Posisi Wanita dalam Alquran

Alquran sebagai kitab suci orang islam telah menjelaskan bahwasannya antara pria dan wanita memiliki kedudukan yang setara.


Penciptaan makhluk hidup secara keseluruhan telah didesain sedemikian rupa oleh Sang Pencipta dengan berpasang-pasangan. Kenyataan ini sudah tidak dapat lagi kita perdebatkan karena setiap kitab suci agama menyebutkan demikian, meskipun dengan redaksi yang berbeda-beda. Tujuan diciptakannya makhluk hidup secara berpasang-pasangan agar makhluk hidup dapat saling berbagi dan mencintai satu sama lain.

Manusia merupakan makhluk ciptaan Allah yang telah menjadi khalifah di bumi. Harusnya manusia mampu menjaga dan menebarkan cinta antar sesama makhluk hidup. Akan tetapi rasa-rasanya kenyataan yang terjadi saat ini malah sebaliknya. Jangankan untuk menebar cinta bagi seluruh makhluk hidup, menjaga kerukunan antar sesama manusia saja sangat sulit dilakukan. Pasalnya masih banyak manusia yang meninggikan golongan mereka dan merendahkan golongan yang lain.

Salah satu dari sekian banyak permasalahan yang ditimbulkan manusia adalah perihal kedudukan wanita dalam tatanan masyarakat dunia. Banyak cerita sejarah peradaban umat manusia yang mengisahkan wanita merupakan manusia nomor dua setelah laki-laki. Bahkan dalam Konsili Roma menyebutkan bahwa wanita itu najis dan tidak memiliki roh. Kerusakan tatanan sosial yang terjadi sejak zaman dahulu ini masih sering terjadi hingga sekarang.

Islam sendiri, tidak pernah sekalipun menempatkan wanita di bawah laki-laki. Islam mengajarkan bahwa laki-laki dan wanita itu sejajar di mata Allah. Hal tersebut sesuai dengan ayat Al-Quran surah An-Nisa ayat 124. Ayat tersebut menyatakan bahwa laki-laki maupun wanita yang mengerjakan amal saleh akan mendapat balasan dari Allah.

Namun dewasa ini, kita banyak melihat umat Islam yang menempatkan wanita sebagai manusia nomor dua. Hal ini dapat terjadi karena masih banyak sekali umat Islam yang memaknai Alquran secara tekstual. Kebanyakan dari golongan ini akan menemui kesulitan untuk membedakan antara budaya Arab, yang merupakan tempat turunnya Al-Quran dan ajaran Islam yang bersumber dari Al-Quran.

Sebagaimana telah disebutkan dalam banyak kitab ataupun buku yang membahas tentang sejarah, bahwa bangsa Arab sebelum Islam sangat membenci keberadaan bayi perempuan. Bahkan mereka tega untuk mengubur hidup-hidup bayi perempuan yang baru lahir. Rasa-rasanya kita perlu mengkaji ulang Al-Quran secara tekstual maupun kontekstual agar kita mampu menemukan titik tengah antara kitab suci agama Islam tersebut dan kondisi sosial budaya yang berkembang saat ini.

Salah satu contoh dari kesamaan derajat yang diajarkan oleh Islam terdapat dalam ayat tentang penciptaan manusia, yaitu surah An-Nisa ayat 1. Ayat tersebut memberikan kita pemahaman bahwa laki-laki dan wanita diciptakan dari satu bahan yang sama. Penggunaan bahan yang sama dalam penciptaan laki-laki dan wanita ini merupakan salah satu bukti bahwa wanita bukanlah tercipta karena adanya lelaki.

Dalam kehidupan sehari-hari ada satu ungkapan yang menurut saya kurang tepat dan tidak mendasar, yaitu sebuah ungkapan yang menyatakan bahwa wanita itu tercipta dari tulang rusuk laki-laki. Ungkapan ini sangat bertolak belakang dengan QS. An-Nisa ayat 1, karena perempuan bukan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, melainkan diciptakan dari bahan yang sama dengan laki-laki.

Selain dari segi penciptaan tentunya masih banyak lagi ayat Al-Quran yang membahas tentang kesetaraan antara laki-laki dan wanita. Seperti dalam hal ketentuan hukum, hak penggunaan harta dan lain sebagainya, yang tentunya jika kita teliti secara mendalam akan semakin memperjelas bahwa Islam menyetarakan kedudukan antara laki-laki dan wanita. Bahkan, dalam beberapa kasus wanita memiliki keistimewaan yang tidak didapat oleh laki-laki. Seperti sebuah ungkapan “surga di bawah telapak kaki ibu”. Ungkapan ini merupakan bukti bahwa kita harus menghormati wanita, terkhusus seorang ibu.

Secara prinsipal dan normatif Islam sangat menghargai bahkan menghormati wanita, namun konstruksi gender yang telah terjadi dalam masyarakat mengakibatkan wanita terdiskriminasi. Oleh sebab itu, diperlukan adanya upaya untuk meluruskan persepsi masyarakat mengenai ketidakadilan gender dalam Islam sekaligus membenahi kerusakan sistem dan struktur masyarakat yang rusak.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Iqbal Fajri

Saya adalah mahasiswa di salah satu perguruan islam negri di Yogyakarta. Selain menulis saya juga hobi fotografi. Sebab menurut saya antara fotografi dan menulis tidak dapat dipisahkan. Keduanya juga memiliki kesamaan yaitu tentang bercerita. Jika dengan menulis kita akan bercerita lewat teks maka dalam fotografi, kita akan bercerita melalui gambar.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Tak Berkategori

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals