Hidup Seperti Itu, Babi!

Babi kayak kita ini gak bisa apa-apa di hadapan takdir Tuhan dan tuan. Kalau Tuhan sudah mentakdirkan tuan kita lapar, bisa jadi di antara kita bakal dipanen...


Gambar: HiTekno.com

Pagi ini adalah pagi yang tidak bersahabat bagi babi-babi di pekarangan Pak Johnson. Sebab setiap pagi, para babi akan dikeluarkan dari kandangnya oleh Pak Johnson untuk berjemur matahari. Namun pagi ini hujan deras disertai angin kencang. Sehingga para babi harus mendekam di kandang mereka yang besar dan dipenuhi tumpukan jerami untuk alas mereka tidur.

“Haduuh… Hujannya deres banget. Jadi gak bisa berjemur, deh. Ngoook…,” kata Popol, babi paling pemalas di kandang tersebut.

Gak papalah, Pol. Setidaknya kamu bisa tidur lagi nanti. Hahaha… Ngook…,” sahut Nana.

“Aku tahu, keseharianku cuma tidur sama makan doang. Tapi hari ini aku butuh cahaya matahari. Badanku kurang segar aja akhir-akhir ini. Ngook…”

“Udahlah terima aja. Kalau kamu perlu panas gak harus matahari. Pak Johnson punya pembakaran di rumahnya. Nanti kita minta dia, biar kita bisa berjemur di sana. Hahaha… Ngook”

“Yang ada kita jadi santapan makan malam keluarga Pak Johnson, bodoh! By the way, setiap kali kita ngobrol jangan kebanyakan bilang ngook. Kasihan penulis cerita kita kecapekan karena harus nulis ngook di setiap akhir kita ngomong.”

“Hahaha… Iya juga ya. Kasihan nanti dia males nulis cerita kita lagi.”

“Ngomong-ngomong, Na. Kamu kan terkenal bijak di antara babi-babi yang lain. Nah, kamu bisa jelaskan kenapa kita diciptakan?”

Baca juga: Kehadiran Binatang dalam Kisah para Sufi

Nana yang mendengar pertanyaan Popol langsung membeku sambil menatap wajah dengan penuh heran.

“Jawab, babi! Jangan diem aja!”

“Sabar, babi! Emang kenapa kok kamu tanya kayak gitu?”

“Ya gimana ya, Na. Kita ini udah diciptakan sama Tuhan di dunia ini serasa gak bermakna.”

“Kenapa gitu?” tanya Nana dengan raut wajah heran.

“Lihatnya biasa aja dong, babi! Gak usah kaya gitu!”

“Hahaha… serius. Aku agak heran kenapa babi pemalas kaya kamu bisa mempertanyakan hal semacam itu. Apa karena kamu banyak makan dan tidur? Sampai-sampai nutrisi makananmu mengendap di otak? Hahaha…”

“Memangnya kenapa sih? Ada yang salah dari pertanyaanku, babi? Entah kenapa berasa aneh aja kita hidup. Kalau pada akhirnya kita mati. Kenapa gak sekalian aja kita gak pernah dilahirkan.”

“Popol-popol… Babi kayak kita ini gak bisa apa-apa di hadapan takdir Tuhan dan tuan. Kalau Tuhan sudah mentakdirkan tuan kita lapar, bisa jadi di antara kita bakal dipanen sama mereka.”

“Lah? Terus kenapa kita hidup kalau akhirnya kita mati? Memang itu urusan Tuhan sih, tapi konyol rasanya kita dihidupkan sekaligus kita bakal dimatikan. Jadi gak ada yang namanya hidup. Wong, kita pada akhirnya kembali binasa.”

“Sekarang aku tanya, Pol. Kenapa kamu bangun tidur di setiap pagi hari?”

“Apa sih, babi! Gak jelas pertanyaanmu! Yang pasti aku bangun tidur karena lelahku hilang. Terus aku harus bangun pagi-pagi karena pengen menikmati cahaya matahari. Aku juga perlu makan. Kalau tidur terus aku bisa mati karena kelaparan.”

Seketika, Nana kemudian melemparkan tumpukan jerami ke wajah Popol.

“Apa sih kamu, babi! Main lempar aja. Mau main lempar-lemparan ya?”

“Hahaha… Nah, itu kamu harusnya tahu jawabannya.”

“Lah? Emang apa, Na?”

“Kalau memang kamu bangun pagi hari buat apa yang udah kamu jelasin tadi, kenapa pada akhirnya kamu bakal tidur lagi? Jadi seolah semua yang kamu lakuin setiap hari itu sia-sia kalau pada akhirnya kita bakal tidur lagi. Habis makan kenyang, keesokannya laper lagi…”

“Ya kalau laper, makan lagilah, babi!” sahut Popol dengan melempar jerami balasan ke arah Nana.

“Hahaha… Ya begitulah hidup, Pol. Kita gak perlu mempertanyakan mengapa kita hidup, tapi yang harus kita lakukan adalah menjalaninya. Memang hidup itu penuh kesia-siaan. Tapi yang sia-sia itu, kita harus jalani dengan bahagia.”

Baca juga cerpen inspiratif lainnya: Sang Tukang

“Pintar juga kau, Na. Tapi, gimana mau bahagia? Kalau yang kita lakukan ini pada akhirnya gak berarti? Kalau yang selama ini kita kerjakan bakal termakan oleh waktu. Dan semua yang kita lakukan pada akhirnya kita mati.”

Nana yang mendengar pertanyaan itu tampak sedikit kesusahan dalam menjawabnya. Dia kemudian melihat ke arah lubang jendela kandang dan ternyata hujan sudah reda. Terdengar suara Pak Johnson membuka pintu kandang besar itu. Kemudian para babi keluar untuk sarapan pagi. Meski waktu sudah mendekati siang hari.

“Wah langitnya indah!” teriak Nana sambil menghela nafas.

“Udaranya juga jadi lebih segar”

“Iya, Pol. Gak sia-sia hujan tadi pagi.”

“Tapi percuma kan? Kalau kita menikmati udara sejuk ini cuma sebentar. Pada akhirnya nanti sore juga bakal sesak lagi karena aktivitas pabrik air mineral di dekat sini.”

“Tapi yang sebentar ini menyenangkan bagi kita untuk saat ini, Pol. Ya walaupun nanti gak sesegar ini lagi. Heuheu…”

“Bisa aja nih, babi. Oh iya! Kamu belum jawab pertanyaanku!”

“Bener juga, Pol, hahaha… Jadi, aku mau nanya. Apa kamu gak bosen? Tiap harimu cuma makan dan tidur?”

“Sama sekali nggak tuh, Na. Memang dibanding babi-babi yang lain, aku tidur lebih awal di sore hari. Ketika yang lain ngobrol-ngobrol di bawah rembulan malam, aku lebih milih tidur. Itu pun karena aku gak mau staminaku dihabiskan untuk begadang sampai larut malam. Tapi aku bukan tipe babi yang tidur sepanjang matahari bersinar. Aku malah lebih suka beraktivitas di siang hari.”

“Yang kamu lakuin selama siang hari apa aja, Pol?”

“Ya banyak. Kadang main kejar-kejaran sama burung-burung gereja. Kadang main jerami sama babi-babi lain. Atau mungkin cari kesibukan lain,” kata Popol sambil menikmati sarapan paginya.

“Kalau begitu, apa kamu gak bosen hidup di pekarangan ini?”

“Ya enggak juga, Na. Kan aku bisa ngelakuin banyak hal di sini. Mungkin cari kesibukan baru. Cari teman baru. Atau bahkan cari posisi tidur yang baru. Hahaha…”

“Nah itu kamu tahu jawabannya. Memang semua hal yang kita lakukan pasti bakal terlihat sia-sia. Atau lebih tepatnya akan berakhir hampa. Ketika seorang babi bercita-cita punya delapan anak. Kemudian dia sudah memenuhi cita-cita itu. Maka pencapaian itu terasa hampa setelah dapat digapainya. Jadi yang harus dilakukan babi ini adalah mencari atau membuat cita-cita lain. Puas di dalam kehidupan itu tidak pernah ada.”

“Loh? Kenapa gitu? Jadi kita tidak pernah ada puasnya? Maksudnya gimana?” tanya Popol menatap ke arah Nana sambil mengunyah makanannya.

“Ya, tiap babi pasti punya cita-cita atau target. Saat ia memasang target tersebut, pasti dia membayangkan perasaan puas ketika telah menuntaskan target itu. Tapi setelah menggapai semua targetnya, faktanya mereka malah tidak merasakan kepuasaan yang diharapkan. Kepuasaan yang mereka rasakan hanya sesaat. Lalu mereka bingung apa yang harus dilakukannya lagi jika semua target sudah terpenuhi. Maka yang dia lakukan adalah memasang target baru.”

“Oalah… Jadi maksudmu, kita ini harus mencari sesuatu yang baru dalam menjalani hidup ini?”

“Ya begitulah, Pol. Hidup memang terasa konyol kalau kita membayangkan akhir dari hidup kita. Tetapi yang harus kita pikirkan bukan akhir hidup kita. Yang harusnya kita pikirkan itu adalah menghiasi perjalanan hidup kita ini agar hidup terasa bermakna.”

“Jadi kita dituntut kreatif dalam menjalani hidup ini? Tapi pikiran akan akhir dari segala yang kita lakukan sia-sia ini, gak bisa aku hilangin.”

“Kamu pernah dengar kisah Sisifus, Pol?”

“Sisifus? Ngomong apa sih, babi. Gak jelas!”

“Hahahaha… Jadi Sisifus itu adalah raja yang cerdik, namun jahat. Selama dia memimpin kerajaannya, dia melakukan banyak tindakan kejam dan jahat kepada rakyatnya, bahkan kepada Dewa.”

“Terus-terus?”

“Nah, karena perbuatannya, dia dikutuk oleh Dewa Hermes untuk mendorong batu besar dan berat ke puncak gunung. Setelah batu itu berada di puncak gunung, batu itu akan menggelinding lagi turun ke bawah. Dan dia dihukum untuk terus melakukan itu selama-lamanya.”

Baca juga: Kekayaan, Ketakwaan, dan Keadilan Versi Kephalos

“Wah, kutukan yang begitu kejam. Itu adalah kutukan terkejam dan terhina yang pernah kudengar. Gimana enggak? Atas semua perjuangan yang dilakukan Sisifus, semua itu seolah sia-sia. Lalu apakah Sisifus bunuh diri karena jenuh dengan kutukan itu?”

“Pertanyaan bagus, Pol. Jawabannya tentu tidak. Dia melakukan itu dengan bahagia.”

“Kenapa dia bisa bahagia? Itu kutukan yang teramat menjenuhkan dan sangat kejam yang pernah dilakukan seorang babi.”

“Popol, dia itu manusia. Dia raja dari kerajaan manusia, bukan kerajaan babi. Hahaha…”

“Oh… Kukira dia seekor babi. Terus? Kenapa dia menjalaninya dengan bahagia?”

“Karena dia tahu semua kekonyolan itu tidak akan pernah selesai, jadi dia bayangkan kalau mendorong batu ke puncak gunung itu adalah hobinya. Dan selama dia mendorong batu itu, dia menggunakan teknik-teknik mendorong batu yang berbeda. Itu dilakukannya agar dia tidak bosan dalam menjalani kutukannya itu. Bahkan dia juga mencari jalur pendakian yang berbeda agar pemandangan selama mendaki yang ia lihat terlihat berbeda.”

“Jadi kita benar-benar dituntut kreatif dalam menjalani hidup yang serba konyol ini?”

“Ya begitulah, Pol. Hahaha… Jadi, hal kreatif apa yang bakal kamu lakuin sekarang?”

“Pengen main Mobile Legend, biar kayak manusia.” []

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Bagaimana pendapat Anda tentang cerpen di atas? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga membaca kumpulan cerpen menarik lainnyadi sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Naufal Dwi Putra Agusti
Nama saya Naufal Dwi Putra Agusti, biasa dipanggil Naufal. Saya lahir di Yogyakarta,14 September 2001. Dan sekarang saya tinggal di Kampung Demakan Lama, Tegalrejo, Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Cerpen

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals