‘Uzlah dan Corona: Sampai Kapan Kita Harus Mengisolasi Diri?

Ketidakpedulian kita akan wabah Corona, hanya akan mempersulit keadaan kita sebagai warga bumi. Meniru hidup 'uzlah sufi dirasa perlu untuk mematikan virus tersebut.


Ilustrasi: ngopibareng.id

Kita sudah berhenti pergi berkerja ke kantor. Kita sudah berhenti pergi sekolah. Kita juga sudah berhenti pergi ke rumah ibadah. Ribuan aktivitas di luar rumah kita batalkan. Rencana-rencana yang telah dipikirkan matang, kini menjadi rencana tanpa batas waktu yang tak bisa ditentukan. Berdiam diri di rumah, menjadi “kaum rebahan” pun telah kita lakukan. Namun sampai kapan kita hidup seperti ini?

Kita mulai mengeluh memikirkan pengeluaran tanpa pemasukan. Pun, pada siapa keluhan ini harus kita hadapkan. Himbauan pemerintah yang telah kita coba ikuti tampaknya belum benar-benar membuahkan hasil. 14 hari berlalu, 14 hari ke depan-pun berlalu dan 14 hari 14 hari yang akan datang. Social distancing, physical distancing, isolasi mandiri, #dirumahaja, karantina mandiri atau istilah-istilah lainnya sampai kapan akan kita lakukan?

Baca juga: Rumah sebagai Tempat Aktivitas di Saat Wabah Corona

Pemerintah perlu tegas, bukan hanya melambungkan pencegahan bernuansa melangit yang tak membuahkan hasil bagi warga bumi. Karena tampaknya, usaha-usaha yang dilakukan belum juga membuahkan hasil (ya sering kali penulis munculkan kalimat belum membuahkan hasil). Pemerintah oleh banyak pihak memang dinilai lamban dalam bertindak mengedalikan penyebaran virus tersebut. Kita ‘warga bumi’ tak paham, upaya apa yang harus dilakukan agar penyebaran virus ini berhenti, atau mungkin (penulis) saja yang tak paham?

Social distancing atau menjaga jarak sosial atau yang kemudian diganti dengan istilah physical distancing (menjaga jarak fisik). Entah apapun itu, ini tentu dalam pandangan kita membatasi hubungan sosial, menjauhi kerumunan, dan kepanikan bertemu orang banyak, sehingga sebagian warga bumi berbondong-bondong membatalkan rencana perjalanannya (penulis termasuk salah satu korban corona yang membatalkan perjalanan). Hal ini tentunya memunculkan kedilemaan diri dan kesedihan tersendiri. Walau pada akhirnya, kita berusaha meyakinkan diri bahwa kesehatan dibandingkan sebuah perjalanan jauh lebih penting dan wabah ini (insyaallah) pasti akan berakhir.

Hidup ‘uzlah -atau mengasingkan diri memang penting untuk keadaan sekarang ini. Tapi sampai kapan? Seorang sufi sekalipun memiliki batas waktu dalam ber-‘uzlah, bagaimana dengan kita makhluk modern, apakah kita sanggup ‘uzlah dalam waktu yang tidak bisa ditentukan? Walau memang berbeda konteks, membandingkan ‘uzlah-nya sufi dengan ‘uzlah-nya warga bumi saat ini. Tapi kita tentu berharap tahu akan batas waktu untuk hidup ‘uzlah seperti ini dan (penulis)pun sendiri juga tak pandai memprediksi sampai kapan kita akan hidup seperti ini.

Baca juga: Uzlah dan Pejabat

Kenapa kita mempertanyakan sampai kapan hidup ‘uzlah? Sebab manusia, alamiah atau fitrahnya adalah makhluk sosial, yang tak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, yang antara satu dengan yang lain saling membutuhkan. Bagaimanapun manusia menyendiri pada akhirnya ia akan kembali ke fitrahnya: dunia sosial. Setidaknya hal inilah yang dikatakan oleh filsuf kebanggaan (penulis), Aristoteles (filsuf yang hidup tahun 384 SM-322 SM yang merupakan murid dari Plato (427 SM-347 SM), bahwa manusia menurutnya adalah “zoon politicon” –hewan yang bermasyarakat.

Namun, agar setidaknya ‘uzlah kita tidak sia-sia, kiranya kita bisa meniru bagaimana ‘uzlah-nya para sufi, dan terlebih dahulu menyadari bahwa adanya virus corona ini bisa jadi merupakan kritikan Tuhan pada kita warga bumi yang selama ini terlalu suka akan keramaian dan takut akan kesendirian. Padahal bukankah akhirnya kita juga akan berjalan sendiri-sendiri?

Sepengetahuan penulis, ‘uzlah kaum sufi adalah melakukan serangkain kegiatan yang mendekatkan diri pada Tuhan. Kegiatan ‘uzlah kaum sufi tersebut seperti melafalkan hizib-hizib, zikir, salat sunah, membaca Al-Qur’an, perenungan diri dan aktivitas positif lainnya akan semakin membuat kita lebih mendekat pada Tuhan.

Baca juga: Spiritualitas dan Pemikiran Rasionalitas Imam Al-Ghazali

Bagaimanpun, ketidakpedulian kita akan wabah ini, hanya akan mempersulit keadaan kita sebagai warga bumi. Dengan mematuhi himbauan pemerintah -yang melakukan ‘uzlah layaknya para sufi, kita telah berusaha untuk peduli akan diri sendiri dan orang lain. Selanjutnya, kita doakan agar pemerintah bisa melakukan yang seharusnya dilakukan agar wabah ini berakhir.

Pada akhirnya, tulisan ini hanya sekedar refleksi penulis semata, akibat bermenung diri menatap langit-langit rumah. Dengan #dirumahaja sebenarnya penulis ulang lagi bahwa kita telah berusaha menutup penyebaran virus tersebut dan semoga kita bisa menjalani ‘uzlah yang sesungguhnya, serta paling tidak ‘uzlah dengan aktivitas-aktivitas positif, rebahan yang membawa perubahan. []

 _ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
1
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
2
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Endrika Widdia Putri
Endrika Widdia Putri, S.Ag. adalah mahasiswa S2 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Aqidah dan Filsafat Islam tahun 2018.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Perspektif

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals