Menghafal Quran Jaminan Kesalehan, Benarkah?

Secara masif industrialisasi tahfidz Quran pun menjamur, menawarkan berbagai metode dan trik cepat menghafal Quran. Apakah ini hal yang wajar?


dishub.acehprov.go.id

Menghafal al-Quran akhir-akhir ini sudah menjadi sebuah tren di kalangan muslim Indonesia. Banyak dari kalangan anak-anak maupun dewasa yang menggandrunginya. Tren ini salah satunya terindikasi dengan banyaknya pondok pesantren atau yayasan khusus tahfidz. Tak jarang mereka dibebaskan dari segala macam biaya. Bahkan, mereka mendapatkan akomodasi secara cuma-cuma.

Fenomena ini dimanfaatkan dengan baik oleh pihak marketing stasiun televisi. Mereka membuat acara khusus yang menampilkan perlombaan hafalan al-Quran. Programnya diselenggarakan pada momen-momen tertentu seperti di bulan Ramadhan. Fenomena ini telah menyeret al-Quran untuk masuk ke dalam industri hiburan di mana keuntungan materi menjadi hal yang tak bisa dinafikan. Seperti yang diduga, secara simultan dan masif, industrialisasi tahfidz Quran pun menjamur, menawarkan berbagai metode dan trik cepat menghafal Quran. Apakah ini hal yang wajar?

Fenomena ini kemudian mengkristal menjadi standar kesalehan, yang dimotori banyak muslim kelas menengah, terutama akhi dan ukhti hijrah. Hal ini sekaligus menjadi distingsi dari praktik tahfidz Quran yang berkembang di pesantren-pesantren tradisional.

Jika ditanya motif mereka menghafal al-Quran, sebagian besar jawabannya adalah karena mereka ingin menyematkan jubah kehormatan kepada orangtuanya di akhirat kelak. Penghafalnya juga mendapat jaminan kenikmatan yang akan diraih di hari akhir. Motif-motif tersebut tidaklah sembarangan karena ia mempunyai landasan dari hadis-hadis Nabi. Oleh karena itu, banyak sekali orang Islam yang berusaha untuk melakukannya dengan maksud meraih keutamaan tersebut.

Di bawah ini adalah salah satu hadis keutamaan menghafal al-Quran yang sering dijadikan hujah oleh para penghafal. Hadisnya sebagai berikut:

Dari Buraidah al-Aslami r.a ia berkata bahwa ia mendengar Rasul bersabda, “Siapa yang membaca al-Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari. Kedua orangtuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya: mengapa kami dipakaikan jubah ini? Dijawab: “Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al-Quran.”

Hadis riwayat Imam Hakim di atas cukup populer di kalangan para penghafal Quran. Hadis tersebut menginformasikan bahwa penghafal kelak akan mendapat kemuliaan untuk dirinya pribadi dan orangtua mereka. Kata “membaca” pada hadis di atas dapat dipahami sebagai menghafal karena zaman Nabi al-Quran belum berbentuk mushaf. Para sahabat yang membaca al-Quran berdasarkan ingatan mereka.

Kita harus memahami hadis tersebut pada konteks Nabi saat itu di mana umat Islam secara kuantitas masih berjumlah sedikit. Terlebih saat itu, umat Islam harus menghadapi tantangan dari para lawannya yang dapat mengancam nyawa. Oleh karena itu, sabda Nabi tersebut dapat dipandang sebagai bentuk motivasi kepada para sahabat agar al-Quran tetap terjaga dalam memori mereka, sehingga dapat diajarkan kepada generasi selanjutnya. Jika Nabi tidak mendorong para sahabat untuk menghafalkannya dikhawatirkan al-Quran akan dilupakan. Hal ini sejalan dengan kebudayaan yang berkembang saat itu di mana tradisi hafalan lebih dominan daripada tulisan. Jadi, bagi masyarakat saat itu, menghafal bisa jadi lebih mudah daripada menulis.

Akan tetapi, kini keadaannya sudah jauh berubah. Tradisi keilmuan saat ini lebih didasarkan pada tradisi tulisan daripada hafalan. Ini ditunjang dengan kemajuan teknologi yang dapat menyimpan berbagai file yang sama persis dengan aslinya. Al-Quran pun demikian, ia sudah terdokumentasi dalam bentuk cetakan mushaf dan bahkan digitalisasi dalam bentuk data, sehingga tidak ada ketakutan al-Quran akan hilang seperti yang terjadi pada era Nabi.

Jika kita perhatikan, aktifitas menghafal al-Quran adalah aktifitas hubungan individu dengan Tuhannya. Dalam Islam, relasi ini lazim disebut dengan hablu min-Allah. Allah akan memberikan pahala bagi siapa saja yang melakukan aktifitas membaca, mempelajari, dan menghafal al-Quran. Relasi yang dibangun merupakan relasi individual yang dapat melahirkan kesalehan individu.

Sementara itu, manusia termasuk ke dalam makhluk sosial yang meniscayakan adanya hubungan dengan manusia lain dan lingkungannya. Istilah lainnya adalah hablu min al-nas. Selain saleh secara individu, penghafal juga harus saleh secara sosial baik di dunia nyata maupun maya. Tak pantas jika mereka melakukan provokasi, cacian, makian terhadap hal yang tidak disenanginya atau tidak mempunyai hubungan baik dengan tetangga dan teman-temannya.

Dengan demikian, untuk mendapatkan kemuliaan di akhirat, menghafal al-Quran saja tidak cukup. Yang lebih penting dari itu adalah mengamalkan ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya seperti yang diinformasikan pada hadis di atas. Al-Quran tidak hanya harus hadir di memorinya, tetapi juga dalam tingkah lakunya. Kesalehan individu harus beriringan dengan kesalehan sosial agar mendapat kemuliaan dan kehormatan seperti yang diharapkan.

 

 

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals