Cadar Menurut Muhammad Al-Ghazali: Syariat atau Budaya?

Muhammad Al-Ghazali membuat pertanyaan sindiran "manakah yang lebih peduli menjaga kehormatan agama (wanita), daripada Allah dan rasul-Nya?"


gambar: kompasiana

Beberapa waktu yang lalu jilbab -sebagai salah instumen yang bagi mayoritas dianggap sebagai penutup aurat perempuan, kembali menjadi topik hangat di media sosial. Kembali booming-nya polemik ini bermula dari pernyataan kontroversial Sinta Nuriyah Wahid, istri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid atau Gus Dur di salah satu channel Youtube yang mengatakan bahwa menurutnya jilbab tidaklah wajib bagi seorang muslimah.

Baca juga: Berjilbab tapi Lupa Menutup Aurat

Secara umum argumen yang dibangun adalah bahwa jilbab itu hanyalah jenis pakaian sebagaimana celana, baju juga salah satu jenis pakaian. Jilbab hanyalah nama dari salah satu jenis bentuk pakaian. Karena itu, jilbab pada hakikatnya tidaklah wajib yang wajib adalah menutup aurat. Jadi semua ulama sepakat bahwa menutup aurat itu adalah wajib, namun pendapat ulama tentang batasan aurat itu berbeda-beda.

Terlepas dari pro-kontra mengenai pernyataan tersebut, bagi penulis mencuatnya polemik ini menjadi wajar jika mengingat belakangan ini di Indonesia, khususnya dalam beberapa komunitas, cadar sedang menjadi tren. Mulai populernya pemakaian cadar ini agaknya tidak bisa dilepaskan dari penyebaran paham wahabi yang nampak mengharuskan wanita muslimah untuk menutup wajah karena dianggap aurat. Artinya dalam perspektif ini, jangankan tidak menggunakan jilbab, menutup wajah saja-dengan menggunakan cadar adalah sebuah kewajiban bagi perempuan menurut mereka.

Baca juga: Ragam Pemahaman Keagamaan di Kalangan Salafi

Dari fenomena tersebut penulis ingin membahas mengenai status cadar bagi perempuan dalam Islam. Untuk menjawab hal tersebut pada tulisan ini penulis akan menguraikan pendapat Muhammad Al-Ghazali, guru Yusuf Qardhawi tentang cadar tersebut.

Menurut Muhammad al-Ghazali, Nabi saw menyaksikan wajah-wajah wanita terbuka baik di pertemuan-pertemuan umum seperti di pasar maupun di masjid. Nabi saw. juga tidak pernah memerintahkan mereka untuk menutup wajah mereka. Artinya wajah itu bukan aurat perempuan bagi Muhammad al-Ghazali. Dari fakta tersebut beliau kemudian membuat pertanyaan sindiran “manakah yang lebih peduli menjaga kehormatan agama (wanita), daripada Allah dan rasul-Nya?”

Alasan-alasan pendapat beliau tersebut didasarkan pada beberapa ayat dan hadis, antara lain:

1. Seandainya wajah perempuan di masa Nabi saw tertutup, mengapa kaum muslimin dan para sahabat diperintahkan oleh Allah dan rasul-Nya agar menjaga pandangan mereka. Lihat Al-Qur’an surah an-Nur ayat 30 Allah swt berfirman:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ

Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, “hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluannnya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka perbuat. 

Perhatikan kalimat Al-Qur’an, hendaklah mereka menahan pandangan mereka dan memelihara kemaluannnya sebab perbuatan itu adalah lebih suci bagi mereka.” Menurutnya, bagaimana mungkin Allah dan rasul-Nya memerintahkan para sahabat dan kaum muslimin menjaga pandangannya kalau wajah-wajah wanita muslimah itu tertutup? Ini menunjukkan bahwa wajah wanita muslimah pada masa Nabi saw nampak saat itu. Selain menjaga pandangan juga kemaluan sebab birahi seks akan muncul berawal dari pandangan ketertarikan pada lawan jenis.

Baca juga: Cadar dan Penggiringan Opini

2. Pada masa Nabi saw pernah menemui seorang sahabat yang sudah beristri yang kala itu bangkit nafsu seksnya karena melihat wanita lain maka Nabi Saw memerintahkan sahabat tersebut untuk menemui istrinya. Sebab pada hakikatnya apa yang dimiliki oleh wanita tersebut juga dimiliki oleh istrinya. Berdasarkan hadis riwayat Ahmad, Muslim, Tirmidzi dan Abi Daud Nabi saw pun pernah mengalami hal yang sama sehingga ia mendatangi istrinya Zainab dan memenuhi hajatnya.

Jadi bukan wanita yang diwajibkan untuk menutup wajahnya tetapi laki-laki yang diwajibkan untuk menahan pandangannya.

3. Di haji Wada Nabi saw ada berkhutbah yang khusus bagi perempuan sehingga seorang wanita berdiri dengan wajah kehitaman (ingat: wajahnya nampak) dan bertanya kepada Nabi saw. Dalam riwayat lainnya disebutkan, “aku menyaksikan wanita-wanita itu ketika tangan-tangan melemparkan perhiasan-perhiasan wanita mereka ke arah baju yang digelar oleh Bilal. Sekali lagi wajah dan tangannya nampaknya di hadapan sahabat yang lainnya. Pertanyaannya, bagaimana mungkin periwayat hadis tahu bahwa wajah wanita itu kehitaman jika wajahnya sendiri tidak nampak?

4. Saat shalat dan haji diwajibkan untuk membuka wajah. Sementara dalam shalat wajib hukumnya menutup aurat. Jika wajah adalah aurat tentu wajib hukumnya menutup wajah ketika melakukan ibadah wajib tersebut.

Baca artikel lainnya: Perempuan dan Pakaiannya: Cerita Tentang 3 Mahasiswi

5. Dalam riwayat Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, al-Nasai, Abi Daud, Ibn Majah, Malik dan al-Darimi menyebutkan bahwa, “seorang wanita menyerahkan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah saw, lalu nabi saw memandangnya, lalu menundukkan wajahnya tanpa memberi jawaban. Sekali lagi, wajah wanita itu terlihat oleh Nabi saw dan sahabat yang lain. Begitu juga pada riwayat yang lain ketika seorang wanita menghadap kepada Nabi saw dan Nabi saw mengalihkan pandangan salah seorang sahabat karena memandang wajah wanita tersebut.

6. Dalam riwayat Abi Daud, seorang sahabat heran karena ada wanita bernama Ummu Khallad datang kepada Nabi saw dengan menutup wajahnya, sahabat itu berkata, “engkau datang menanyakan tentang anakmu sedangkan engkau mengenakan penutup wajah? Menurut al-Ghazali, sikap heran sahabat pada penutup wajah yang dikenakan Ummu Khallad, adalah bukti bahwa penutup wajah bukan bagian dari ibadah.

Baca juga: Tunisia Kembali Larang Penggunaan Cadar

7. Mengutip pendapat Abu Bakar al-Jashshash yang bermazhab Hanafi, al-Qurthubi yang bermazhab Maliki, al-Khazin yang bermazhab Syafi’i, Ibnu Qudamah yang bermazhab Hambali dan juga Ibn Katsir: semuanya sepakat bahwa wajah dan tangan tidaklah wajib ditutup.

Sebenarnya masih ada dalil-dalil yang lain yang diajukan oleh Muhammad al-Ghazali tentang cadar yang tidak dipaparkan dalam tulisan ini. Namun pada hakikatnya beliau berpendapat bahwa wajah dan tangan bukanlah aurat berdasarkan pendapat empat mazhab; Bagi beliau cadar itu hanyalah budaya dan bukan bagian dari perintah agama alias ibadah. Apa yang dikemukakan oleh al-Ghazali juga dikukuhkan oleh ulama-ulama Al-Azhar bahwa cadar itu bukanlah perintah agama tetapi lebih pada persoalan budaya. Wallahu A’lam bis Shawab.

Sumber bacaan: Muhammad al-Ghazali, dalam bukunya as-Sunnah an-Nabawiyah baina Ahli al-Fiqh wa Ahli al-Hadis yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Sunnah Nabi, dalam Pandangan Ahli Fikih dan Ahli Hadis.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals