Ulama dan Umara dalam Perspektif Al-Quran

Kekuasaan adalah amanat yang harus ditunaikan dengan jujur, adil dan ikhlas, bukan untuk dibangga-banggakan dan disalahgunakan.


Sumber foto: freevector.com

Ulama dan umara adalah pasangan pemuka masyarakat yang utama. Ulama, kosakata bahasa Arab, bentuk jamak dari kata ‘alim, artinya orang yang berpengetahuan, ahli ilmu, orang pandai. Dalam bahasa Indonesia menjadi bentuk tunggal, yakni orang yang ahli ilmu agama Islam. Kata ulama sepadan dengan ulul albab dalam Al-Quran, yaitu orang yang arif.

Umara, bentuk jamak dari kata amir, artinya pemimpin, penguasa. Kosakata amir sepadan dengan ulul amri dalam Al-Quran yang artinya orang yang mempunyai pengaruh, kekuasan; orang yang memangku urusan rakyat; penguasa.

Kata ulama terdapat dalam Al-Quran surat Asy-Syu’ara` dan Fathir berikut.

Bukankah itu suatu bukti bagi mereka bahwa para ulama Bani Israil sudah mengetahuinya sebagai suatu kebenaran? (QS 26:197).

Konteks ayat tersebut bahwa banyak kalangan ulama Yahudi yang mengakui ajaran Nabi Muhammad saw itu datang dari Allah  swt, seperti Abdullah bin Salam dan Mukhayriq.

Demikian pula di antara manusia, binatang melata dan hewan ternak, terdiri dari berbagai macam warna. Sungguh yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama; mereka yang berpengetahuan. Sungguh Allah Maha Perkasa, Maha Pengampun. (QS 35:28).

Hanya mereka yang mempunyai pengetahuan mendalam yang tahu bahwa takut kepada Allah adalah permulaan dari suatu kearifan. Karena rasa takut demikian sama dengan penghayatan dan cinta, – penghayatan akan semua keindahan dunia lahir dan dunia batin yang sungguh luar biasa (“Allah Maha Perkasa”), dan penuh cinta karena rahmat dan kasih sayang-Nya (“Maha Pengampun”).

Allah memberi hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan siapa yang diberi hikmah, ia telah memperoleh kebaikan melimpah; tetapi yang dapat mengambil pelajaran hanya orang yang arif. (QS 2:269).

Para ulama adalah pewaris Nabi dan penerus tugas-tugasnya di dunia, yakni membawa kabar gembira, memberi peringatan, mengajak kepada Allah, dan memberi cahaya.

Wahai Nabi, sungguh Kami mengutus engkau sebagai saksi, sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan, dan sebagai orang yang mengajak kepada Allah dengan izin-Nya, serta sebagai pelita pemberi cahaya. Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang beriman, bahwa mereka akan memperoleh karunia yang besar dari Allah. (QS 33:45-47).

Para ulama adalah penjaga gawang moralitas dalam segala aspek kehidupan umat, termasuk moralitas para penguasa. (QS 9:111-112).

Seharusnya jangan semua kaum mukmin berangkat bersama-sama: Dari setiap golongan sekelompok mereka ada yang tinggal untuk memperdalam ajaran agama dan memberi peringatan kepada golongannya bila sudah kembali, supaya mereka dapat menjaga diri. (QS 9:122).

Kata ulul amri terdapat dalam surat An-Nisa` berikut.

Wahai orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasulullah dan mereka yang memegang kekuasaan di antara kamu. Jika kamu berselisih mengenai sesuatu kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya, kalau kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Itulah yang terbaik dan penyelesaian yang tepat. (QS 4:59).

Ulul amri adalah orang yang memegang kekuasaan, bertanggung jawab, dan dapat mengambil keputusan, serta menangani pelbagai persoalan. Di dalam Islam tidak ada pemisahan yang tajam antara soal-soal yang sakral dengan yang secular. Pemerintah diharapkan dapat berjalan di atas kebenaran dan bertindak sebagai imam yang saleh, yakni benar dan bersih pula. Kita harus mematuhi kekuasaan yang demikian. Kalau tidak segala ketertiban takkan ada artinya.

Di antara kewajiban umara adalah menjalankan pemerintahan berkeadilan.

Allah memerintahkan kamu menyampaikan amanat kepada yang layak menerimanya. Apabila kamu mengadili di antara manusia, bertindaklah dengan adil. Sungguh Allah mengajar kamu dengan sebaik-baiknya. Allah Maha Mendengar, Maha Melihat. (QS 4:58).

Ayat di atas turun berkenaan dengan Usman bin Thalhah sebagi juru kunci Ka’bah. Ketika itu Rasulullah saw mengambil kunci Ka’bah untuk memasukinya. Setelah keluar, beliau membaca ayat di atas dan menyerahkan kembali kunci Ka’bah kepada Usman. (QS 38:26).

Kekuasaan adalah amanat yang harus ditunaikan dengan jujur, adil dan ikhlas, bukan untuk dibangga-banggakan dan disalahgunakan. Penguasa tidak boleh memperturutkan hawa nafsu, melakukan penyimpangan dan menganiaya rakyat.

Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba dijadikan Allah sebagai pemimpin sebuah komunitas kemudian ia meninggal dunia dalam keadaan menzalimi komunitas yang dipimpinnya kecuali Allah mengharamkannya masuk surga.” (HR Muslim).

Dalam hadis lain Nabi Muhammad saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat dengan-Nya pada hari kiamat adalah pemimpin yang adil dan orang yang paling dibenci Allah dan paling jauh tempatnya dari-Nya adalah pemimpin yang zalim.” (HR Tirmidzi).

Tugas umara adalah menyelenggarakan pemerintahan dengan sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat. Menurut al-Mawardi, kewajiban pemimpin meliputi 10 poin: (1) menjaga penerapan agama yang benar; (2) menerapkan hukum dalam setiap permasalahan yang terjadi dengan cara yang adil; (3) melindungi keamanan negara sehingga rakyat dapat beraktivitas dengan bebas dan tidak dihantui ketakutan; (4) menegakkan hukum pidana sehingga hak-hak warga terlindungi; (5) menjaga perbatasan negara dengan sistem keamanan yang baik sehingga dapat menangkal serangan musuh; (6) jihad untuk memerangi musuh; (7) mengambil pajak dan zakat dari warga sesuai dengan ketentuan syariat; (8) mendistribusikan dana baitul mal dengan baik dan tepat pada waktunya; (9) mempekerjakan orang-orang yang amanah dan kapabel dalam bidangnya; (10) memantau langsung perkembangan yang terjadi pada warganya dan tidak hanya memercayakannya kepada wakilnya agar dapat memiliki lebih banyak waktu untuk menikmati dunia atau untuk beribadah.

Para pakar Muslim, pemuka agama, dan pemangku dakwah pada saat ini memperoleh panggilan kembali untuk: (1) membacakan ayat-ayat Allah; (2) menyucikan pikiran dan akhlak manusia; (3) mengajarkan kitab Allah; (4) mengajarkan hikmah; (5) mengajarkan pengetahuan. Suatu panggilan yang mulia untuk melakukan emansipasi kemanusiaan sesuai dengan fitrah manusia dan sikapn ya yang hanif. (QS 2:151).

Menghadapi berbagai perubahan besar yang cepat dan majemuk dalam masyarakat serta menghadapi pergeseran tata nilai yang mengaburkan antara yang benar dan yang salah, antara yang baik dan yang buruk, para ulama niscaya mengemban fungsi: (1) basyiran, memberi kabar gembira, harapan, dan perspektif baru bagi upaya pembangunan; (2) nadziran, memberikan kesadaran kritis kepada masyarakat agar mampu mengembangkan penalaran kritis terhadap determinisme ideologis maupun teknologis dengan menyadari permasalahan dan potensi untuk mengubah nasibnya sendiri; (3) da’iyan ilal haqq, memanggil kepada kebenaran hakiki yang kadang dikaburkan oleh propaganda maupun pendapat umum; (4) sirajan muniran, memberikan terang iman dan pencerahan akal budi. Semua itu niscaya dilakukan ulama dan umara dengan menampilkan Islam yang hakiki sebagai rahmatan lil-‘alamin.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
1
Tidak Suka
Suka Suka
13
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut
Muhammad Chirzin

Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Alquran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Anggota tim penyusun Tafsir Tematik Litbang Kemenag RI dan tim penyusun draft revisi Alquran dan Terjemahnya Tim Kemenag RI 2017. Telah menulis lebih dari 50 buku tentang Alquran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Sosbud

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals