Tembok Berlin dan Keindonesiaan Kita

Tembok Berlin telah mengingatkan tentang Keindonesiaan Kita sebagai anugrah atas perjuangan pendiri bangsa, maka harus terus dijaga.


Sumber: pexels.com

Bagi sebagian kita atau mungkin seluruh masyarakat di dunia sudah tidak asing lagi tentang sebuah tembok bernama Tembok Berlin (Berliner Mauer). Pembatas beton sepanjang 140 kilometer yang terdapat di Negara Jerman.

Sebuah pembatas yang berdiri pada tanggal 13 Agustus 1961 (Pasca Perang Dunia II), oleh pemerintah Sosialis Republik Demokratik Jerman (GDR). GDR atau nama lainya Jerman Timur memulai membangun kawat berduri dan beton (Antifascistischer Schutzwall) atau “benteng anti-fasis”.

Adapun tujuan resminya adalah untuk mencegah “fasisme” dari Barat memasuki Jerman Timur dan merusak negara sosialis. Tentu di balik itu juga terdapat motif lain yakni, membendung pembelotan massal dari Timur ke Barat.

Tembok ini sendiri mengelilingi Berlin Barat dan mencegah akses menuju Berlin Timur dan daerah-daerah yang berdekatan di Jerman Timur. Pembatasan ini terjadi mulai tahun 1961 hingga 1989. Adapun denah tembok yang membatasi itu sebagaimana gambar di bawah ini:

201411101139070_b.jpg

(Sumber Gambar: https://fotokita.grid.id/amp/111913860/runtuh-di-tangan-aksi-massa-potongan-tembok-berlin-ternyata-bisa-kita-saksikan-di-ruang-publik-jakarta-siapa-yang-punya-ide-menaruh-potongan-tembok-itu?page=all)

Bertahun-tahun, Tembok Berlin sebagai pemisahkan Jerman Timur dan Jerman Barat penghalang fisik yang melambangkan perpecahan politik saat itu. Pembatasan antara blok Timur (sosialis) dan blok Barat (kapitalis) merupakan sikap politik paranoid yang berlebih-lebihan pada abat 20.

Baca juga: Resep dari Al-Qur’an untuk Realisasi Perdamaian Dunia

Runtuhnya Tembok Berlin

Namun itu tidak berlangsung lama, tembok yang selama ini membatasi akibat sebuah paranoid politik dalam sejarah runtuh pada tanggal 9 November 1989. Tepat lima hari setelah setengah juta orang berkumpul melakukan protes massal di Berlin Timur.

Kemudian pemerintah Jerman Timur menerapkan kebijakan untuk meredam protes dengan pelonggaran akses bagi warga Jerman Timur untuk pergi ke Jerman Barat. Akan tetapi pelonggaran itu tidak bermaksud untuk membuka perbatasan sepenuhnya. Hasilnya masyarakat makin tidak terkontrol orang-orang mulai memanjat tembok di gerbang Bradenburg Berlin, membobol tembok dengan menggunakan palu (Indonesia, 2019).

Sejak saat itu simbol kebebasan dari keterkungungan fisik dan pemikiran ikut runtuh. Seluruh dunia kemudian mengalami globalisasi yang melewati lintas-batas negara.

Pelajaran untuk Indonesia

Bagi kita yang tinggal di Indonesia mungkin secara naif mengatakan apa untungnya melihat Tembok Berlin serta keruntuhannya. Toh, itu hanya terjadi di Eropa bukan di negara kita Indonesia.

Betul memang, bahwa sejarah Tembok Berlin tidak terjadi di negara kita. Namun efek pembangunan Tembok Berlin dan keruntuhannya mempunyai nilai positif bagi bangsa Indonesia.

Sejak awal para pendiri negara kita telah menggagas terbentuknya sebuah negara bangsa atau nation state. Sebagai “negara-bangsa” tentu memiliki gagasan tentang negara untuk seluruh bangsa.

Pengertian “bangsa” dalam bahasa Arab sering diistilahkan dengan ummah (ummatun, umat). Kata ini memiliki maksud persatuan seluruh umat, dengan tujuan mewujudkan kemaslahatan umum. Suatu konsep tentang kebaikan yang meliputi seluruh warga negara tanpa terkecuali (Madjid, 2004).

Tembok Berlin Imajiner

Namun kenyataan berkata lain, dengan kenyataan bahwa negara terkoyak akibat segelintir “oknum” yang hanya mementingkan dirinya. Alih-alih merayakan kebebasan atas runtuhnya Tembok Berlin, kita justru menciptakan “Tembok Berlin Imajiner” dalam sikap dan pikiran kita.

Hal ini terlihat dengan sangat-sangat jelas melaui fenomena pelabelan cebong, kampret, dan kadrun di media sosial. Sebuah stigma untuk mengkotak-kotakkan perbedaan pendapat, prinsip, dan ideologi.

Maka tak heran jika Henri Subiakto staf ahli Menkominfo mengatakan bahwa; “dulu masyarakat terpisah secara sosial di kehidupan nyata. Hal ini terlihat dari pembagian kampung Jawa, kampung Sunda, dan kampung Pecinan. Berbeda dengan sekarang, segregasi muncul di dunia maya akibat rekaan algoritma (komputer).

Semua orang berkumpul untuk menyembah satu ide yang sama. Sebagaimana kelompok yang tidak suka pemerintah, akan berkumpul dengan orang-orang yang tidak suka dengan pemerintah” dan seterusnya (Harjono, 2020).

Kenyataan di atas tentu sifatnya sangat luas bukan hanya politik tetapi agama dan lain sebagainya. Tak jarang dari sikap egoisme akibat “Tembok Berlin Imajiner” yang kita ciptakan sendiri. Hal ini mengakibatkan sesama anak bangsa saat ini mandek berdiskusi tentang gagasan, dan justru menyerang dengan ujaran SARA.

Kenyataan itu menimbulkan konflik sosial dan kerusuhan yang merugikan. Fenomena ini tidak menutup kemungkinan akan bergulir terus mengingat sikap kita yang akhir-akhir ini selalu emosian.

Baca juga: Teladan Nabi dalam Perdamaian di Indonesia

Patung Menembus Batas

Atas dasar itu maka tidak heran jika seorang seniman Indonesia bernama Teguh Ostenrik rela mendatangkan sisa-sisa bongkahan Tembok Berlin ke Indonesia. Ia letakkan di antara Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kalijodo Jakarta Utara.

Bongkahan tembok yang bermana Patung Menembus Batas itu memiliki makna yang dalam bagi Indonesia. Yakni, bentuk negara kita yang terdiri dari beragam suku bangsa, agama, bahasa, dan budaya. Di antara suku-suku dan pemikiran yang sama sekali berbeda itu, selalu ada “Tembok Berlin”  yang perlu di waspadai(Kusuma, 2019).

Artinya secara tidak langsung meski Tembok Berlin secara fisik telah hancur tetapi sewaktu-waktu dapat terbangun dalam pikiran kita di tengah-tengah kemajemukan bangsa Indonesia.

Beberapa ide di atas itu memberi kita arti pentingnya persatuan yang digagas para pendiri bangsa Indonesia tentang kebaikan untuk seluruh warga negara. Sebagaimana disampaikan oleh vokalis band Scorpions asal Jerman Klaus Meine yang mengatakan pasca runtuhnya Tembok Berlin yaitu, “pada suatu malam semua orang, baik itu musisi asal Jerman, Rusia, Amerika, serta jurnalis ataupun anggota Tentara Merah, bersama-sama berada di sebuah perahu di Sungai Moskow menuju Gorky Park.

Saat itulah muncul visi: seluruh dunia bersama dalam sebuah kapal, semua orang berbicara bahasa yang sama, yakni bahasa musik” (Wojcik, 2020).

Kelak inspirasi ini dia tulis dalam lirik lagu berjudul Wind of Change; “The world is closing in. Did you ever think that we could be so close, like brothers. The future’s in the air I can feel it everywhere. Blowing with the wind of change”.

Daftar Pustaka

Harjono, M. (2020, September 18). Henri: Dulu Segregasi Sosial, Sekarang Segregasi Digital. Retrieved Juni 5, 2022, from Kementerian Komunikasi Dan Informatika RI: https://aptika.kominfo.go.id/2020/09/henri-dulu-segregasi-sosial-sekarang-segregasi-digital/

Indonesia, B. (2019, November 11). Runtuhnya Tembok Berlin: Bagaimana 1989 Mengubah Dunia Modern. Retrieved Juni 5, 2022, from BBC News Indonesia: https://www.bbc.com/indonesia/dunia-50301403

Kusuma, B. D. (2019, November 9). Runtuh di Tangan Aksi Massa, Potongan Tembok Berlin Ternyata Bisa Kita Saksikan di Ruang Publik Jakarta. . Retrieved Juni 6, 2022, from Foto Kita: https://fotokita.grid.id/amp/111913860/runtuh-di-tangan-aksi-massa-potongan-tembok-berlin-ternyata-bisa-kita-saksikan-di-ruang-publik-jakarta-siapa-yang-punya-ide-menaruh-potongan-tembok-itu?page=all

Madjid, N. (2004). Indonesia Kita. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Wojcik, N. (2020, Mei 23). Benarkah CIA Tulis Lagu Scorpions Berjudul Wind of Change. Retrieved Juni 5, 2022, from dw Indonesia: https://www.dw.com/id/benarkah-cia-tulis-lagu-wind-of-change-scorpions/a-53545262

Editor: Ahmad Mufarrih
_ _ _ _ _ _ _ _ _
Catatan: Tulisan ini murni opini penulis, redaksi tidak bertanggung jawab terhadap konten dan gagasan. Saran dan kritik silakan hubungi [email protected]

Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! Selain apresiasi kepada penulis, komentar dan reaksi Anda juga menjadi semangat bagi Tim Redaksi 🙂

Silakan bagi (share) ke media sosial Anda, jika Anda setuju artikel ini bermanfaat!

Jika Anda ingin menerbitkan tulisan di Artikula.id, silakan kirim naskah Anda dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

 

[zombify_post]

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Sosiokultural

REKOMENDASI

pornjk, pornsam, xpornplease, joyporn, pornpk, foxporn, porncuze, porn110, porn120, oiporn, pornthx, blueporn, roxporn, silverporn, porn700, porn10, porn40, porn900