kita katakan bahwa salah satu bentuk usaha orang yang telah meninggal adalah berlaku baik dan memiliki keluarga, teman dan sahabat yang salih, sehingga kiranya ketika dia meninggal dia mendapat hasil usahanya dengan didoakan oleh orang-orang yang semasa hidupnya dia beri kebaikan.

Meskipun masih banyak sekali pendapat ulama dan hujjah ulama tentang bolehnya mengirimkan bacaan al-Qur’an atau mendoakan orang yang telah mendahului kita, saya memilih untuk tidak menulisnya. Saya merasa sudah cukup bagi saya dan teman-teman lainnya untuk terus mendoakan Diana dan mengirimkan bacaan-bacan al-Qur’an.

Pada akhirnya kalaupun nantinya doa ini ternyata Allah tidak menerimanya, saya kira itu bagian dari usaha saya dan teman-teman sebagai bentuk kasih sayang kepada Diana, kendati kita tidak tahu mengenai diterima atau tidaknya. Tetapi paling tidak akan menjadi kabar gembira bagi saya dan teman-teman, begitu pun dengan Diana jika doa ini kemudian diterima oleh Allah swt.

Selamat jalan Diana, semoga Allah mengampuni setiap kesalahan-kesalahanmu dan menghadiahkan kenyamanan berupa surga nantinya. Amiin. Sekian, wassalam.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hadidarma Tri

Warrior

Ahmad Tri Muslim HD, S.Ag adalah Alumni Tafsir Hadis Khusus Makassar dan PP. Al Urwatul Wutsqaa Sidrap, Sulawesi Selatan.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals