Cara Rasulullah SAW Menghargai Kemanusian

"..Bagi sebagian oknum agamawan, agama lebih penting ketimbang nilai-nilai kemanusian.."


Bagi sebagian oknum agamawan, agama lebih penting ketimbang nilai-nilai kemanusian. Sehingga mereka berpikir seorang manusia itu baru dihargai sebagai manusia ketika ia menganut agama yang sama dengan yang ia anut. Parahnya lagi sifat “rasis” dalam beragama ini pada tahapan selanjutnya membawa pelakunya untuk bersifat apatis dan tidak menghiraukan apa yang terjadi pada manusia yang berbeda agama dengannya. Bahkan yang muncul dari lisannya adalah rasa syukur dan suka cita ketika mendengar saudara sesama manusianya yang berbeda akidah itu mengalami sebuah keburukan ataupun musibah-musibah tertentu.

Selain itu, sikap tidak menghargai kemanusiaan ini semakin menemui titik nadirnya ketika sebagian umat Islam hari ini tidak lagi menghargai kemanusiaan teman sesama muslimnya yang berbeda secara mazhab dengannya. Mereka memperlakukan saudaranya sesama muslim ibarat non muslim –bahkan lebih buruk dari itu- yang halal dihina, dicaci-maki, bahkan dibunuh sekalipun. Konsep beragama yang mereka anut telah membawa mereka untuk memisahkan nilai-nilai kemanusiaan dengan nilai-nilai keagamaan yang pada dasarnya mempunyai relasi yang sangat erat dan saling berkait-kelindan.

Tentunya hal ini harus menjadi perhatian kita sebagai seorang muslim. Jangan sampai kemusliman kita justru menjadikan kita seolah-olah hidup di dunia yang sempit dan berbeda dari dunia manusia pada umumnya. Tidak mengenal belas kasihan antar sesama manusia yang pada dasarnya adalah sama-sama ciptaan Tuhan yang Maha Esa. Kita tidak perlu khawatir dengan anggapan kalau menerapkan prinsip humanisme dalam kehidupan akan menyebabkan kita mengikuti teori barat (tasyabbuh), namun kita cukup mempelajarinya dari bagaimana Nabi kita Muhammad Saw memperlakukan manusia di tengah keberagaman sifat dan agama mereka.

Pernah suatu ketika Nabi Muhammad Saw sedang duduk-duduk bersama beberapa orang sahabat. Tiba-tiba beberapa orang dari orang-orang Yahudi tengah membawa jenazah salah seorang dari saudara mereka yang baru saja meninggal dunia. Melihat hal itu, Rasulullah memerintahkan kepada para sahabat untuk berdiri demi menghormati Yahudi tersebut. Salah seorang sahabat lantas berujar, “itu jenazahnya Yahudi wahai Rasul”. Lalu dengan tegas Rasul menjawab, “bukankah dia manusia?Jika kalian melihat manusia yang diarak seperti itu maka berdirilah!”.

Kisah pendek di atas hanyalah salah satu di antara puluhan riwayat yang menceritakan tentang prinsip humanisme yang dipegang erat oleh Nabi. Di kesempatan lain, Nabi juga pernah didatangi oleh seseorang perempuan yang mengaku tengah hamil lantaran berzina. Mendengarkan pengakuannya, Rasulullah tidak lantas langsung merajamnya, akan tetapi menyuruhnya agar melahirkan anaknya terlebih dahulu. Lalu beberapa bulan setelah itu dia kembali menghadap Rasul dengan membawa anak yang baru saja ia lahirkan. Ternyata Rasul kembali menyuruhnya pulang dan menyusukan anaknya sampai dia bisa disapih.

Tanpa dikira, ternyata benar setelah anaknya disapih, perempuan tersebut kembali menghadap Rasul dan meminta supaya dirinya diadili sesuai dengan hukum Islam. Maka Rasulpun menitipkan anaknya ke salah seorang kaum muslimin dan memerintahkan umat Islam lainnya untuk merajamnya. Hal serupa juga terjadi dengan Maiz ibn Malik al-Aslami ketika mengakui kalau dirinya telah berzina. Ketika itu Rasul juga tidak langsung merajamnya, namun beliau berpaling dari Maiz seakan-akan enggan untuk menerapkan hukuman rajam kepadanya.

Namun setelah ia memaksa Nabi dan empat orang laki-laki lain juga sudah bersaksi atas apa yang ia lakukan, akhirnya Nabipun memerintahkan para sahabat untuk merajamnya. Kedua kisah ini terdapat dalam kitab Shahih al-Bukhari dan Muslim dan berderajat sahih. Itulah dua kasus rajam yang pernah dilakukan langsung pada masa Nabi Muhammad Saw masih hidup. Selain dua kasus tersebut, penulis belum menemukan lagi pernah atau tidaknya hukuman tersebut diterapkan secara langsung oleh Baginda Nabi Muhammad Saw.

Selain itu, selama mengikuti peperangan bersama pasukan muslim (ghazawah), Rasulullah tidak pernah menghilangkan nyawa seseorang secara langsung dengan tangan beliau kecuali hanya satu orang saja, yaitu seorang musyrik yang bernama Ubay ibn Khalaf pada peperangan Uhud di tahun ke-3 hijriah. Itupun beliau lakukan untuk mempertahankan diri agar tidak dibunuh duluan oleh yang bersangkutan. Informasi ini disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam karyanya al-Bidayah wa al-Nihayah dan Muhammad Khudhori Bek dalam karyanya Nur al-YaqinFi Sirah Sayyid al-Mursalin.

Begitu juga ketika mendengar sebagian sahabat yang tetap membunuh musuh yang telah menyerah kalah kepada mereka, beliau marah besar dan mewajibkan kepada sahabat tersebut untuk membayar setengah diat. Sebuah kebijakan yang sangat menghargai kemanusiaan dan nyawa manusia. Meskipun para sahabat beralasan kalau mereka (orang-orang musyrik tersebut) hanya berpura-pura menyerah dan khawatirnya ketika para sahabat mempercayainya, mereka akan menyerang dan membunuhnya. Tapi tetap saja Nabi tidak menerima alasan tersebut.

Demikian pula dengan kejadian seorang sahabat yang meninggal dunia akibat memaksakan diri mandi wajib di tengah malam yang sangat dingin, padahal dia sedang terluka pasca mengikuti sebuah perperangan. Hal itu ia lakukankarena mendengarkan isyarat dari saudaranya yang berfatwa terkait hukum Islam tidak dengan pengetahuan yang memadai. Demi menghargai nyawa seorang manusia, Nabi marah dan menganggap saudaranya itu telah membunuhnya dengan menyuruhnya untuk mandi, padahal sebenarnya bagi orang yang mengalami hal seperti itu cukup bertayamum saja sebagai ganti mandi wajibnya.

Terakhir, terkait dengan aturan perang yang beliau terapkan untuk umat Islam yang mengikutinya. Nabi melarang para sahabat membunuh perempuan, anak-anak, dan orangtua. Tidak itu saja, bahkan beliau melarang para sahabat agar tidak merusak lingkungan dan tumbuh-tumbuhan ketika berperang. Isyarat itu kembali beliau realisasikan dalam peristiwa Fathu Makah di mana beliau membebaskan semua non muslim yang tidak memusuhi umat Islam. Tidak setetespun darah yang mengalir dalam peristiwa bersejarah yang terjadi pada tahun ke-8 hijriah tersebut.

Sebenarnya masih banyak kisah-kisah unik yang perlu kita renungkan secara bersama-sama terkait kebijaksanaan Nabi terhadap kemanusiaan. Seandainya umat ini menjadikan beliau sebagai teladan secara paripurna, maka tidak akan ada lagi permusuhan di kalangan manusia, pembunuhan, bahkan perperangan antar satu kelompok dengan yang lain. Karena nyawa merupakan salah satu anugerah terbesar yang Allah berikan kepada manusia di mana manusia lain diharamkan untuk merampasnya secara paksa tanpa alasan yang benar dan diizinkan oleh syariat serta undang-undang yang berlaku. Allahu A’lam

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
5
Cakep
Kesal Kesal
2
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
2
Tidak Suka
Suka Suka
8
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
6
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Yunal Isra

Yunal Isra, S.S.I adalah mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Aktif sebagai peneliti di Lembaga Pengkajian Hadis el-Bukhari Institute dan pengajar di Darus-Sunnah, Jakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals