Ragam Pemahaman Keagamaan di Kalangan Salafi

Islam yang dilahirkan dari rahim yang sama menghasilkan beragam pemahaman dan aktivitas di dalamnya


batam.tribunnews

Islam sebagai agama rahmatan lil alamin menjadikan beragam corak dan ajaran yang berkembang di dalamnya. Hal ini tidak saja dilihat dari pemikiran namun juga dapat dilihat dari aktivitas kesehariannya. Dengan demikian, Islam yang dilahirkan dari rahim yang sama menghasilkan beragam pemahaman dan aktivitas di dalamnya.

Kenyataan di atas dilihat dalam Salafi yang merupakan sebuah gerakan pemahaman keagamaan dapat teridentifikasi dengan jelas melalui identitas kesehariannya. Hal ini setidaknya dapat ditemukan dalam gaya dan style berpakaianmereka.  Kebiasaaan keseharian dalam hal ini dapat berupa celana cingkrang dan berjenggot panjang untuk kaum laki-laki. Sedangkan kaum perempuan penampilan mereka adalah dengan memakai cadar hitam. Dengan demikian, secara sosial keberadaan mereka mudah teridentifikasi dengan kesamaan dalam berbusana.

Kenyataan di atas apakah dapat dikatakan semua yang Salafi adalah sama dalam hal pemikiran keagamaannya? Ataukah mereka sesama Salafi juga terdapat beragam pemikiran dan praktek keagamaan di dalamnya? Untuk menjawab problem di atas akan dijawab melalui sekilas wawancara dan interview serta pengamatan langsung dalam kehidupan keseharian dan pemikiran keagamaan mereka. Dengan melalui kajian ini diharapkan mampu menemukan beragam karater yang terdapat di kalangan Salafi.

Identitas Salafi sebagai komunitas Islam dapat dengan mudah dikenali. Hal ini terkait model pakaian, gaya dakwah, pemikiran dan aktifitasnya di masyarakat. Mereka ini cenderung terbatas dalam pergaulan dan cenderung tertutup. Kondisi seperti ini adalah Salafi yang konservatif dan dengan sesama Salafi yang tidak sepaham pun mereka tidak bertegur sapa. Dengan demikian, Salafi seperti ini memiliki prinsip sendiri dalam memahami ajaran Islam dan pengamalannya.

Kenyataan di atas merupakan bagian dari rujukan utama dalam kelompok. Hal ini sebagaimana dalam kitab al-Barbahari yang menganggap selain mereka adalah ahlul bid’ah. Oleh karenanya mereka tidak bersedia bergaul dan lebih baik berteman dengan anjing atau monyet. Dengan demikian, pemahaman tersebut menjadikan keterbatasan interaksi dengan sesama.

Pemikiran di atas adalah berasal dari Al-Barbahari (w. 941 M.) seorang imam Ahlus Sunnah di negeri Irak. Hal ini dikarenakan imam tersebut berasal dari kalangan mazhab Hanbali. Sosok pengetahuan dan kepribadiannya sehingga menjadikannya seorang ulama terkemuka dan disegani dimasanya.

Selain itu, beliau memiliki karya yang banyak namun karya tulisnya yang mampu bertahan dan dikenal sampai sekarang adalah Syarhus Sunnah, sebuah kitab akidah dan manhaj Sunni. Dengan demikian, melalui buku-buku inilah kemudian dijadikan sebagai pemahaman kelompok ini dan terdapat pemahaman yang beragam pula.

Pemahaman di atas, memiliki implikasi sosial di mana mereka cenderung menutup diri. Hal ini juga didukung oleh keseharian mereka jika diberi salam maka tidak menjawabnya melainkan membuang muka. Kenyataan ini tidak hanya dengan mereka yang tidak sepaham saja melainkan dengan sesama Salafi yang dianggapnya lebih terbuka dengan komunitas lain. Dengan demikian, Salafi Konservatif ini memiliki pemahaman yang berbeda dengan Salafi.

Bentuk Salafi sebagaimana terlihat di atas tidak bekembang pesat dan cenderung menurun pengikutnya. Hal ini terlihat dalam keseharian ibadahnya dalam mushalla yang kecil. Selain itu pola pembelajaran di dalamnya sangat terbatas dengan talaqqi ke guru mereka. Dengan demikian, keberadaan Salafi tersebut menjadi bagian yang berbeda dengan kelompok serupa dengan sesama Salafi.

Berbeda dengan Salafi di atas, komunitas Salafi yang terbuka dalam hal pergaulan yang luas. Hal ini ditemukan di kalangan STDI al-Syafi’i Jember. Identitas keseharian tetap mencerminkan Salafi pada umumnya namun memiliki pemikiran yang berbeda dengan Salafi sebagaimana dijelaskan di atas.

Salafi yang akomodatif ini seperti menurut Salafi yang berpegang teguh pada ajaran asalnya dianggap sudah keluar dari ajaran aslinya. Dengan demikian, mereka secara asalnya sama juga memiliki beragam pemahaman dan perbedaan.

Salafi terbuka ini menganggap bahwa perbedaan adalah sesuatu yang wajar dalam kehidupan keberagamaan. Hal ini sebagai bentuk kurangnya memahami perbedaan dalam fikih sebagaimana dalam kitab Bidayatul Mujtahid.

Keterbukaan akan adanya perbedaan inilah menjadikan komunitas Salafi seperti ini lebih menerima beragam corak atas komunitas lainnya. Sehingga komunitas ini dapat diterima di masyarakat umum dengan baik. Dengan demikian, perbedaan paradigma dalam memahami ajaran menjadikan keterbukaan dalam menjalankan kehidupan di masyarakat.

Salafi seperti di atas juga didukung oleh kehadiran pendidikan tinggi. Hal ini terlihat di Jember sebuah Perguruan Tinggi(PT) yang dikenal dengan STDI Imam al-Syafi’i. Staf pengajar yang ada di dalamnya adalah sebagian besar alumni Madinah baik S1, S2 maupun S3 dengan beragam keahlian.

Keterbukaan ini juga terlihat aktivitas mereka dalam Asosiasi Ilmu Hadis (ASILHA) sebuah komunitas dosen dan akademisi hadis di Indonesia. Interaksi akademik STDI dengan PT lainnya dapat terlihat keaktifan dalam mengikuti kegiatan di asosiasi maupun keterlibatan kepengurusan dalam asosiasi untuk meningkatkan kualitas manajemen dan prmbelajaran di dalamnya. Dengan demikian, melaui kehidupan kebersamaan dalam perkumpulan di atas menjadikan kelompok Salafi ini tidak terasing dengan komunitas lainnya.

Fenomena di atas juga terlihat dalam dinamika mahasiswa yang kuliah di kampus. Hal ini setidaknya dari input yang beragam tidak terbatas di kalangan mereka. Sebagaimana pernyataan seorang mahasiswa dari Aceh yang berasal dari lingkungan Muhammadiyah. Model seperti ini juga ditemukan pula dengan organisasi lainnya. Dengan demikian, Salafi ini cenderung moderat terlihat dari dinamika yang ada.

Sikap luwes para mahasiswa STDI Imam Syafii Jember juga merupakan bagian dari keterbukaan Salafi. Hal ini terlihat mahasiswa dengan mudah berinteraksi sosial dengan pihak-pihak lain di lingkungan kampus setempat maupun sesama mahasiswa lain di Jember dan bahkan lingkup nasional. Dengan demikian, pola ini dapat menggambarkan inklusifitas dalam berfikir dan berinteraksi.

Selain hal di atas, di antara dosen di STDI melanjutkan kuliah di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan PTKI lainnya. Hal ini sebagaimana terlihat dalam pemikiran mereka yang cenderung lebih terbuka terutama kaitannya dengan beragam persoalan keagamaan dan pembahasannya. Mereka ini alumni Madinah dan mampu mengkaji model pembelajaran Islam lain di kampus yang berbeda dengan kampus sebelumnya. Dengan demikian, fenomena ini jelas tidak akan terjadi jika dalam pemahaman yang masih tertutup.

Hal di atas juga menjadikan Salafi yang lebih terbuka ini diterima di masyarakat luas. Mereka ini selain pergaulannya tidak terbatas dan bergerak di pendidikan baik di peguruan tinggi maupun di bawahnya sekolah dasar dan menengah.

Hal tersebut juga didukung oleh semangat pengabdian yang tulus melalui kegiatan sosial dan bahkan membantu dengan adanya mobil ambulan yang dapat dipergunakan dalam kegiatan tertentu. Dengan demikian, melalui sosial kemasyarakatan ini pula masyarakat luas akhirnya dapat menerima kehadiran Salafi model seperti ini.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Alfatih Suryadilaga

Dr. H. Muhammad Alfatih Suryadilaga, S.Ag. M.Ag. merupakan Asosiate Professor dalam Matakuliah Hadis di Prodi Ilmu Hadis Fak. Ushuluddin dan Pemikiran Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Sekarang menjabat sebagai Kaprodi Ilmu Hadis dan Ketua Asosasi Ilmu Hadis Indonesia (ASILHA). Selain itu, sebagai Ketua Yayasan Pondok Pesantren al-Amin Lamongan Jawa Timur. Karya tulisan bisa dilihat  https://scholar.google.co.id/citations?user=JZMT7NkAAAAJ&hl=id.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals