Melihat Tradisi Keislaman di Kerajaan Mataram Islam

Berbicara agama, budaya, dan tradisi sejak era Kerajaan Mataram Islam sudah mengakar dan menguat terkait tentang alam, manusia, dan ketuhanan.


Pada bulan Oktober ini tepatnya di pertengahan bulan, ada selebaran undangan di media sosial untuk mengadakan dakwah bertema Ukhuwuah Islamiyah yang rencananya digelar di alun-alun Utara dan Masjid Gedhe Kauman Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Adapun yang hadir untuk mengisi acara tersebut, terdiri dari pendakwah-pendakwah yang sudah sangat populer di masyarakat karena video mereka sering nangkring di Youtube. Namun, pendakwah-pendakwah itu juga dikenal terkait sikap keislamannya yang mengusung salah satu ideologi yang telah dilarang pemerintah.

Sehingga pada pelaksanaannya mendapat masalah terkait tidak diberikannya izin untuk melaksanakan acara tersebut. Kemunculan masalah ini bagi penulis bukan sesuatu yang mengherankan. Mengingat para pendakwah yang mengisi acara itu memang terkadang di dalam mendakwahkan ajarannya sering melupakan sejarah besar bangsa ini.

Entah sengaja lupa atau memang ingin menghilangkan memori sejarah negeri ini, dakwah-dakwah yang disampaikan juga sering melihat agama secara hitam putih. Bahkan lebih jauh ingin menggusung atau mengganti ideologi sebuah negara.

Tulisan ini sejatinya ingin melihat kembali sejarah negeri ini yang sering tidak pernah dilihat lebih jauh oleh para pendakwah-pendakwah yang mengisi acara tersebut, utamannya berkaitan dengan agama, budaya, dan tradisi yang berkembang di Kerajaan Mataram Islam. Mengingat jauh sebelum bangsa Indonesia berdiri seperti sekarang dan jauh sebelum ustad-ustad itu hadir melalui teknologi masa kini.

Berbicara agama, budaya, dan tradisi sejak era Kerajaan Mataram Islam sudah mengakar dan menguat terkait tentang alam, manusia, dan ketuhanan. Bahkan jauh sebelum Kerajaan Mataram Islam itu sendiri berdiri. Karena selama ini telah banyak beredar bahwa apa yang dilakukan oleh masyarakat, khususnya masyarakat Jawa yang masih memegang teguh tradisi dan kebudayaan para leluhur, sering dicap negatif bahkan dicap syirik oleh sebagian ustad-ustad ‘populer’ youtube.

Pada titik inilah tulisan ini ingin melihat adanya ‘geneologi budaya dan agama’ dari era Kerajaan Mataram Islam yang sering dilupakan itu. Hal ini pun tidak lepas dari tokoh-tokoh Mataram Islam pada zaman dahulu yang dengan keluhurannya mengajarkan agama dengan cara-cara yang santun dan beradab.

Hal pertama yang bisa dilihat adalah melalui sikap. Sikap luhur pertama yang ditunjukkan para Tokoh Mataram Islam adalah sikap seorang Ki Ageng Giring. Cerita berawal pasca keruntuhan Kerajaan Majapahit bercorak Hindu-Budha, seperti telah diketahui bersama, kerajaan-kerajaan yang ada di Nusantara kemudian beralih kepada kerajaan bercorak Islam. Ki Ageng Giring dan Ki Ageng Pemanahan yang merupakan murid langsung salah satu wali Tanah Jawa (Walisongo), yakni Sunan Kalijaga. Mengajarkan kedua muridnya itu untuk melakukan tirakat terkait siapa yang berhak mendapat ‘wahyu keprabon’ (wahyu kepemimpinan) untuk mendirikan atau memimpin kerajaan Mataram Islam kelak.

Dari wejangan yang diberikan Sunan Kalijaga untuk melakukan tirakat saja sudah menunjukkan cara-cara Islami bahwa jika ingin mendapatkan sesuatu harus dilalui dengan cara-cara tirakat atau dalam bahasa Arab ‘thariqah’ bermakna ‘jalan yang dilalui’, yang kemudian dalam bahasa Indonesia menyerap jadi tirakat atau tirakatan. Tirakat berarti menjalani laku spiritual yang dalam bahasa tasawuf disebut riyadhah, yakni menjalankan laku untuk mengendalikan atau mengekang hawa nafsu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan ‘wahyu keprabon’.

Seiring berjalannya waktu ‘wahyu keprabon’ itu pun jatuh kepada Ki Ageng Giring berupa kelapa (degan) yang jika diminum airnya dialah yang nantinya akan memimpin Kerajaan Mataram Islam. Namun karena kejadian satu dan lain hal air kelapa itu pun diminum oleh Ki Ageng Pemanahan. Mengetahui air itu telah diminum oleh sahabatnya sendiri, Ki Ageng Giring tidak lantas iri dan marah, akan tetapi menerima dengan ikhlas sebagai kehendak Allah. Dan keturunan Ki Ageng Pemanahan-lah yang akhirnya mewarisi kepemimpinan Mataram Islam. Sikap atau yang penulis sebut ‘geneologi budaya dan agama’ inilah yang kemudian turun kepada anaknya, yakni Danang Sutawijaya atau yang lebih dikenal dengan Panembahan Senopati.

Panembahan Senopati inilah yang kelak menjadi pemimpin pertama Kerajaan Mataram Islam (1587-1601), setelah membabat Alas Mentaok atau yang sekarang disebut Kotagede (bekas ibu kota Kerajaan Mataram Islam). Seperti halnya apa yang dilakukan oleh ayahnya, yakni Ki Ageng Pemanahan. Panembahan Senopati di dalam membangun dan memimpin Kerajaan Mataram Islam juga dibimbing oleh Sunan Kalijaga dan ulama Mataram Islam saat itu, yaitu Ki Juru Martani. Ada banyak hal atau cara-cara Islami yang kemudian dilakukan Panembahan Senopati dalam membangun kerajaannya ini seperti, tirakat, semedi, tafakur, dan puasa. Bahkan sikapnya ini dicatat di dalam Serat Wedhatama karya KGPAA Mangkunegara IV yang berbunyi, “Contohlah perbuatan yang sangat baik, bagi penduduk di tanah Jawa, dari seorang tokoh besar Mataram, Panembahan Senopati, berusaha dengan kesungguhan hatinya, mengendapkan hawa nafsu, dengan melakukan olah semadi, baik siang atau malam, mewujudkan perasaan senang hatinya bagi sesama insan hidup”.

Seiring perkembangan waktu, tahta Mataram Islam pun kemudian diemban oleh cucunya yang sangat terkenal sekaligus tokoh pahlawan nasional, yakni Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusumo. Tak beda jauh dengan para leluhurnya Sultan Agung pun juga melakukan hal yang sama dengan leluhurnya terkait masalah agama. Bahkan justru di masa Sultan Agung inilah agama dan budaya bisa berdamai secara indah. Salah satu yang dilakukan adalah memaralelkan kalender Jawa terhadap kalender Islam (kalender Sultan Agungan). Selain memaralelkan kalender, Sultan Agung pun juga menciptakan sebuah karya yang penuh ajaran-ajaran keluhuran seperti Sastra Gendhing. Sastra Gendhing sendiri merupakan buah pikir Sultan Agung yang berisi tentang berbagai ajaran yaitu mulai dari ajaran moral, religius, seni, mistik, dan filsafat. Sebuah karya yang mengajarkan mengenai keselarasan lahir dan batin untuk mengingatkan manusia bahwa hidup ada kaitannya antara Tuhan dan Manusia. Nilai-nilai religi yang bercorak lokalitas inilah yang kemudian banyak diajarkan dan disukai oleh masyarakat Jawa. Sehingga pada titik ini Islam tidak selalu dilakoni secara ideologis, tetapi secara kultural.

Selain melahirkan karya sastra, ada banyak yang dilakukan Sultan Agung terkait mengenai keselarasan antara agama dan budaya yang diciptakan melalui sebuah karya seperti, menciptakan batik, tarian, dan ritual-ritual tradisi dalam masyarakat Jawa. Dan dari semua ciptaan itu tidak bisa lepas dari nilai-nilai filosofis dan religius yang sudah tertanam kuat dalam alam pikiran Jawa seperti, Manunggaling Kawulo Gusti, Sangkan Paraning Dumadi, Sedulur Papat limo Pancer, dan lain sebagainya.

Setelah Kerajaan Mataram Islam terbagi menjadi tiga bagian, yakni Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, dan Puro Mangkunegaran. Apa yang menjadi ajaran luhur Sultan Agung ini pun sekali lagi masih tetap diwariskan dan dipraktekkan. Bahkan gaungnya semakin menggema.

Hal itu pertama bisa dilihat dari pendiri kota Yogyakarta sendiri pasca perjanjian giyanti 1755. Di mana Pangeran Mangkubumi atau kelak bergelar Sri Sultan Hamengkubuwo I (pertama). Membangun kota Yogyakarta mengikuti pola manunggaling kawulo gusti dan sangkan paraning dumadi yang ditunjukkan melalui simbol kota atau yang dikenal masyarakat sebagai sumbu filosofis dan sumbu imajiner.

Sumbu filosofis itu pun terlihat dari tata letak arsitektur kota Yogyakarta itu sendiri, yakni Tugu Pal Putih-Kraton Yogyakarta Hadiningrat-Panggung Krapyak. Sedang sumbu imajinernya digambarkan melalui Gunung Merapi-Kraton-Laut Selatan dan semuanya menggambarkan konsep sangkan paraning dumadi serta manunggaling kawulo gusti. 

Bahkan nilai-nilai religius ini menurun kepada cucunya yang kelak dikenal sebagai Pangeran Diponegoro. Tentu kita semua sudah mengetahui sepak terjang dari sang pangeran di dalam perang Jawa. Adapun semua perjuangan Pangeran Diponegoro sendiri didasari sebagaimana para leluhurnya, yakni berangkat dari spiritualisme yang didukung para santri serta kyai. Bahkan sebelum dirinya melakukan perang Jawa, Pangeran Diponegoro pun banyak melakukan tirakat, ziarah, dan semedi.

Dan jika diurai pasca Pangeran Diponegoro, banyak para tokoh-tokoh yang lahir dengan karya-karya keagamaan yang luhur di kalangan Kerajaan Mataram Islam seperti, Ki Ageng Suryomentaram dengan ajaran kawruh jiwanya, Sri Sultan Hemengkubuwono V dengan karya terkenalnya kitab primbon Atassadhur Adammakna yang sekali lagi mengajarkan konsep keselarasan antara alam, manusia, dan Tuhan.

Beralih kepada Kasunanan Surakarta pun tidak jauh berbeda dengan Kasultanan Yogyakarta. Di Surakarta seperti diketahui banyak juga tokoh-tokoh yang lahir dengan karya-karya keagamaan yang tinggi seperti Sri Susuhunan Pakubuwono V (1820-1823) serta tiga pujangga lainnya yakni Raden Ngabehi Ranggawarsita I, Raden Kyai Ranggasutrasna, dan Raden Ngabehi Sastradipura bersama-sama membuat sebuah serat yang sangat terkenal, yaitu serat centhini yang berisi berbagai ajaran-ajaran luhur.

Selain nama-nama yang disebutkan di atas ada lagi beberapa nama yang melanjutkan apa yang disebut sebagai ‘geneologi agama dan budaya’ dalam menjaga sebuah tradisi keislaman yang adiluhung. Seperti Yasadipura I & II yang mengkombinasikan serat Dewaruci dengan ajaran tasawuf-falsafi. Sang cucu pun, yakni Raden Ngabehi Ronggowarsito tidak kalah ketinggalan dalam menciptakan sebuah karya-karya luhur. Ada banyak karya yang lahir dari buah pemikirannya, salah satu yang terkenal mengenai ajaran tentang Tuhan dan Manusia adalah serat Wirid Hidayat Jati.

Bahkan dalam pandangan Sinuhun Pakubuwono X antara Islam dan Jawa tidak ada pertentangan. Sebagaimana yang dikutip Irfan Afifi dalam buku Saya, Jawa, dan Islam, melalui serat Rerepen yang berbunyi, “Raja beserta para pujangga, para wali, dan pandhita, sejatinya anakku. Atas izin (iradah)-nya Allah mengangung-agungkan Islam Jawa. Maka jagalah kesatuan dwi-tunggal itu. Jangan ada yang jauh dari agama (Islam)”.

Sama seperti halnya dua kerajaan di atas, di Puro Mangkunegaran “geneologi budaya dan agama” ini pun juga terjadi. Hal itu terlihat pada pribadi Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa (Mangkunegara I) pendiri Puro Mangkunegaran, yang menurut Prof. Azyumardi Azra, Pangeran Sambernyawa adalah pengamal tarekat Syatariyah, salah satu tarekat yang dinilai sanadnya mu’tabarah dan bersambung hingga ke Rasulullah. Bahkan pada masa Mangkunegara I ini, antara identitas Jawa dan Islam menjadi satu kesatuan. Dan salah satu cucunya pun juga menjadi seorang ulama besar yang dikenal dengan mana Eyang Santri atau Pangeran Djojokusumo, yang konon salah satu dari guru Bung Karno.

Hal demikian pun kemudian diteruskan oleh Ngarsa Dalem Ingkang Wicaksana Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkunegoro IV. Dengan menciptakan sebuah karya ajaran luhur untuk membangun budi pekerti dan olah spiritual. Karya itu terkenal dengan nama serat Wedhatama. Serat ini sejatinya bukanlah dogma agama yang erat dengan iming-iming surga dan neraka, melainkan suara hati nurani, yang menjadi “jalan setapak” bagi siapa pun yang ingin menggapai kehidupan dengan tingkat spiritual yang tinggi.

Semua yang telah disebutkan atas sikap, perilaku serta karya-karya dari para tokoh-tokoh Mataram Islam yang sering dilupakan pada perkembangannya telah mendapatkan konfirmasi berdasarkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh Nancy K Florida, dalam penelitiannya berjudul Javanese Literature in Surakarta Manuscripts, Volume I, II, dan III (2000 dan 2012). Sebagaimana dikutip oleh Irfan Afifi, mengatakan bahwa 500 judul karya yang ada di Kraton Surakarta dan Mangkunegara mengenai sastra hampir kesemuanya merupakan ragam kesusastraan Islam.

“Geneologi budaya dan agama” di dalam perkembangannya juga mendapat konfirmasinya, bahwa Islam yang hadir di lingkungan (keraton) lebih bercorak sufistik oleh karenanya lebih fleksibel menerima kebudayaan lain tanpa kehilangan nafas-nafas Islami.

Jadi sangat tidak masuk akal jika para pendakwah-pendakwah itu dengan ‘lancang’nya ingin menghilangkan warisan budaya leluhur bangsa Indonesia yang adiluhung dan luhur ini. Mengingat apa yang diajarkan pun sangat bermanfaat dan masih relevan dan bahkan sangat relevan buat kehidupan manusia saat ini. Yang dengan segala kemajuan teknologinya telah mencabut nilai-nilai kearifan lokal.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals