Merawat Bahasa Jawa Melalui Sosok “Godfather of Broken Heart” Didi Kempot

Dengan menggunakan bahasa Jawa sebagai simbol yang mempresentasikan cinta dan patah hati. Didi Kempot telah menjadi sosok guru yang menjaga nilai-nilai bahasa Jawa.


Berbicara musik, sejak zaman dahulu hingga saat ini, dalam perjalanannya tidak pernah habis dibahas. Maka tidak heran jika musik telah begitu melekat di dalam kebudayaan masyarakat secara keseluruhan. Kehadiran musik di dalam kehidupan telah begitu digandrungi setiap kalangan, bahkan setiap lapisan masyarakat mulai dari anak-anak sampai orang tua sangat menikmati lantunan musik.

Kemunculan musik dengan berbagai genrenya pun makin menemukan momentumnya saat ini. Mulai dari genre pop, rock, reggae, ska, k-pop, bahkan campursari sangat diminati anak-anak muda zaman ini. Minat yang semakin besar terhadap selera musik di dalam perjalanannya ini pun telah membawa ‘keberkahan’ tersendiri, khususnya terkait dengan masalah identitas kebahasaan Jawa.

‘Keberkahan’ itu pun semakin terlihat tatkala hadirnya sosok seseorang yang hari ini dijuluki oleh masyarakat sebagai “Godfather of Broken Heart”, yakni Didi Prasetyo atau Didi Kempot. Dulu, ketika anak-anak yang hari ini disebut milenial barangkali tidak pernah mendengar tentang lagu Maestro Campursari ini, atau kalaupun mendengar mereka mungkin akan menganggap “Apaan sih, kuno banget. Lagian bahasa Jawa aku nggak ngerti. Mendingan lagu kekiniaan seperti bla-bla-bla”.

Namun, zaman telah berubah begitu cepat, hadirnya sosok Didi Kempot di dalam industri musik saat ini telah membawa apa yang diisitilahkan oleh filsuf sebagai ‘renaissance’. Renaissance (bahasa Prancis) sebagaimana pengertiannya, yakni berasal dari kata rinascita yang artinya kelahiran kembali, sebuah istilah yang dilahirkan oleh Georgio Vasari pada abad 16. Mengacu kepada istilah itu, setidaknya terdapat dua hal yang hari ini bisa dikatakan dilahirkan kembali melalui sosok Didi Kempot.

Pertama, terkait bahasa, khususnya bahasa Jawa. Kita tahu bahwa bahasa merupakan sebuah ungkapan atau penanda utama untuk mengenali identitas suatu masyarakat, sehingga di dalam praktiknya bahasa memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia di mana pun berada. Karena melalui penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi, kita dapat menandai masyarakat tersebut berdasarkan bahasa yang digunakan. Dan jika kita mau melihat lebih dalam lagi, bahasa pada tataran simbol ternyata menyimpan kekuatan magis. Kekuataan magis tersebut terletak pada kemampuannya mempresentasikan kenyataan atau realitas.

Bahasa Jawa yang dahulu begitu luhur, untuk saat ini sampai, mungkin sebelum sosok Didi Kempot ‘lahir kembali’, telah kehilangan makna dan keluhurannya. Dunia modern dengan segala pengaruhnya terutama yang datang dari Barat, telah mengubah persepsi masyarakat terkait bahasa. Maka, tidak heran jika kemudian hari ini kita selalu mendengar bahasa-bahasa baru yang lahir dari media sosial seperti santuy, sans, atau goks. Apakah ini pertanda dari yang bisa disebut ‘awal kepunahan bahasa Jawa di kalangan masyarakat?’.

Enggannya masyarakat di dalam menjaga bahasanya, padahal secara geografis, keluarga dan pendidikan apalagi mengaku bersuku dan lahir dari kultur Jawa. Tidak mau untuk menggunakannya karena hanya faktor malu. Hal ini jika dibiarkan akan dapat mengakibatkan bercerai-berainya masyarakat Jawa itu sendiri dan lebih parah hilangnya sebuah identitas. Pada konteks ini, tidak perlu ada yang disalahkan baik pada pendidikan maupun keluarga yang sudah tidak mau lagi (mungkin) mengajarkan bahasa terkait identitas dirinya, khususnya bahasa Jawa.

Karena berbicara bahasa berarti berbicara kesadaran seorang manusia. Jika manusia itu sendiri sudah tidak sadar akan bahasanya, maka sudah dipastikan manusia itu telah kehilangan identitasnya. Bahasa Jawa dulu pernah menjadi bagian dari bahasa resmi pemerintah daerah Jawa Tengah. Hingga nasibnya berubah sejak lahirnya sumpah pemuda yang dicanangkan pemerintah, yakni “Kami putra dan putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. 

Begitu diproklamirkan perlunya berbahasa satu, bahasa Indonesia, konsekuensinya harus menerima perubahan terhadap bahasa. Namun, di satu sisi selama masyarakat masih merasa bahwa bahasa Jawa sebagai sarana komunikasi yang efektif, dia tidak bisa disalahkan 100% dan merasa dirinya tidak dilupakan oleh masyarakatnya. Begitu pula sebaliknya. Saya pribadi sepakat dengan dengan ungkapan, bahasa itu harus “nut ing zaman klakone”, yaitu bahasa harus mengikuti zamannya. Mengingat karena berbagai faktor dan kesadaran masyarakat muda milenial sekarang mungkin sudah terlalu sulit untuk mengikuti bahasa Jawa kromo inggil dengan tataran unggah-ungguh hingga 15 tingkatan.

Namun, hal itu secara sederhana dengan bahasa Jawa sederhana itu juga bukan seenaknya dilupakan atau dihilangkan begitu saja, hanya karena faktor malu dan terpengaruh kebudayaan Barat agar terlihat keren. Akan tetapi, sejauh mungkin tetap dijaga dan dilestarikan.

Hadirnya sosok Didi Kempot di tengah-tengah krisis berbahasa Jawa ternyata dalam prateknya telah menjawab mengenai pertanyaan “kepunahan bahasa Jawa di kalangan masyarakat?” Bagaimana tidak, orang yang selama ini malu dengan aliran lagu genre campursari yang berbahasa Jawa di tangan sang “Godfather of Broken Heart” lahir kembali. Bahasa Jawa, sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yang sekian lama terpendam oleh rasa malu dan sifat kemodernan muncul dengan spektakuler.

Entah ini sebagai rezeki Didi Kempot, sebagaimana selalu diucapkannya. Namun, ketenarannya dapat dilihat dari konsistensinya di dalam membawakan lagu campursari berbahasa Jawa. Di tengah gempuran lagu-lagu kekiniaan yang dianggap ‘modern’, Didi Kempot tetap hadir dan tidak pernah merubah bahasa lagunya selain bahasa Jawa serta dengan ciri khasnya memakai pakaian Jawa dan sebagai penyanyi campursari. Masyarakat yang dulu mungkin ‘anti’ dengan lagu campursari. Kini sangat antusias menikmati setiap alunan lagu-lagu Didi Kempot, bahkan orang yang selama ini tidak mengerti bahasa Jawa pun ikut menikmati dengan asyik.

Tidak berhenti hanya di situ, pemikirannya yang menurut penulis revolusioner adalah lirik-lirik dari lagu-lagunya yang begitu relevan yang mungkin telah ditulis oleh Didi Kempot sebelum adanya istilah milenial dan menyentuh “masalah anak muda” saat ini, yakni sakit hati dan percintaan. Masyarakat yang dahulu tidak mengerti bahasa Jawa “Tansah kelingan kepingin nyawang, sedelo wae uwis emoh tenan” (selalu ingat dan ingin memandangnya, walau sebentar akan mengobati kangen). Sebuah lirik di dalam lagu Pamer Bojo Cendol Dawet, kini begitu dikenal oleh masyarakat. Secara tidak langsung melalui lirik bahasa Jawa ini Didi Kempot berhasil membangunkan kesadaran pada masyarakat selain untuk menyadari kenyataan akan cinta, juga mampu memberikan daya magis dari nilai bahasa Jawa itu sendiri. Hal itu terlihat dari spontanitas masyarakat untuk ikut bernyanyi, yang artinya juga turut menggunakan bahasa Jawa ketika merapal lirik-lirik lagunya

Apa yang dilakukan oleh Didi Kempot ternyata sesuai sebagaimana fungsi dari bahasa itu sendiri, sebagaimana yang telah disebutkan di atas, yakni bahasa pada tataran simbol ternyata menyimpan kekuatan magis. Kekuataan magisnya terletak pada kemampuannya mempresentasikan kenyataan atau realitas. Maka, sangat pantas jika kemudian Didi Kempot hari ini dijuluki sebagai ‘Godfather of Broken Heart’, karena ‘renaissance’ yang dilakukannya.

Kedua, peran yang dimainkan Didi Kempot sebagai penyanyi bergenre campursari, secara tidak langsung telah menjadi sosok guru bahasa. Disebut sebagai guru karena melalui lirik-lirik lagunya yang berbahasa Jawa, Didi Kempot melakukan dua hal yakni, pertama mengajarkan berbahasa Jawa kepada masyarakat tanpa harus melalui pendidikan jalur formal dan menyulitkan. Dengan menghayati dan mendengarkan lagu-lagunya setiap hari, seseorang dengan sendirinya akan mencari liriknya melalui internet dan diikuti dengan goyangan khas dangdut koplo. Sehingga ketika ada konser yang diadakan lagi oleh Didi Kempot bisa mengikuti liriknya.

Kedua, melalui lagu-lagunya yang bernuasa percintaan dan patah hati, secara tidak langsung juga Didi Kempot mengajarkan bahwa masalah patah hati dan cinta bukan untuk disesali, melainkan untuk dinikmati.

Hal itu bisa dilihat ketika Didi Kempot melakukan konser, masyarakat tidak ada yang bersedih hati. Mungkin sedang bersedih hati, namun tidak diungkapkan. Kalau pun diungkapkan. Ungkapan itu dikeluarkan dengan bahasa Jawa. Jadi bisa dikatakan tatkala Didi Kempot sedang mengadakan konser, justru penulis melihatnya sebagai sebuah ‘panggung pendidikan’ berbahasa Jawa. Karena secara tidak sadar bukan kemarahan atau kesedihan yang lahir dari penontonnya melainkan bahasanya yakni, bahasa Jawa.

Sekali lagi, dengan menggunakan bahasa Jawa sebagai simbol yang memiliki kekuataan magis karena mampu mempresentasikan akan kenyataan cinta dan patah hati di kalangan anak muda saat ini. Didi Kempot telah menjadi sosok guru yang menjaga nilai-nilai kekayaan bangsa Indonesia, khususnya di dalam berbahasa.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
1
Suka
Ngakak Ngakak
1
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
0
Keren
Terkejut Terkejut
1
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals