Kenapa Manusia Mesti Berlaku Zuhud?

Dunia yang dibenci para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia.


Sumber gambar: nikmatislam.com

Zuhud suatu sifat yang sulit terbaca dan dinilai lewat indera. Sebab sejatinya zuhud ialah pekerjaan hati, bukan soal kalkulasi materi. Bisa saja seseorang yang hidupnya bergelimang harta, ternyata ahli zuhud. Pun sebaliknya, tidak ada jaminan orang yang berpakaian lusuh, hidup jauh dari kemewahan, tergolong ahli zuhud. Tidak ada yang tahu.

Secara bahasa zuhud dimaknai dengan “الشيئ القليل” dalam artian, mengambil secukup dan seperlunya saja bagian di dunia untuk tujuan akhirat (Ibn Faris, Mu’jam Maqayis Lughah). Orientasi zuhud ialah Allah, dan hanya menyerahkan jiwa raga di jalan lillah.

Sedangkan Ibn Atha’illah menyebutkan bahwa zuhud tidak berarti harus meninggalkan atau bahkan membenci dunia. Sebab hakikatnya zuhud adalah meniadakan apa pun di hati selain Allah.

Dunia yang dibenci para sufi adalah dunia yang melengahkan dan memperbudak manusia. Kesenangan dunia adalah tingkah laku syahwat, berbagai ambisi yang tak kenal surut, dan hawa nafsu yang tak ada puasnya. Semua itu hanyalah permainan (al-la’b) dan senda gurau (al-lahw) yang akan mengabaikan Sang Khaliq. Dunia seperti inilah yang ditolak kaum sufi.

Baca juga: Berlaku Zuhud Tanpa Harus Meninggalkan Dunia

Dengan demikian, tidaklah tepat pemahaman awam yang mengonotasikan zuhud dengan ketiadaan harta benda. Sufyan al-Tsauri misalnya, terkenal alim dan kaya raya. Suatu ketika, beliau bertemu sahabatnya yang memiliki harta paling berharga berupa sepasang sandal. Seusai melaksanakan sholat di masjid, Sufyan al-Tsauri menasihati sahabatnya tersebut, “Zuhudlah engkau terhadap dunia.” Betapa kagetnya sang sahabat, tanpa menjawab sepatah kata pun air matanya menitik perlahan. Seolah Imam Sufyan tahu betul apa yang sedang ia rasakan.

“Jangan karena takut kehilangan satu-satunya hartamu (sandal), engkau mengabaikan Allah dalam ibadahmu”, ucap Imam Sufyan.

Semestinya, kalau kita menggunakan kaca mata awam, nasihat tersebut berlaku sebaliknya. Namun, zuhud bukanlah soal banyak atau sedikitnya harta, melainkan sikap hati yang senantiasa bertumpu pada Allah.

Terkait zuhud, Rasulullah saw. pernah suatu ketika didatangi oleh seseorang, dan berkata:

يارسول الله دلني على عمل اذا عملته احبني الله واحبني الناس

Wahai Rasulullah, ajarkan suatu amal yang jika aku mengamalkannya aku dicintai Allah dan juga dicintai manusia. Lalu Rasulullah bersabda,

ازهد في الدنيا يحبك الله وازهد فيما عند الناس يحبك الناس

Zuhudlah terhadap dunia maka Allah akan mencintaimu, dan zuhudlah terhadap apa yang disenangi manusia, maka engkau akan dicintai oleh manusia.

Hadits di atas menjelaskan betapa istimewanya kedudukan orang yang zuhud, memperoleh dua cinta: cinta dari Yang Maha Cinta dan cinta dari manusia. Cinta dari Allah adalah sebaik-baik cinta. Itulah ganjaran bagi hamba-hamba yang menjadikan Allah sebagai tujuan, dan memalingkan kesenangan dunia yang sarat tipu daya. Sebagaimana Rasulullah menasihati,

الزّهْدُ فِى الدُّنْيَا يُرِيْحُ الْقَلْبَ وَالبَدَنَ وَالرُّغْبَةُ فِيْهَا تُتْعِبُ اْلقَلبَ وَاْلبَدَنَ رواه الطبرانى

Zuhud (tidak suka) dunia sangat menyenangkan hati dan badan. Sedangkan cinta dunia sangat melelahkan hati dan badan.

Termaktub dalam Al-Quran, surah Āli ‘Imrān ayat 14 Allah secara gamblang memaparkan watak asli dunia beserta isinya, yang semestinya menjadi wanti-wanti bagi manusia.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوٰتِ مِنَ النِّسَاۤءِ وَالْبَنِيْنَ وَالْقَنَاطِيْرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْاَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗوَاللّٰهُ عِنْدَهٗ حُسْنُ الْمَاٰبِ

Dijadikan indah bagi manusia kecintaan pada aneka kesenangan yang berupa perempuan, anak-anak, harta benda yang bertimbun tak terhingga berupa emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allahlah tempat kembali yang baik (Q.S. Ali Imran [3]: 14).

Baca juga: Quranic Parenting: Pola Asuh Anak Perspektif Al-Qur’an

Berikut kutipan penafsiran ayat di atas: “Adalah keliru kalau manusia menjadikan harta dan anak sebagai tujuan hidupnya. Sebenarnya bukan sesuatu yang terlarang mencintai hal itu, karena manusia tidak dapat terhindar dari mencintainya. Namun sedikit sekali orang yang memahami keburukan atau bahayanya, sekalipun bukti-bukti cukup jelas dan banyak yang memperlihatkan keburukan dan bahayanya itu. Kadang-kadang manusia menyukai sesuatu, padahal dia mengetahui sesuatu itu buruk, dan tidak berguna. Siapa yang menyukai sesuatu tetapi dia menganggap hal itu tidak baik untuk dirinya, dia dapat melepaskan diri dari pengaruhnya. Sesungguhnya Allah menjadikan tabiat manusia cinta kepada harta benda dan kesenangan. Oleh sebab itu, Allah menjadikan harta benda dan kesenangan sebagai sarana menguji keimanan seseorang, apakah dia akan menggunakan semua harta dan kesenangan itu untuk kehidupan duniawi saja, ataukah dia akan menggunakan harta bendanya untuk mencapai keridhaan Allah”.

وَتَوَدُّوْنَ اَنَّ غَيْرَ ذَاتِ الشَّوْكَةِ تَكُوْنُ لَكُمْ وَيُرِيْدُ اللّٰهُ اَنْ يُّحِقَّ الْحَقَّ بِكَلِمٰتِهٖ وَيَقْطَعَ دَابِرَ الْكٰفِرِيْنَۙ

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami uji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya. (Q.S. al-Kahfi [18]: 7).

Berdasarkan penjelasan di atas, dapat kita pahami bahwa sifat zuhud berperan penting dalam mengelola hubungan antara manusia dan dunia, sehingga tetap pada tujuan yang hakiki: Allah.

Betapa sifat ini perlu dihayati dan diamalkan oleh manusia modern yang semakin tenggelam dalam kawah materialistis dan hanyut dalam lingkaran hedonis.

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals