Kesaktian Pangeran Sambernyawa dalam Melawan Penjajah Kolonial Belanda

Pangeran Sambernyawa adalah sosok yang sangat sakti mandraguna. Ia adalah salah satu pangeran yang menjadi tokoh pemberontak untuk melawan penjajah VOC abad ke-18


Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Mangkoenegara I, Pangeran Sambernyawa atau sejak kecil biasa dipanggil dengan Raden Mas Said adalah putra dari Kanjeng Gusti Pangeran Haryo Mangkoenegara Kartosuro. Ia lahir pada tanggal 7 April 1725. Ayahnya seorang Adipati yang gagah perkasa putra tertua dari Amangkurat Jawi. 

Kanjeng Gusti Pangeran Haryo pernah terlibat dalam pemberontakan bersama dengan para pangeran-pangeran lain dan kemudian ia menyearahkan diri kepada raja 1723. Setelah pemberontakan tersebut kemudian Kanjeng Gusti Pangeran Haryo dan kemudian gagal menjadi seorang raja. 

Setelah Pangeran Haryo gagal kemudian ia diasingkan ayahandanya yaitu Pangeran Mangkunegara atas perintah Sunan Paku Buwono II ke Tanjung Harapan. Pengasingan tersebut membuat Raden Mas Said sedih dan mencoba untuk bersabar. 

Setelah tumbuh remaja hingga dewasa, tanpa peran dan kasih sayang dari orang tuanya. Kehidupannya dan saudaranya dilukiskan sangat menyedihkan. Hidup terlantar serta makan dan tidur tanpa memiliki tempat yang nyaman dan kerap kali bercampur dengan para panakawan yaitu suatu tingkatan abdi dalem kerajaan yang paling rendah. 

Setelah beranjak dewasa, Raden Mas Said bersama kedua saudaranya yang bernama Mas Ambiya dan Raden Mas Sabar diberikan anugerah oleh Sunan Paku Buwono II sebagai cucu raja. Setelah ia diberikan gelar oleh raja kemudian Raden Mas Said diberikan tanah seluas 50 Jung. 

Raden Mas Said kemudian memanfaatkan tanah tersebut dengan sebaik-baiknya. Sampai suatu ketika terjadi perselisihan di Keraton yang memicu ketidakadilan atas hak-hak yang telah diberikan oleh raja kepada Raden Mas Said. Kemudian raja menemparkan posisi Raden Mas Said sebagai Gandhek Anom (Menteri). Padahal kedudukan Raden Mas Said seharusnya sebagai Pangeran Sentana.

Tersebab perlakuan tidak adil yang selalu ditanggapi dingin oleh sang Patih Kartasura, akhirnya Raden Mas Said memutuskan untuk pergi dan keluar dari keraton dan berniat untuk segera melakukan pemberontakan kepada Sunan Paku Buwono II atas sikap ketidakadilan tersebut.  

Pemberontakan tersebut berjalan kurang lebih 16 tahun. Raden Mas Said melakukan pemberontakan dan perlawanan terhadap Pemerintah Kolonial, Kasultanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Hingga akhirnya Raden Mas Said mendapatkan haknya kembali sebagai cucu seorang raja Mataram.

Tepat pada tahun 1757 Raden Mas Said mendirikan sebuah Kadipaten Mangkunegaran dan mendapat gelar sebagai raja pertama Kadipaten Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegara I. Raden Mas Said juga dikenal dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Hadipati Haryo Mangkunegara Senopati Ngayudo Lelono Joyoamiseno Satriyo Tomo Mentaram dan juga gelar dari pihak pemerintah kolonial yaitu Pangeran Samber Nyawa karena sepanjang pertempurannya selalu menewaskan lawannya.

Perlawanan pada priode pertama bermula saat bergabungnya Raden Mas Said dengan Raden Garendi atau yang biasa disebut Sunan Kuning dalam peristiwa Geger Pacinan. Geger Pacinan merupakan puncak peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh orang-orang Cina terhadap kolonial yang berpuncak di Kartasura. 

Pemberontakan orang-orang Cina  sebenarnya bermula dari kejadian yang ada di Batavia, kemudian meluas ke berbagai daerah di Pulau Jawa, seperti Semarang, Rembang dan memuncak di Kartasura. 

Pada awalnya hubungan antara kolonial dan orang Cina di Batavia sangatlah harmonis, namun kemudian berubah menjadi rasa saling curigai di antara kedua kelompok tersebut. Berdasarkan bukti yang ada pemerintah kolonial menganggap bahwa orang Cina sedang menyusun strategi untuk meruntuhkan kolonial dan begitu pun sebaliknya. 

Pemberontakan orang-orang Cina  berakhir sampai di Kartasura. Pemberontakan tersebut juga didukung oleh sebagian bangsawan dan rakyat Kerajaan Mataram yang sangat anti terhadap adanya pemerintahan kolonial. 

Kejadian tersebut menjadi awal dari peperangan yang ada di Kartasura, termasuk menjadi mulainya perlawanan Raden Mas Said yang dilakukan secara terang-terangan menentang adanya pemerintahan kolonial dan ikut serta mendukung peristiwa Geger Pacinan di Kartasura.

Raden Mas Said yang mempunyai kesaktian yang sangat luar biasa, akhirnya mampu membasmi para prajurit kolonial dengan sabetan pedang. 

Dalam salah satu buku yang ditulis oleh Soeryo Soedibyo Mangkoehadiningrat yang berjudul "Sambernyawa Menggugat Indonesia" ia mengatakan bahwa dalam satu sabetan pedang, Raden Mas Said mampu menewaskan puluhan prajurit Kolonial Belanda. Sehingga dari peristiwa ini, para kolonial memburu dan ingin membunuhnya. Karena kehadiran Pangeran Sambernyawa menjadi salah satu faktor penyebab kekalahan pertempuran tersebut.

Raden Mas Said atau Pangeran Sambernyawa meninggal pada tahun 1795 tapat pada 40 tahun pemerintahan Kadipaten Mangkunegara. Beliau dimakamkan di tempat dimana dulu beliau pernah bertapa yaitu di Desa Mangadeg, di Bukit Bangun Lereng Gunung Lawu antara Matesih dan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, 35 Km sebelah timur kota Solo.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
2
Tidak Suka
Suka Suka
5
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 1

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals