Menemukan Jati Diri Sesuai Rencana Ilahi

“Seperti dalam sepakbola, demikian pula dalam hidup, kita tak bisa melangkah lebih jauh, jika kita tidak tahu di mana gol atau tujuan hidup kita.”


Quality is the price: memantaskan diri menuju pribadi unggul. Inilah buku terbaru sahabat Agus Hariono. Judul buku ini, bahkan keseluruhan tulisan di dalamnya merupakan suara hati seorang guru. Pak Agus Hariono, Kepala Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah 1 (Muhammadiyah Boarding School) Pare Kediri, yang akrab dipanggil pak Hari, mewakili semua guru di negeri ini yang mencita-citakan peserta didik menjadi pribadi unggul di kemudian hari.

Khas catatan seorang guru, bagian pertama buku ini berjudul Lesson 1: Zero Mind dalam belajar dan bagian terakhir, Lesson 45: Terasa penting jika sudah hilang. Pas dengan tahapan dan sikap yang mesti diambil oleh setiap murid dalam menuntut ilmu dan menempa diri untuk maju. Setiap pelajar mesti merasa kurang ilmu. Ali bin Abi Thalib pernah berkata, “Setiap bejana bila diisi akan penuh, kecuali bejana ilmu.”

Setiap orang yang menghendaki kemajuan niscaya mengosongkan diri untuk menerima segala ilmu. Ibarat botol kosong yang siap diisi resep hidup yang jitu. Jauh dari sikap yang ditampakkan oleh Bani Israil yang berujar, “qulubuna ghulf – hati kami tertutup” (QS 2:88). Allah mengunci mati hati dan pendengaran mereka; pada penglihatan mereka ada penutup (QS 2:7). Dalam hati mereka ada penyakit dan Allah menambah penyebab penyakit mereka (QS 2:10).

Pelajaran berikutnya ialah tentang target belajar, tempat belajar, dan motivasi belajar, serta kebersamaan dalam belajar dalam rangka memperbaiki kualitas diri, upgrading diri, dan menemukan passion. Para pembaca dipandu untuk memantapkan keyakinan dengan bersikap realistis, memanfaatkan waktu, menjadikan pengalaman sebagai guru, dan merasa kurang setiap kali bertambah ilmu.

Loading...

Salah satu kiat maju yang ditawarkan buku ini adalah menuliskan impian masa depan untuk memompa semangat. Hal ini mengingatkan kita pada kata-kata bijak, “Jika engkau dapat memimpikannya, engkau dapat mewujudkannya.” Juga, kata-kata Sang Alkemis dalam novel spiritual Paulo Coelho, “Cita-citakanlah sesuatu yang mulia, niscaya alam semesta bahu-membahu membantu mewujudkan cita-citamu.”

Setiap orang niscaya punya target dalam hidupnya. Ibarat lomba lari, tulis Pak Guru, target adalah garis finis. Ibarat orang main sepakbola, targetnya adalah gawang untuk mencetak gol. Hal itu sesuai dengan pernyataan Arnold H Glasow, “Seperti dalam sepakbola, demikian pula dalam hidup, kita tak bisa melangkah lebih jauh, jika kita tidak tahu di mana gol atau tujuan hidup kita.” Secara garis besar, dalam hidup ini, setiap orang, apa pun profesinya, niscaya mempunyai target jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang.

Setiap pelajar butuh teman seiring untuk menjaga semangat belajar setiap saat. Kebersamaan dapat mengusir kebosanan dalam belajar maupun berkarya. Kebersamaan itu indah. Kebersamaan itu memperkuat satu dengan yang lain. Dalam teori kecerdasan hubungan, satu ditambah satu sama dengan tiga. Menurut ungkapan pepatah Melayu, “Bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” “Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”

Salah satu langkah untuk mengetahui sampai di mana capaian kemajuan hidup setiap orang niscaya melakukan refleksi dan evaluasi diri. Sejauh mana perjalanan telah ditempuh dan apa saja yang telah diperoleh. Berapa banyak energi yang telah dicurahkan dan berapa banyak hasil yang telah diraih. Apa saja rencana-rencana bagus yang telah terwujud dan apa pula hambatan yang merintangi capaian upaya yang optimal. Hal itu mengingatkan pada sabda Nabi Muhammad saw, “Gunakan lima hal sebelum tiba yang lima: muda sebelum tua; sehat sebelum sakit; luang sebelum sempit; kaya sebelum miskin; hidup sebelum mati.”

Setiap pendidik niscaya meng-upgrade diri, dengan meningkatkan wawasan, ilmu pengetahuan, dan pengalaman hidupnya, agar senantiasa layak menjadi teladan. Meng-upgrade diri berarti bersiap diri untuk melakukan perubahan sesuai dengan perkembangan kehidupan dan tuntutan zaman. Bila tidak demikian, ia akan ketinggalan atau ditinggalkan. Guru yang berhenti belajar niscaya berhenti mengajar.

Salah satu tugas guru adalah membantu peserta didik menemukan passion, gairah, kegemaran, dan motivasi hidupnya. Passion ialah sesuatu yang membuat seseorang tidak pernah bosan untuk melakukannya. Seseorang akan rela mengorbankan apa saja (yang positif) untuk meraih cita-citanya. Bila seseorang bekerja sesuai dengan bakatnya, maka ia telah menemukan passionnya. Ia akan menemukan kebahagiaan dalam dunianya. Mario Teguh pernah berpesan, “Bila engkau bekerja belum sesuai dengan bakat Anda, maka bakatilah pekerjaanmu, niscaya engkau sukses dan bahagia.”

Melalui buku ini Pak Guru menggelorakan semangat untuk maju. Dengan demikian, buku itu tidak saja patut menjadi bahan bacaan setiap peserta didik, namun juga para pendidik, kapan saja, dan di mana pun mereka berada.

Loading...

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
2
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
3
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals