Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 2)

Salah satu hirarki manusia dengan fleksibilitasnya adalah ulil amri.


Sumber gambar: Etsy.com/AE Design House

Sebuah percakapan Nabi dengan Abu Dzar al Ghifari: Rasul mencari Abu Dzar di Masjid Quba. Ia sedang tertidur pulas. Kemudian dibangunkan oleh Rasul. “Mengapa engkau selalu tidur di sini?” Rasul sambil bercanda. “Aku tidak punya rumah di Madinah,” jawab Abu Dzar sembari merapikan bajunya. Kemudian Rasul bertanya kembali. “Bagaimana jika ada penguasa yang mengusirmu dari masjid ini?”

“Aku akan pergi ke Syam. Kabarnya di sana tanah para Nabi. Aku ingin menjadi sahabat para Nabi Allah.”
“Jika penguasa mengusirmu dari Syam?”
“Aku akan kembali ke Madinah.”
“Jika Penguasa mengusirmu lagi?”

Sembari berpikir sejenak, kemudian. “Aku akan memeranginya sampai aku mati.” Rasul pun tersenyum mendengar jawaban itu. “Maukah engkau aku tunjukkan yang labih baik dari itu.”

“Apa itu ya Rasul?”
“Patuhilah pemimpinmu sampai engkau bertemu denganku di akhirat.”

Salah satu hirarki manusia dengan fleksibilitasnya adalah ulil amri. Pemimpin bagi siapapun. Khususnya bagi diri pribadi. Abu Dzar adalah sabahat yang dekat dengan Nabi. Alasannya ia sering tidur di masjid, di samping belum berkeluarga, Ia juga tidak memiliki tempat tinggal. Pengetahuan yang ia terima selalu berkaitan dengan dialog dengan Nabi. Menjadi seorang pemimpin adalah bagian hidup: setiap manusia.

Untuk mencapai gelar ulil amri maka serat akan tirakat. Menjaga diri dari nafsu kepemilikan. Menjaga ego dalam hati dan pikiran. Hal ini yang selalu diterapkan oleh Abu Dzar. Ia bukan gubenur atau pemegang kebijakan apapun. Ia hanya umat yang mematuhi khalifahnya. Dan menjadi pemimpin atas dirinya dan keluarganya.

Ia mematuhi kedua Khalifah, yakni Abu Bakar dan Umar. Dengan alasan keduanya masih berpegang teguh kepada titah baginda Nabi. Berbeda ketika kekhalifaan Usman bin Affan. Menurutnya terjadi banyak sekali penyelewengan. Walau konteks sejarah Usman tidak benar-benar melakukan itu. Melainkan pejabat di sekelilingnya. Keberanian untuk mengkritik adalah kebiasaannya. Abu Dzar tidak palang tanggung untuk hal ini. Sampai ia mengasingkan diri. Rayuan bahkan bujukan tidak mempan. Pada akhirnya ia memilih menyendiri untuk berpegang teguh kepada Nabi.

Dalam diri manusia ditemukan empat macam nafsu. Baik konteks Jawa maupun Islam. Dan aku (manusia) adalah kusir atas nafsu-nafsu tersebut. Di Jawa dikenal dengan Sedulur Papat. Di Islam dikenal dengan 1. Amarah, 2. Lawwamah, 3. Supiah, 4. Mutmainnah. Macam-macam nafsu inilah yang pada akhirnya menjadi pengaruh. Pengaruh atas kepemimpinan aku (manusia). Segala keputusan utamanya bersandar kepada Tuhan. Akan berbeda ketika serangkaian nafsu yang tiada dikendalikan.

Setiap aku (manusia) agaknya memiliki tendensi keputusannya. Justifikasinya adalah berlandaskan nafsu, kemanusiaan atau ketuhanan. pada hakikatnya akan bertaruh dengan kejujuran hatinya. Ketika aku (manusia) menjadi pemimpin maka keputusannya dipertaruhkan. Penilaian dari setiap manusia yang lain. Pun dari Tuhan. Karena dasarnya adalah Hati sebagai pendorong. Sedangkan keempat jenis nafsu bersarang di jiwa. Untuk menyadari keberadaannya perlu adanya kontemplasi. Introspeksi diri menjadi langkah awal.

Hassibu qabla antuhasabu, mungkin cukup akrab di telinga kita ungkapan tersebut. Bahwa dasar dari introspeksi diri adalah kesadaran. Kesadaran yang muncul sebagai hamba. Hamba dari Tuhan. Maka puncaknya adalah pengabdian. Pemimpin memiliki peranan yang sangat penting. Terutama menjadi bagian dari proses mendekatkan diri kepada Tuhan. Bentuk kesadarannya adalah bagaimana membangun nalar kritis bahwa: manusia tiada kekuatan dan upaya selain dari-Nya. Dengan kata lain, kemampuan untuk memimpin tidak lain adalah transfer pengetahuan dari Tuhan.

Adalah kewaspadaan di setiap proses perjalanan. Kehati-hatian. Tidak gampang grusa-grusu. Karena tanggung jawab seorang pemimpin bukan pada Tuhan semata. Melainkan kepada setiap apa yang dipimpinnya. Pada akhirnya Tuhan tidak akan pernah legowo ketika hamba masih terganjal tanggung jawab. Terutama kepada sesama hamba.

Dan perjalanan Abu Dzar adalah cerminan. Agar setiap manusia memiliki sudut pandang yang luas. Karena memimpin diri sendiri bukanlah satu kemudahan. Hanya akan menjadikan penat hati dan pikiran. Ketika tiada upaya berjalan sesuai ajakan. Ajakan dari Nabi dan Alquran.

Tulisan ini adalah upaya bagi saya untuk senantiasa mengingatkan diri. Bahwa saya adalah hamba dari Tuhan alam semesta.

Baca juga: Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 1)
Baca juga: Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 3)
Baca juga: Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 4)
Baca juga: Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 5)

Sumber:
Raja’i Athiyyah, Abu Dzar. Navila, Jogja 2007.
Irfan Afifi, Saya, Jawa, dan Islam. Penerbit Tanda Baca, Jogja 2019
Yahya bin Sayrifuddin an Nawawi, al Arbain an Nawawi. 676 H.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
0
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Dahri

Ahmad Dahri atau Lek Dah adalah santri di Pesantren Luhur Bait al hikmah kepanjen, juga nyantri di Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Buku terbarunya adalah “Hitamkah Putih Itu?”

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals