Muhammad Manusia Agung Sepanjang Sejarah

"Muhammad adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa."


Sumber Foto: romadecade.org

Sekilas tentang Nabi Muhammad SAW

Nabi lahir dalam keadaan yatim. Ketika usianya dua bulan dalam kandungan, Nabi sudah ditinggal ayahnya. Ayahnya wafat di Madinah. Saat melakukan perjalanan dagang. Ayahnya mampir di Madinah, karena sakit. Ayahnya dirawat di rumah paman Nabi yang berasal dari Bani Najjar kurang lebih sebulan lamanya. Lalu ayahnya wafat dalam usia 25 tahun.

Nabi lahir pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal (20 April 571 M), di rumah yang terletak di Shafa. Bidan yang merawat Nabi adalah Asy-Syifa’ ibu Abdurrahman bin Auf. Nabi disusukan oleh seorang perempuan dari Bani Sa’ad bin Abi Bakr bin Hawazin yang bernama Halimah binti Abi Dzu’ayb dan nama ayah susuan beliau adalah Al-Harits bin ‘Abdil ‘Uzza.

Pada usia 6 tahun, Nabi ditinggal pula oleh ibunya. Ibunya, Aminah binti Wahab wafat dalam usia 30 tahun, di Abwa’, sebuah desa antara Makkah dan Madinah. Kemudian dua tahun setelah wafatnya ibu Nabi, wafat pula kakek beliau yang bernama Abdul Muthallib, yang memelihara Nabi. Abdul Muthallib wafat ketika Nabi berusia 8 tahun.

Setelah kakeknya wafat, Nabi ikut bersama pamannya, Abu Thalib. Abu Thalib merupakan saudara kandung (seayah dan seibu) ayah Nabi (Abdullah). Ibu keduanya itu bernama Fathimah binti ‘Amr bin ‘A’idz bin ‘Imran bin Makhzum.

Nabi menikah pada usia 25 tahun. Istri Nabi bernama Khadijah binti Khuwaylid bin Asad bin ‘Abdil ‘Uzza bin Qushay bin Kilab bin Murrah. Ini adalah pernikahan Nabi yang pertama kali. Selama hidup bersama Khadijah, Nabi tidak pernah menikah lagi, kecuali setelah wafatnya Khadijah. Usia Khadijah 40 tahun pada saat dinikahi Nabi. Sebelum menikah dengan Nabi, Khadijah pernah dinikahi oleh dua orang, yaitu Abu Halah bin Zurarah at-Tamimiy dan ‘Atiq bin ‘A’idz.

Semua putra Nabi lahir dari Khadijah, kecuali Ibrahim, yang lahir dari Mariyah al-Qibthiyyah. Putra yang lahir dari Khadijah adalah Al-Qasim, Ath-Thayyib (At-Thahir), Ruqayyah, Zaynab, Ummu Kultsum dan Fathimah. Qasim dan Thayyib meninggal dunia pada masa Jahiliyyah. Sedang anak-anak perempuan beliau semuanya menyaksikan masa Islam dan memeluk Islam.

Ketika Nabi berusia 30 tahun, Nabi menjadi penengah dan mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad. Peristiwa ini terjadi ketika dilakukan pembaharuan bangunan Ka’bah. Kemudian terjadi perselisihan di antara kaum Quraish tentang siapa yang berhak mendapatkan kehormatan meletakkan Hajar Aswad. Lalu mereka mebuat kesepakatan bersama bahwa yang akan menjadi penengah antara mereka adalah orang yang pertama kali masuk pada majelis mereka dari pintu Bani Syaybah.

Ternyata, Nabi adalah orang pertama yang masuk dari pintu tersebut. Dengan demikian, mereka pun rela Nabi menjadi penengah untuk menyelesaikan apa yang menjadi pertikaian di antara mereka.

Dikatakan bahwa Nabi sering mengasingkan diri ke Gua Hira’ selama sebulan setiap tahun hingga mamasuki tahun di saat Allah memilihnya sebagai Rasul yang membawa risalah. Pada saat menerima risalah itu Rasul berusia 40 tahun.

Demikian catatan singkat tentang Nabi kita, yakni Muhammad bin ‘Abdullah bin ‘Abdul Muthallib (Syaybah) bin Hasyim bin ‘Abdi Manaf (Al-Mughirah) bin Qushay (Zayd) bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaymah bin Mudrikah (‘Amir) bin Mudhar bin Nizar bin Ma’d bin ‘Adnan. Sedangkan ibunya bernama Aminah binti Wahab bin ‘Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr.

Keagungan Akhlak Nabi Muhammad SAW

Menyempurnakan akhlak manusia adalah salah satu risalah yang dibawa Rasulullah SAW. Oleh sebab itu, akhlak memiliki posisi penting dalam Islam.

Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah SAW: “Ya Rasulullah, apa itu agama?” Kemudian Rasulullah SAW menjawab: “Akhlak yang baik”.

Akhlak yang baik (akhlaq al-karimah) harus menghiasi pribadi muslim. Jika ada seorang yang mengaku muslim, tapi akhlaknya buruk, maka dipastikan orang tersebut tidak memahami esensi ajaran Islam sebagaimana yang telah disebutkan dalam hadis di atas.

Rasulullah SAW adalah sebaik-baik teladan bagi kita. Al-Qur’an memberikan pujian kepada Rasul yang agung itu dengan mengatakan bahwa: “Sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memiliki budi pekerti yang agung” (QS. Al-Qalam: 4)

‘Aisyah, yang tak lain adalah istri beliau, juga memuji suami tercintanya tersebut dengan mengatakan bahwa akhlak beliau adalah Al-Qur’an. Hal ini dikatakan ‘Aisyah kepada para sahabat Rasul, saat para sahabat tersebut bertanya tentang pribadi Rasul.

Apabila akhlak Rasulullah SAW adalah Al-Qur’an, maka sudah dipastikan bahwa segala tindak tanduk beliau adalah sesuai dengan pedoman Al-Qur’an. Apa yang diperintahkan Al-Qur’an, beliau kerjakan. Dan apa yang dilarang Al-Qur’an, maka beliau tinggalkan. Indah bukan?

‘Aidh Abdullah Al-Qarni juga mengatakan: “Kesuksesan luar biasa besar ditorehkan Rasul SAW tidak terlepas dari kisah sukses beliau dalam memerankan diri sebagai sosok manusia yang berakhlak mulia. Akhlak inilah yang mengawali tugas-tugas mulia yang dibebankan Tuhan kepadanya”.

Michael Heart juga memosisikan Nabi Muhammad SAW pada posisi pertama dalam karyanya “Seratus Tokoh Berpengaruh dalam Sejarah”. Heart mengatakan, “Muhammad adalah satu-satunya manusia dalam sejarah yang berhasil meraih kesuksesan luar biasa, baik dalam soal agama maupun soal dunia”.

Annie Besant, seorang teosof Inggris, juga menuturkan: “Setiap kali saya membaca ulang tentang dia (Muhammad), saya sendiri merasakan kekaguman yang baru, menimbulkan rasa hormat yang baru kepada Guru Bangsa Arab yang agung itu”.

Begitulah ungkapan-ungkapan pujian yang dilontarkan beberapa tokoh dunia. Tidak hanya muslim, bahkan di kalangan non-muslim pun secara jujur mengakui keagungan akhlak Rasulullah SAW. Tentu, di luar sana masih sangat banyak yang mengagumi sosok agung itu.

Sebagai muslim dan sebagai umat Nabi Muhammad SAW, bagaimana seharusnya akhlak kita terhadap beliau?

Paling tidak ada tiga poin tentang bagaimana kita berakhlak kepada Nabi SAW. Pertama, mencintai dan memuliakan beliau. Kedua, mengikuti dan menaati beliau. Ketiga, senantiasa mengucapkan shalawat dan salam untuk beliau.

Allah berfirman:

“Katakanlah: ‘Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu’. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali-Imran: 31).

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) Hari Kiamat dan dia banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab:21).

Wallahu ‘a’lam bishshawab

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Abdur Rauf

Penulis berasal dari Kepulauan Riau. Saat ini sedang menempuh studi di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals