Manusia dan Kesalahan

Ketika manusia melakukan sebuah kesalahan atas keinginannya sendiri, maka ia sendiri yang akan menanggung semua kesalahan yang ia perbuat.


Sumber gambar: deviantart.com/almostcreepy101

Dalam ajaran agama Islam setiap manusia yang dilahirkan dalam keadaan suci. Setiap manusia lahir dalam keadaan suci dan tidak pernah membawa satu pun kesalahan dan dosa, bahkan ketika beberapa bulan berada dalam kandungan ibunya, Allah telah memberikan pertanyaan kepadanya tentang ke fitrah kesucian-Nya, “bukankah Aku ini Tuhanmu?”, ruh yang ditiupkan itu menjawab, “benar, Engkau Tuhan kami”. Pertanyaan dan jawaban ini menunjukkan bahwa sejak dikandungan, Allah telah memberi sebuah “cahaya” kefitrahan dengan jalan mengesakan-Nya.

Dalam konteks ajaran Islam, tidak dikenal sebagaimana yang ada pada agama Nasrani, di mana setiap anak manusia yang dilahirkan ke dunia membawa kesalahan Adam karena kesalahannya memakan buah khuldi yang dilarang oleh Allah SWT. Sehubungan dengan ini, mari kita perhatikan argumentasi yang disampaikan oleh Yusuf Qaradhawi:

Pertama: sesungguhnya Adam telah bertaubat dan Allah pun telah mengampuni kesalahan yang telah ia perbuat. Sebagaimana disinyalir dalam al-Qur’an, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya Maka dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. (QS. Thaha 121-122)

Dalam ayat lain Allah berfirman juga, Kemudian Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, Maka Allah menerima taubatnya. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Baqoroh 37). Sebagian ahli tafsir menafsirkan  “menerima beberapa kalimat dari Tuhannya” adalah kata-kata atau ucapan untuk taubat.

Kedua, dengan sebab keadilan Allah lah yang tidak membebankan dosa seseorang kepada yang lainya, walaupun orang tersebut adalah ayahnya. Bagaimana mungkin seseorang menangung beban dosa orang lain sementara ia tidak melakukanya. Dengan kata lain masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri. Dan yang Maha Tahu hanyalah Allah semata. Allah berfirman. “Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”(QS. Al-An’am 164)

Bahkan dalam kitab-kitab terdahulu yakni shuhuf Ibrahim dan Musa prinsip ini telah ditegaskan dalam al-Qur’an, sebagaimana firman-Nya: Ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. (QS. An-Najm 36-38)

Ketika manusia melakukan sebuah kesalahan atas keinginannya sendiri, maka ia sendiri yang akan menanggung semua kesalahan yang ia perbuat. Dan bagi siapa yang membantunya baik dalam hal materi, memberikan dukungan atau bentuk partisipasi lainya. Maka ia akan menanggung semua yang ia lakukan sesuai dengan apa yang ia perbuat. Ketiga, manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah (bersih). Fitrah dalam pengertian fitrah untuk menerima kebaikan dan keburukan. Ia bisa menjadi baik dan bisa menjadi jahat. Kesemuanya tergantung pada diri, lingkungan sekitar, pindidikan yang ia jalani. Walaupun semua itu tidak akan terlepas dari tanggung jawab untuk membersihkan dirinya dan menjauhkannya dari hal yang buruk.

Allah berfirman: Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.  Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, Dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(QS. As-Syams 7-10) sebuah hadis Rasulullah SAW dijelaskan bahwa:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ

Artinya: “Sesungguhnya setiap manusia yag terlahir itu dilahirkan dalam keadaan fitrah” (HR. Bukhari)

Keempat, dalam Islam suatu perbuatan tidak dianggap kesalahan jika ada unsur kesengajaan dan upaya. Olehkarenanya kesalahan diangkat dari orang yang lupa, orang yang tidak sengaja, dan orang yang dipaksa. Dalam sebuah hadis dinyatakan, “Sesungguhnya Allah mencabut dosa dari umatku yang dilakukan atas dasar ketidaksengajaan dan lupa atau keterpaksaan”. Al-Qur’an sendiri telah mengajarkan sebuah doa kepada umat Islam, yakni “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. (QS. Al-Baqoroh 286)

Allah berfirman:Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. (QS. Al-Ahzab 5)

Dalam ayat lain menerangkan bahwa orang yang mengucapkan kekufuran di bawah ancaman penyiksaan, kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (Dia tidak berdosa). (QS. Al-Ahzab 106)

Bahkan dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa barangsiapa yang melakukan kejahatan bukan karena keinginanya, seperti dalam kondisi kelaparan atau kondisi yang sangat darurat, maka sesungguhnya Allah mengampuni dosa tersebut. Firman Allah, “Barangsiapa yang dalam keadaan terpaksa, sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Maha penyayang”. (QS. Al-An’am 145) Barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, Maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Baqoroh 173). Jika kita melakukan sesuatu perbuatan baik atau keburukan maka kita sendiri lah yang akan mempertanggung jawabkannya bukan orang lain yang menanggungnya. Wa Allahu A’lam bisshowab.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
2
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
2
Terkejut
Dr. Ridhoul Wahidi, MA

Dr. Ridhoul Wahidi, MA. Dosen Tafsir pada Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Universitas Islam Indragiri Tembilahan, Provinsi Riau. Menulis artikel dan buku motivasi dalam menghafal Al-Quran dan kajian keislaman baik media cetak maupun media Online.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Kajian

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals