Tasawuf Jawa Raden Ngabehi Yasadipura I

Pada diri manusia hati memiliki peran yang sangat penting. Sebab darinya manusia dapat diarahkan untuk menjalani kebaikan atau keburukan.


Mungkin bagi sebagian besar dari kita yang tidak mengetahui sejarah ajaran dan praktik keagamaan Jawa, sejauh pemahamannya akan mengira bahwa ajaran yang dipraktikkan masyarakat Jawa adalah “Islam sinkretis”, yakni sebuah pemahaman mencampuradukkan ajaran Islam dengan berbagai ajaran yang tidak jelas juntrungannya.

Hal ini dalam tataran tertentu mungkin sah-sah saja. Mengingat sebelum kedatangan agama Islam, masyarakat Jawa secara keseluruhan menganut kepercayaan dengan corak Hindu-Buddha yang dibawa oleh para rohaniawan Majapahit.

Namun, tak lama setelah Majapahit mulai runtuh, Islam dengan segala kelenturan ajarannya yang dalam hal ini bercorak sufistik mulai diimani masyarakat secara luas. Maka, tidak heran jika Islam yang berkembang dan masuk ke dalam jantung kekuasaan Jawa, yakni Kraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat adalah Islam yang berocarak sufi.

Karenanya, lebih fleksibel tanpa kehilangan nafas iman atau tauhidnya. Corak sufistik yang berkembang pun dapat dilihat dari beberapa karya pengarang dan para pujangga Kraton Surakarta. Sebut saja misalnya, Raden Ngabehi Yasadipura I.

R. Ng Yasadipura I sendiri secara genealogis, merupakan keturunan dari Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir), pendiri kerajaan Pajang, yang memerintah pada 1568-1586. Yasadipura merupakan anak dari Raden Tumenggung Arya Padmanegara, seorang bupati di Pengging pada masa pemerintahan Sinuwun Pakubuwono I (1704-1719 M).

Ia dilahirkan pada hari Jumat Pahing bulan Safar tahun 1729 M. Dalam sejarah kehidupannya Yasadipura I diakui merupakan salah satu orang yang sangat aktif menerbitkan berbagai karya yang bercorak seni dan agama. Setidaknya menurut beberapa sumber terdapat 12 karya yang dihasilkannya.

Salah satu karya gubahan atau penulisan ulang yang memuat risalah sufistik adalah Serat Dewaruci. Sebuah karya tua yang bercerita tentang pertemuan Bima dengan sosok dewa kerdil bernama Nawaruci.

Pemilihan Serat Dewaruci untuk digubah yang dilakukan oleh Yasadipura I bukan tanpa alasan. Pemilihan itu didasari oleh apresiasi masyarakat terhadap lakon Dewaruci yang telah diketahui ada sejak zaman Kerajaan Mataram di Kartasura. Minat masyarakat terhadap kisah Dewaruci pada zaman Kartasura sangat besar.

Sehingga dengan minat yang besar itu cerita tentang Dewaruci pun menemukan bentuknya berkat sentuhan tangan Yasadipura I. Bahkan dapat dikatakan bahwa Serat Dewaruci Yasadipura I ini merupakan terbaik dan terlengkap sehingga sering dijadikan versi para dalang untuk mementaskan lakon Dewaruci dalam pergelaran wayang.

Di dalam serat ini Yasadipura I pun memberi nasehat tentang kesatuan manusia dengan Tuhannya (Manunggaling Kawula Gusti) dan tentang hati manusia. Dua hal yang memang merupakan ciri dari ajaran sufistik itu sendiri. Sebagaimana sabda Nabi Saw,“man’arafa nafsah, faqad’arafa rabbah” (barangsiapa mengenal dirinya, maka akan mengenal Tuhannya).

Adapun teks-teks yang memuat tentang hati manusia itu adalah:

Pan isining jagat amepeki // yang menjadi isi dan memenuhi dunia
Iya ati kang telung prakara // yaitu hati yang tiga hal
Pamurunge laku dene // pendorong segala langkah
Kang bisa pisah iku // bila dapat bebas darinya
Mesthi bisa amor ing gaib // tentu dapat menyatu dengan yang gaib (manunggaling)
Ati kang tetelu // hati yang tiga itu
Abang ireng kuning samya // hitam, merah, dan kuning
Pangwasane weruha // ketahuilah benih-benihnya // siji-sijinipun // satu per satu
Kang ireng luwih prakosa // yang hitam lebih perkasa
Panggawane asrengen sabarang runtik // kerjanya marah atas segala hal
Andadra ngambra-ambra // murka secara berlebihan

Iya iku ati kang ngadhangi // itulah hati yang menghalangi
Ambuntoni marang kabecikan // menutupi tindakan yang baik
Dene kang bang iku // sedangkan yang merah
Iya tuwuh napsu tan becik // menunjukkan nafsu yang tidak baik
Sakehing pepenginan // segala keinginan jahat
Metu saking iku // keluar dari situ
Panesten panasbaranan // cemburu dan lekas marah
Ambuntoni marang ati ingkang eling // menutupi hati yang sadar
Marang ing kawaspadaan // kepada kewaspadaan

Apa dene kang arupa kuning // sedangkan yang berwarna kuning
Kawasane nanggulang sabarang // inginnya mengungguli segala hal
Cipta kang becik dadine // setiap pikiran yang membawa kebaikan
Panggawe amrih tulus // pekerjaan agar lestari
Ati kuning ngandheg-andhegi // dicegah oleh hati yang kuning
Mung panggawe pangrusak // hanya pekerjaan yang merusak
Binanjur jinurung // yang disokong dan didorongnya
Mung kang putih iku nyata // hanya yang putih yang sebenarnya
Ati anteng mung suci tan ika iki // hati yang tenang suci tak berpikiran ini itu
Prawira ing kaharjan // yang menguasai kebahagiaan.

Amung iku kang bisa nampani // hanya itu yang dapat menerima
Ing sasmita sajatining rupa // petunjuk yang sejati dari semua bentuk
Nampani nugraha nggone // tempat menerima anugerah
Ingkang bisa tumanduk // yang dapat menuntut
Kalestaren pamoring gaib // persatuan abadi dengan yang gaib
Iku mungsuhe tiga // tiga musuh itu
Tur samya gung-agung // mereka sangat hebat
Kang aputih tanpa rowang among siji // yang putih hanya sendirian tanpa kawan
Lamun bisa iya nembani // kalau memang dapat menaklukkan
Marang mungsuh kang telung prakara // atas tiga musuh tersebut
Sida ing kono pamore // di situlah akan terjadi persatuan
Ing pamoring kawula gusti // terjadi persatuan hamba dan Tuhan

Dari uraian teks di atas dapat dikatakan bahwa unsur fisik pada diri manusia memiliki peran yang cukup penting. Terkandung di dalam unsur fisik itu adalah tyas (hati) yang dapat mengarahkan atau menghalangi manusia untuk berbuat kebaikan.

Kebaikan dapat dilakukan jika manusia itu telah menaklukkan nafsu di dalam diri yang disimbolkan melalui warna hitam, merah, dan kuning. Sedangkan untuk melawannya diperlukan hati yang bersih serta suci yang disimbolkan dengan warna putih. Karena hanya dengan penaklukkan dan pengenalan akan diri sendiri barulah manusia sampai kepada apa yang menjadi tujuan mulai dalam hidupnya, yakni merasakan akan kehadiran Tuhannya (Manunggaling Kawula Gusti).

Maka terdapat konsep penting dalam idiom Jawa untuk menggambarkan mengenai penundukkan nafsu sesuai tahapnya, yakni:

1). Nanding sarira (membandingkan kelebihannya dengan yang lain saat remaja.

2). Ngukur sarira (mengukur batas capaian kelebihan serta kekurangannya dengan yang lain) saat muda menjelang dewasa, yang akan mengantarkannya pada kondisi.

3). Tepa sarira, yakni bisa menakar ukuran orang lain pada diri kita sendiri alias bisa mengambil sudut mental perasaan orang lain (dewasa), tidak egois. Dengan penundukkan ini, maka seseorang akan sampai kepada.

4). Mulat sasira, yakni bisa mengenali dirinya sendiri untuk bisa mengenal Tuhannya (Afifi, 2019).

 

Daftar Pustaka

Afifi, I. (2019). Saya, Jawa, dan Islam. Yogyakarta: Tanda Baca.

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals