Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 5)

Tiada jalan selain memahami kemudian menjelajahinya. Begitulah cara kerja Cinta.


“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu sendiri tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggung jawaban.” (Qs: Al Isra’;36) 

Ketika Nabi disapa oleh Singgasana Tuhan, “Wahai Muhammad, aku adalah bawaan Kekuasaan-Nya dan yang dikerjakan oleh Hikmah-Nya. Maka bagaimana mungkin sang pembawa itu bisa menjadi yang terbawa.”

Nabi pun menjawab, “Wahai singgasana, kepadamu dariku, aku menyibukkanmu, jangan engkau marah kepada sahabatku, jangan engkau bingungkan kesendirianku. Tidak ada waktu untuk mencelamu dan tidak ada tempat untuk mempercakapkanku.”

Baca juga: Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 1)

Nabi tak sedikit pun menampakkan tulisan yang diwahyukan, walaupun pada singgasana (ketika Isra’ Mi’raj) dan karena itulah, ia mendapati proses peneguhan. “Maka engkau dipanggil dari atas. Dan penjagamu melihat Tuanmu, inilah kamu dan Tuhanmu.”

Kata Nabi, “Aku tidak tahu sama sekali, aku meninggalkan kebingunganku, kemudian jatuh pada bibirku setetes madu manis, es dingin, keju lembut serta angin dari minyak kasturi yang harum, lalu aku menjadi lebih tahu dari seluruh nabi dan rasul. Maka salam sejahtera untuk-Mu, Shalawat dan Keberkahan Allah. Dan aku temani para Nabi dan Rasul dengan keistimewaan yang diberikan kepadaku, serta bersama umatku menuju keberkahan-Nya.”

Baca juga: Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 2)

Dasar pengenalan diri dengan diri sendiri adalah pengetahuan. Dasar dari aku (manusia) mengenal Tuhan adalah pengetahuan. Dasar menangkap Cahaya pancaran-Nya adalah pengetahuan. Maka, pengetahuan adalah substansi dari segala perjalanan. Isra’ dan Mi’raj adalah proses substansial dari pengetahuan. Di satu sisi keyakinan (believe) menjadi lebih utama, di sisi yang lain penalaran adalah kunci. Menemukan cahaya, menyemaikan rerimbun bunga dengan wewangiannya.

Risalah Islam menyerukan Tauhid untuk beribadah kepada Tuhan. Serta kesetaraan di hadapan manusia. Karena yang membedakan hanyalah etika dan penalarannya. Perihal tingkatan ibadah, manusia yang lain tak kuasa menilainya. Ketidaktahuan inilah menjadi dasar bagi saya khususnya untuk memantapkan diri. Menggapai cinta dan kasih-Nya. Mengabdikan diri kepada Tuhan.

Baca juga: Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 3)

Rasa takut yang menyelimuti adalah ketika hati dikunci, kemudian dimasukkan pada golongan yang cekak nalar. Wa tubi’a ‘ala qulubihim fahum la ya’qilun. Pentingnya pengetahuan dalam pengabdian, seperti air yang dibutuhkan untuk menyuburkan tanaman. Menyembuhkan dahaga yang menyiksa kerongkongan. Kering kerontang tak karuan. Bagaimana bisa mengusir sepinya hati jika tiada mengerti untuk siapa kerinduan ini? Menapaki jalan yang terjal di gemerlapnya dunia. Mencintai kefanaan serupa obat penyembuh luka. Padahal mengikis cahaya yang terang pancaran Sang Maha Cahaya.

Tiada arti tanpa pengetahuan yang luhur. Hidup hanya perjalanan singkat. Di mana di sana adalah tempat bercocok tanam. Sedangkan tiada pernah tahu kapan waktu panen. Di akhiratkah? Bagaimana jika tanaman itu layu atau bukan itu yang diharapkan Kekasih? Sungguh luka menyayat hati. Walau tiada berubah sama sekali Kekuatan dan Kekuasaan-Nya. Karena manusia hanyalah fana. Sedangkan Ia Kekal dan Abadi.

Baca juga: Manifesto Intelektual Sufi (Bagian 4)

DI2019

Sumber:
Ibnu Araby, Pohon Semesta. Pustaka Progresif. Yogyakarta.
Musa Kazim, Belajar menjadi Sufi. Penerbit Lentera. Jakarta, 2002.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Ahmad Dahri

Ahmad Dahri atau Lek Dah adalah santri di Pesantren Luhur Bait al hikmah kepanjen, juga nyantri di Pesantren Luhur Baitul Karim Gondanglegi, ia juga mahasiswa di STF Al Farabi Kepanjen Malang. Buku terbarunya adalah “Hitamkah Putih Itu?”

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Pojok

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals