Ramadhan Untuk Kemenangan Bangsa

Momentum Ramadhan dapat dijadikan untuk islah membangun kembali tali persaudaraan yang telah retak di antara umat Islam pasca Pemilu 2019.


Bulan Ramadhan tahun ini bertepatan dengan berakhirnya pemilihan umum presiden, wakil presiden dan legislatif tahun 2019. Tidak dapat dipungkiri bahwa konstelasi politik tahun ini menimbulkan ketegangan dan keretakan tali persaudaraan di tubuh rakyat Indonesia. Momentum Ramadhan dapat dijadikan untuk islah membangun kembali tali persaudaraan yang telah retak di antara umat Islam pasca Pemilu 2019.

Meraih kemenangan bulan suci Ramadhan yang hakiki jauh lebih penting dari kemenangan lainnya. Ramadhan adalah bulan kasih sayang (syahrun rahmah), yaitu saling menyayangi tanpa membedakan agama, idelogi, partai politik dan latar belakang sosial budaya, perlu menjadi kesadaran masyarakat  dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara.

Ramadhan asal kata ramadiyu (berarti hujan di musim panas) yang mampu memberikan kesejukan dan kenyamanan kepada siapapun. Ramadhan akan menumbuhkan dan menyuburkan benih-benih kebaikan. Ramadhan mengandung derivasi makna yaitu membakar dan mengasah, Ramadhan harus mampu membakar egoisme dan fanatisme yang ada pada diri setiap individu. Ramadhan dapat mengasah jiwa, ketajaman pikiran dan kejernihan hati, sehingga dapat membakar sifat-sifat tercela dan dosa yang ada dalam diri kita.

Ramadhan adalah bulan yang sarat dengan makna yang bertujuan pada kemenangan, yaitu kemenangan dalam melawan hawa nafsu, egositas, keserakahan, dan ketidakjujuran. Umat Islam akan mendapatkan kemenangan yang hakiki ketika mereka berjuang, berjihad dengan sungguh-sungguh mengubah prilaku yang destruktif menuju prilaku profetik.

Mengedepankan kebaikan yang lebih besar untuk bangsa dan negara, sehingga menomorduakan kebaikan untuk diri sendiri dan kelompoknya sebagai manivestasi dari bulan kebaikan (syahrun thoyyibun). Ramadhan sebagai bulan tolong menolong (syahrun ta’wun) dalam membangun kesucian negara supaya menjadi negara yang maju, beradab, aman dan damai.

Ramdhan adalah momentum terbaik untuk saling mengintrospeksi diri supaya mendapatkan raihan kemenangan di sisi Tuhan secara kolektif. Kemenangan kolektif secara spiritualitas adalah kemenangan untuk meraih ketakwaan dan penghapusan dosa, sebagai buah perjalanan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan. Kemenangan sosial secara kolektif adalah terciptanya tatanan masyarakat yang aman, damai, sehingga kondisi negara menjadi kondusif bagi siapapun. Semua harus memiliki tujuan yang sama yaitu mewujudkan negara yang damai, adil dan sejahtera (baldatun thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur).

Ramadhan harus ditunjukkan dengan bentuk kesalihan individual dan kesalihan sosial. Sehingga Ramadhan akan memberikan bekas yang terpatri pada diri sendiri baik secara spiritual maupun sosial. Ramadhan dapat dijadikan ajang untuk saling mengunjungi dan saling memaafkan atas kesalahan yang telah diperbuat di antara individu dan golongan. Ramadhan tepat digunakan untuk rekonsiliasi di antara para elite politik dan pimpinan partai.

Ramadhan yang di dalamnya ada puasa mengandung makna pendidikan yang perlu ditransformasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga tetapi menahan dari segala bentuk yang akan menghilangkan pahala puasa seperti ujaran kebencian, mencaci, menggibah, memfitnah dan mengadudomba.

Puasa Sebagai Sikap

Puasa adalah nama lain dari ibadah simbolik melatih diri dalam perjuangan sungguh-sungguh, melawan egosentrisme, menumbuhkan solidaritas kemanusiaan dan rasa cinta kasih menuju kehidupan bangsa yang lebih baik. Puasa merupakan momen transformatif mendewasakan diri menuju kemenangan sejati dengan hilangnya egoisme, perasaan paling benar dan mau menang sendiri.

Puasa harus menjadi benteng setiap individu dalam bertindak dan bertingkah laku karena parameter keberhasilan dari puasa adalah terjadinya perubahan prilaku (change behavior) pada diri manusia, yaitu menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Puasa menjadi ajang untuk saling berbagi sebagai bentuk kedermawanan dan kepedulian serta sarana penyambung silaturahmi yang sebelumnya retak di masyarakat.

Puasa mampu menahan berita dan informasi yang masuk ke diri kita untuk tidak disebarkan kepada orang lain sebelum mengetahui kebenaran informasi tersebut. Memperlakukan media sosial secara bijak supaya tidak ikut andil dalam menyebarkan berita bohong, sehingga media sosial hadir dengan konten-konten bernuansa ibadah.

Menghiasi media sosial dengan fiture saling berbagi tentang keutamaan bulan Ramadhan sehingga media sosial menjadi media yang mendamaikan dan menyejukkan. Menahan untuk berkomentar pada konten informasi yang akan menyulut kegaduhan di media sosial, sehingga puasa berimplikasi pada sikap bermedia sosial yang santun.

Ramadhan menjadi spirit perubahan untuk diri kita dan negara Indonesia yang menjadi lebih baik. Ramadhan pada akhirnya akan memberikan kemenangan bagi mereka yang menjalankan ibadah di dalamnya yang berdimensi spiritual dan sosial, sehingga kita akan mendapatkan derajat orang yang bertakwa.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hakiman

HAKIMAN. SPd.I, MP.d. Dosen PAI FITK IAIN Surakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Telaah

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals