Ahli Lingkungan Menemukan Alat “Atasi” Virus Corona

Beberapa studi menginformasikan buruknya kualitas udara juga berpengaruh terhadap daya tahan imunitas seseorang.


Foto: Prof. Pranoto saat uji coba instalasi alat untuk masyarakat Kalbar dan Sorong Papua (Barir)

Pada 30 Mei 2020 para pakar lingkungan hidup yang tergabung dalam Asosiasi Profesional Lingkungan menyelenggarakan seminar online (webinar). Dalam kegiatan tersebut Ketua umum Profesional Lingkungan Dr. Tasdiyanto Rohadi, SP., M.Si., C.EIA melakukan release dua temuan alat atasi virus corona yang ditemukan oleh Prof. Dr. Pranoto, M.Sc., C.EIA., C.WS dari UNS dan Dr. Esrom H. Panjaitan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang bekerjasama dengan tim yang terdiri dari berbagai pakar ekologi, desain, hinggal metal.

Alat yang ditemukan oleh Prof. Pranoto merupakan alat pengolah air dan sampah pirolisis. Alat ini merupakan temuan kedua setelah sebelumnya Prof. Pranoto menemukan sedotan penjernih air. Alat Pengolahan pirolisis tersebut sebagaimana penjelasan dan pemaparan dalam presentasi webinar menunjukkan kemungkinan untuk diaplikasikan dan dimanfaatkan secara umum.

Bahkan Kemenristek Dikti juga turut mendukung pengembangan alat tersebut. Sistem kerja alat tersebut adalah peningkat kualitas air elalui beberapa proses penyaringan.

Untuk alat kedua temuan Dr. Esrom dan tim dinamakan Corona Buster Technology (CBT). Jika alat Prof. Pranoto lebih kepada pengolahan air, alat CBT lebih condong kepada proses pengolahan ion di udara. Alat ini diyakini dapat meningkatkan ion baik (Anion) dengan jumlah berkali-kali lipat. Anion inilah yang kemudian dapat menangkap dan menangkal virus corona.

Hasil Rekomendasi Webinar Profesional Lingkungan

Setelah sukses menyelenggarakan webinar yang dilaksanakan dalam dua rangkaian, ketua Profesional Lingkungan melakukan release rekomendasi hasil dari webinar I pada 23 Mei 2020 dan webinar II pada 30 Mei. Beberapa rekomendasi tersebut akan ditindaklanjuti dan diteruskan pada pihak berwenang seperti Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

Ketua Profesional Lingkungan berharap bahwa anggota Profesional Lingkungan bisa turut dilibatkan dalam Gugus Tugas karna kemampuan dan karya yang berhasil diciptakan menjadi bukti kompetensi SDM Profesional Lingkungan. Berikut merupakan hasil rekomendasi dari kegiatan webinar Profesional Lingkungan.

Pada tahun 2020, Dunia mencatat kejadian pandemi viruskorona 2019-2020 atau dikenal sebagai pandemi Covid 19 Karena telah tersebar secara global di berbagai negara dunia, salah satunya di Indonesia. Pada tingkat Global sebaran Virus Corona telah tersebar di 216 Negara, sedangkan pada tingkat nasional, tersebar di 34 Propinsi, 412 Kota dan Kabupaten di Indonesia.

Merujuk data dan informasi Gugus Tugas Nasional Penanganan Covid 19, tercatat hingga 28 Mei 2020, 24.538 di nyatakan positif, 6.240 di nyatakan sembuh dan 1.496 di nyatakan meninggal. Kebijakan, strategi dan program, penanganan, pencegahan dan pengendalian Virus Corona di Indonesia tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi, sosial  tetapi juga pada sektor keberlanjutan lingkungan hidup.

Baca juga: Corona dan Ibu Kota Berkelanjutan: Cita-Cita Kemajuan Indonesia di Ujung Persimpangan

Pada konteks lingkungan hidup misalnya terdapat dampak negatif yang ditimbulkan dari penanganan virus Corona. Dampak negatif yang muncul antara lain, meningkatnya jumlah volume sampah rumah tangga dan sampah medis, juga terjadinya pencemaran lingkungan dari penyemprotan disinfektan.

Studi kasus di China, negara pertama yang mengalami wabah COVID-19, memperlihatkan bahwa akibat virus corona menyebabkan penambahan limbah medis dari 4.902,8 ton per hari menjadi 6.066 ton per hari. Merujuk kajian dari KLHK (Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) akan terjadi peningkatan 30% limbah medis atau limbah infeksius yang disebabkan oleh penanganan Covid-19. Peningkatan limbah medis juga berpotensi menularkan penyakit jika tidak terkelola dengan baik.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sendiri telah mengeluarkan surat edaran mengenai pengelolaan limbah infeksius, termasuk limbah dari penanganan pasien COVID-19 di fasilitas kesehatan. Menurut Surat Edaran tentang Pengelolaan Limbah Infeksius (Limbah B3) dan Sampah Rumah Tangga dari Penanganan Corona Virus Disease (Covid-19) perlu dikelola sebagai limbah B3 sekaligus untuk mengendalikan dan memutus penularan Covid-19. Sejauh ini pengelolaan limbah B3 masih merujuk pada Incinerator, pertanyaan yang muncul adakah alternatif lain yang lebih berkelanjutan?

Pada sisi lain, praktik pencegahan dan pengendalian Covid-19 tidak bisa dilepaskan dari kondisi lingkungan hidup kita. Semakin baik kualitas lingkungan hidup di sekitar kita maka semakin tinggi pula ketangguhan diri keluarga dan imunitas kita.

Beberapa studi menginformasikan buruknya kualitas udara juga berpengaruh terhadap daya tahan imunitas seseorang. Artinya semakin buruk imunitas seseorang maka semakin rentan terhadap virus di sekitarnya. Demikian halnya dengan pemanfaatan air bersih dan sehat sebagai media ketahanan daya tahan tubuh seseorang. Berkurangnya cairan dalam tubuh atau (dehidrasi) juga menjadikan orang rentang terkena virus.

Sajian air minum yang berkualitas dengan inovasi lingkungan akan berkontribusi pula dalam pencegahan dan pengendalian virus. Artinya proses pemulihan paska pandemi Covid19 sangat erat berhubungan dengan Sumber Daya Alam yang tersedia.

Baca juga: Keharusan Menjaga Keseimbangan Alam dan Manusia dalam Beragama

Profesional lingkungan sangat berempati terhadap pandemi Covid-19, dan merasa terpanggil ikut memberikan sumbangsih bagi kemanusiaan. Profesional lingkungan hadir dari berbagai kompetensi lingkungan yang tersebar di seluruh Indonesia mendorong lahirnya inovasi dan rekayasa lingkungan untuk penanganan, pencegahan dan pengandalian Covid-19, agar tetap menjaga keseimbangan ekosistem lingkungan sebagai bentuk perlawanan nyata terhadap virus Corona.

Oleh karenanya Profesional Lingkungan merekomendasikan beberapa hal di antaranya adalah sebagai berikut :

  1. Profesional lingkungan merekomendasikan dikembangkan pengelolaan  perkotaan sebagai pusat kegiatan manusia dengan lebih berwawasan lingkungan melalui: pengendalian urbanisasi, transportasi, limbah, sampah dan polutan, serta distribusi lapangan kerja ke daerah daerah;
  2. Menggunakan konsep dan teknologi pembasmi virus dan bakteri berbasis green teknologi pada media air yang berkelanjutan;
  3. Menggunakan konsep pemilahan, teknologi UV dan ion serta  teknologi pirolisis untuk mengatasi limbah APD yang berbahan plastik diolah menjadi bahan bakar;
  4. Merekomendasikan alat penjernih/pemurnian kualitas udara dalam ruangan dengan kemampuan mereduksi virus dan mikroba lain dan produksi Anion sebagai vitamin bagi pencegahan penyebaran Covid-19 dan mempercepat penyembuhan pasien corona;
  5. Merekomendasikan para Profesional di bidang lingkungan masuk dalam Tim penanggulangan, pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di tingkat Nasional, Provinsi dan Kabupaten/Kota untuk membantu dalam pengelolaan kualitas udara, air dan limbah. (MB)

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Barir
Muhammad Barir, S.Th.I., M.Ag. adalah redaktur Artikula.id. Ia telah menulis beberapa karya, diantaranya adalah buku Tradisi Al Quran di Pesisir.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Nasional

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals