Al-Qur’an Berwajah Puisi dan Al-Qur’an Bacaan Mulia H. B. Jassin

“Perhatian saya kian lama kian mendalam kepada al-Qur’an. Tidak saya biarkan satu hari berlalu yang saya tidak membacanya. Saya renungkan ayat demi ayat!”


Sumber gambar: Detik.com

Berbicara tentang Al-Qur’an Berwajah Puisi karya H. B. Jassin, tidak bisa lepas dari membicarakan karya H. B. Jassin yang lainnya, yaitu Al-Qur’an al-Karim Bacaan Mulia. Kedua karya ini tidak lepas dari kecenderungan sastrawi yang dimiliki oleh Jassin sebagai pengaruh dari professional concern-nya sebagai sastrawan.

Kedua karya ini tidak jauh dari unsur puisi. Jika pada Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia unsur puisi berada pada bentuk terjemahan, pada Al-Qur’an Berwajah Puisi terletak pada layout dan tata letak penulisan al-Qur’an. Kelahiran Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia merupakan wujud kesadaran religius seorang sastrawan yang muncul pada hari tuanya.

Berkenaan dengan usaha Jassin ini, Hamka memberi tangapan yang positif. Ia menuliskan percakapan langsungnya bersama Jassin pada perjalanan pulang dari ruang sidang. “Perhatian saya kian lama kian mendalam kepada al-Qur’an. Tidak saya biarkan satu hari berlalu yang saya tidak membacanya. Saya renungkan ayat demi ayat!” Penjelasan Jassin tersebut dikomentari seperti ini oleh Hamka dalam kelanjutan sambutannya:

“Maka dapat dipahami jika ia pada mulanya tertarik merenungkan al-Qur’an, lalu tenggelam ke dalam keindahannya, lalu terjalin cinta kepada Tuhan karenanya, lalu timbul keinginan hendak turut berbakti kepada agama dengan menyalinnya ke dalam bahasa Indonesia dalam bentuk kesusastraan yang Indah.”

Berdasarkan pengakuannya, Jassin tergerak untuk mempelajari al-Qur’an semenjak wafat istrinya pada tahun 1962. Selama tujuh hari al-Qur’an dibacakan di rumahnya. Ia kembali ingat masa kecilnya yang tidak begitu dekat dengan al-Qur’an. Bahkan ia sempat jengkel dengan muballigh yang khotbah (dalam bahasanya Jassin menyebut ‘berteriak-teriak’). Ia hanya sering mendengar neneknya membacakan al-Qur’an. Baginya, bacaan sang nenek begitu indah didengar.

Lantas ia berpikir, mengapa bukan dia sendiri yang membacakan al-Qur’an untuk istrinya. Semenjak itulah, ia mulai membaca al-Qur’an. Tidak ada satu hari pun yang ia lewatkan tanpa membaca al-Qur’an.

Semakin hari, muncul rasa ingin tahu. Ia mulai mempelajari makna dari apa yang ia baca. Awalnya, ia mempelajari terjemahan al-Qur’an. Jassin tidak puas dengan terjemahan per ayat. Pada akhirnya, ia mempelajari makna kata demi kata. Sebagai seorang sastrawan yang memiliki sensitivitas yang tinggi terhadap unsur-unsur sastra, bagi Jassin bahasa al-Qur’an sangat indah. Ia menjelaskan bahwa bahasa al-Qur’an sangat puitis. Setelah melakukannya selama sepuluh tahun, ia tergerak untuk menerjemahkan al-Qur’an kepada bahasa Indonesia.

Dari segi bahasa yang digunakan, terjemahan Jassin sama dengan karya H.O.S Tjokroaminoto, Ahmad Hasan, Mahmud Yunus, dan Departemen Agama, berbeda dengan sejumlah terjemahan yang menggunakan bahasa Jawa, Sunda, dan Bugis.

Dari segi tulisan, Jassin menggunakan tulisan latin, bukan tulisan Pegon atau aksara Jawa. Meskipun begitu, terjemahan Jassin tetap memiliki perbedaan dengan Tjokroaminoto, Ahmad Hasan dan Mahmud Yunus. Ketiga tokoh tersebut menggunakan bahasa Indonesia dalam bentuk prosa, sementara Jassin menggubah terjemahannya dalam bentuk puisi.

Akan tetapi, Jassin bukanlah satu-satunya yang melakukan penerjemahan al-Qur’an ke bentuk puisi. Ahmad Bestari Asnin, Syaifuddin B., K.H. Isa Anshary, dan Muhammad Diponegoro juga melakukan hal serupa. Ahmad Bestari Asnin tidak bisa menyelesaikan terjemahannya karena ia telah meninggal terlebih dahulu. Sementara kedua tokoh berikutnya menerbitkanterjemahan puitis al-Qur’an terhadap ayat-ayat pilihan, bukan seluruh al-Qur’an sebagaimana Jassin.

Sebagai gambaran yang lebih rinci, Al-Qur’an al-Karim Bacaan Mulia karya H.B. Jassin bisa dijelaskan dalam poin-poin berikut:

1. Menggunakan pola tartib muṣḥâfî.

2. Pada halaman pertama, Surat al-Fâtiḥah, Jassin memberi hiasan kaligrafi surat al-‘Alaq ayat 1-12 dalam pola pintu yang sisi atasnya berbentuk bundar. Tidak ada keterangan lebih lanjut mengenai hal ini. Dekorasi semacam ini ditemukan pada setiap awal juz.

3. Page orientation yang digunakan disusun dari kiri ke kanan, bukan kanan ke kiri sebagaimana lazimnya layout teks Arab. Dalam hal ini, Jassin mengikuti pola penerjemahan yang telah beredar sebelumnya, seperti terjemahan Mahmud Yunus dan terjemahan Departemen Agama yang juga menggunakan tata letak dari kiri ke kanan.

4. Penerjemahan H.B Jassin menyertakan teks Arabnya. Kedua teks ini disusun berdampingan, teks Arab ditempatkan di sebelah kanan, dan terjemahannya di sebelah kiri. Model seperti ini juga digunakan oleh terjemahan Departemen Agama sebelumnya. Hanya saja, satu keunikan versi Jassin adalah teks Arab maupun terjemahannya disusun simetris dengan pola rata tengah (centered-alignment). Pola penulisan ini mengikuti kepada pola penulisan populer pada puisi.

5. Di tiap awal surat, ia menuliskan nama surat, status Makki/Madani, dan jumlah ayat. Ia menuliskannya dalam kedua bahasa, Arab di sebelah kanan dan terjemahan Indonesia di sebelah kiri.

6. Menggunakan footnote di beberapa tempat. Ada beberapa kriteria yangdigunakan Jassin dalam fitur catatan kaki ini:

a). Pada ayat yang menggunakan tamtsîl, seperti kata maraḍ pada al-Baqarah: 10. Jassin menerjemahkan kata tersebut secara literal, penyakit, akan tetapi menempatkan catatan kaki untuk menjelaskan makna dari tamtsîl tersebut, yaitu dengki, iri hati, dendam, sombong, takabbur, dan segala macam kekotoran hati.

b). Pada kata-kata yang tidak memiliki padanan yang tepat dalam bahasa Indonesia, seperti kata al-sufahâ’. Jassin menerjemahkannya dengan safih dengan memberikan penjelasan lebih lanjut pada catatan kaki.

c). Pada kata yang memiliki penafsiran tertentu, seperti kata al-ṣabr pada al-Baqarah: 45. Jassin tetap menerjemahkan kata tersebut dengan ‘kesabaran.’ Hanya saja, ia memberikan catatan kaki, bahwa yang dimaksud dengan kesabaran di sana adalah puasa.

Jika Al-Qur’anul Karim Bacaan Mulia muncul sebagai akibat dari munculnya religiusitas H.B. Jassin semenjak meninggalnya istrinya, Al-Qur’an Berwajah Puisi merupakan kelanjutan dari karya pertama tersebut. Jassin mengakui kekurangannya dalam kompetensi menerjemahkan al-Qur’an. Ia kemudian memilih untuk bersikap terbuka terhadap kritik dan saran seputar karya tersebut, yang akan ia perbaiki pada cetakan berikut. Semenjak saat itu, hari demi hari tidak ada yang ia lewatkan tanpa menulis al-Qur’an.

Dalam sebuah wawancara, Jassin menyatakan bahwa ia menulis al-Qur’an setiap saat. Selain memperbaiki kesalahan-kesalahan pada penerjemahan dan menambah unsur puitiknya, Jassin juga mulai menyusun tulisan Arabnya supaya sejajar dengan terjemahannya. Hal ini ia lakukan terus menerus, hingga ia menemukan ide, mengapa al-Qur’an tidak ditulis dalam bentuk puisi saja?

Selanjutnya, ia mengaku telah melakukan penelitian terhadap bentuk cetakan-cetakan al-Qur’an di sejumlah negara. Ia mendatangi sejumlah toko buku dan melihat cetakan al-Qur’an. Baginya, al-Qur’an memiliki bahasa puitik yang indah, akan tetapi mengapa al-Qur’an selalu ditulis dalam bentuk prosa?

Penulisan al-Qur’an dengan format yang direncanakan oleh Jassin ternyata ditolak oleh MUI dan Kementrian Agama melalui Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur’an pada akhir tahun 1992. Penolakan tersebut dituangkan oleh MUI melalui surat No. U 1061/MUI/XII/1992 yang ditandatangani oleh K.H. Hasan Basri dan Sekretaris Umum Prodjokusumo. Sementara penolakan Kementrian Agama dinyatakan dalam surat no P III/TL.02/1/242/1179/1992 yang ditandatangani oleh Ketua Badan Litbang Agama.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
1
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Rafi

Nama saya Muhammad Rafi. Saya berasal dari Kalimantah selatan, lebih tepatny kota Amuntai, sebuah kota yang terkenal dengan itik panggang dan apamnya. Saya dilahirkan di sebuah desa kecil yang bernama Kaludan Besar, pada tanggal 19 Juli 1997 bertepatan dengan 11 Rabiul Awal. Saya adalah anak pertama dari 4 orang bersaudara dari pasangan Abdul Gani Majidi dan Maimunah. Dalam perjalanan pendidikan dan keilmuan, saya memiliki 2 basic, sekolah negeri dan pondok pesantren. Mulai dari MI dan SD, MTs, Aliyah dan Pondok Pesantren Rasyidiyah Khalidyah Amuntai. Saat ini say sedang berkuliah di UIN Sunan Kalijaga Jurusan Ilmu al-Qur'an dan Tafsir sekaligus sebagai Mahas Santri di Pondok Pesantren LSQ ar-Rohmah Bantul.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Kajian

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals