Keharusan Aktif Menuntut Ilmu

"..Pengetahuan akan berkembang jika dikaji secara aktif. Sebaliknya, akan layu dan mati jika diabaikan dan ditinggalkan.."


Sumber foto: fr.ulule.com

Islam sangat menekankan kepada Muslim agar giat menuntut ilmu. Dengan ilmu seseorang akan dapat menunaikan tugas-tugas dengan baik dan benar. Muslim hendaklah menjadi pengajar atau penuntut ilmu. Belajar berarti meningkatkan pengetahuan hari demi hari.

Rasulullah saw bersabda, “Siapa yang menghendaki kebaikan dunia, hendaklah dengan ilmu; siapa yang menghendaki kebaikan akhirat hendaklah dengan ilmu; siapa yang menghendaki kebaikan keduanya hendaklah dengan ilmu.” (HR Thabarani).

Allah swt berpesan dalam Alquran tentang menuntut ilmu dan nilai ilmu, ”Wahai orang-orang yang beriman, jika dikatakan kepadamu berilah tempat dalam pertemuan, berilah tempat, Allah akan memberi tempat yang lapang kepadamu. Dan bila dikatakan berdirilah, maka berdirilah. Allah akan mengangkat derajat orang beriman di antara kamu dan mereka yang diberi ilmu beberapa tingkatan. Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS 58:11).

Apakah kaum musryik yang lebih beruntung, ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada azab akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah, ”Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sungguh, hanya orang-orang yang berakal sehatlah yang dapat menerima pelajaran (QS 39:9).

Dalam ayat yang lain Allah swt berpesan, Katakanlah, “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (QS 20:114).

Nabi Muhammad saw bersabda, “Tuntutlah ilmu dari ayunan sampai ke liang kubur.”“Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari ilmu, maka ia berada di jalan Allah.”

Pada suatu hari Shafwan al-Muradi menghadap Nabi Muhammad saw di Masjid dan berkata, “Wahai Rasul, saya datang untuk menuntut ilmu”. Nabi saw menjawab, “Selamat datang, wahai penuntut ilmu! Sungguh, para malaikat turun mendoakan para penuntut ilmu dengan melebarkan sayap-sayapnya, bersama-sama mengelilinginya, sampai mereka mencapai langit pertama, karena cintanya terhadap apa yang dicari orang itu.” (HR Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Hibban dan Hakim).

Para pendahulu kita tak pernah berhenti meningkatkan pengetahuan sampai akhir hayat. Pengetahuan akan berkembang jika dikaji secara aktif. Sebaliknya, akan layu dan mati jika diabaikan dan ditinggalkan. Pendidikan kalbu pun tidak kalah penting daripada pendidikan akal.

Imam ibnu Abdul Barr meriwayatkan bahwa Ibnu Abi Ghassan berkata, “Selama kamu menuntut ilmu, kamu berpengetahuan; begitu kamu berhenti, kamu menjadi bodoh.”

Imam Malik berkata, “Tak seorang pun yang berilmu akan berhenti menuntut ilmu.”

Imam Abu Amr ibn al-A’la ditanya, “Berapa lama waktu yang diperlukan bagi seseorang untuk menuntut ilmu?” Dia menjawab, “Selama dia hidup.”

Seseorang bertanya kepada Imam Sufyan ibnu ’Uyainah, ”Siapakah orang yang paling membutuhkan ilmu pengetahuan?” Jawabnya, “Orang yang paling banyak ilmunya.” “Mengapa?” “Sebab, jika dia membuat kesalahan akibatnya lebih buruk.”

Orang yang menuntut ilmu lebih dekat kepada Allah dan ridha-Nya. Yang benar-benar takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah mereka yang berpengetahuan. (QS Fathir/35:28).

Pada suatu malam Rasulullah saw datang ke masjid. Iblis berdiri di depan pintu. Beliau pun menegurnya, “Hai iblis, apa yang kamu kerjakan?” Iblis menjawab, “Ya Rasulullah, aku hendak masuk ke masjid untuk menggoda orang yang sedang shalat itu, tetapi aku takut karena di dekatnya ada orang tidur.” Nabi saw bertanya, “Mengapa kamu tidak takut kepada orang yang sedang shalat, padahal dia sedang berdialog dengan Tuhannya? Mengapa justru takut pada orang yang sedang tidur? Bukankah ia sedang dalam keadaan lalai ?”

Iblis menjawab, “Ya Rasulullah, orang yang sedang shalat itu orang bodoh, sehingga mudah untuk mengganggunya, tetapi orang yang tidur itu berilmu. Kalaupun aku berhasil merusak shalat orang bodoh itu, lalu orang yang berilmu terbangun, niscaya dia akan segera membetulkan shalat orang yang bodoh itu.” Rasulullah saw pun bersabda, “Tidurnya orang alim itu lebih baik daripada ibadahnya orang bodoh.”

Pada kesempatan lain Rasulullah saw masuk masjid dan menemukan dua kelompok majelis di dalamnya: majelis dzikir, dan majelis ilmu. Rasulullah saw bersabda, “Kedua majelis ini baik, tetapi aku lebih menyenangi salah satu daripada yang lain. Majelis pertama, orang-orang yang berdzikir dan memohon kepada Allah. Dia mungkin mengabulkan doa mereka atau menolaknya. Majelis kedua, orang-orang yang mempelajari ilmu dan mengajarkannya, dan saya sendiri diutus sebagai guru.” Lalu Rasulullah saw duduk di majelis ilmu.

Orang-orang bijak berkata, ”Dasar kemanusiaan seseorang adalah akalnya; dasar kemuliaannya adalah agamanya; dasar harga dirinya adalah akhlaqnya.” (Umar bin Khaththab)’ ”Kejarlah ilmu, karena dengan ilmu Anda dapat hidup selama-lamanya. Manusia pasti mati, tetapi orang yang berilmu tetap hidup.” (Ali bin Abu Thalib); ”Selayaknya manusia tidak sombong dalam bidang yang dikuasainya, dan tidak pula berpura-pura mampu dalam bidang yang tidak dikuasainya.” (Al-Mawardi).

”Siapa yang rendah hati karena ilmunya, Allah memuliakannya dengannya. Ilmu itu tiga jengkal. Siapa yang menguasai satu jengkal akan sombong dan angkuh serta menduga telah berilmu. Siapa yang menguasai dua jengkal rendah hati dan mengetahui bahwa ia belum berilmu. Adapun jengkal ketiga hanya Allah saja yang mengetahuinya.” (Asy-Sya’bi).

“Membaca itu memperkaya perbendaharaan jiwa, oleh karena itu sangat membahagiakan.” (Goethe); “Hati akan mati bila tak berhasrat kepada ilmu pengetahuan.” (Fathul Mausuli); “Kehebatan daya cipta adalah berkat rajin membaca, hingga kekayaan dan kebahagiaan yang berupa apa pun dapat dicapai oleh manusia yang banyak pengetahuannya (Bernard Shaw); “Dengan ilmu hidup menjadi mudah; dengan seni hidup menjadi indah; dengan agama hidup menjadi terarah.” (A. Mukti Ali).

Ilmu itu adalah tenaga
Tanpa ilmu tiada berdaya
Barang siapa rajin membaca
Jendela dunia akan terbuka
Ilmu itu teman setia
Setiap saat dia membela
Ilmu itu harta abadi
Tak mungkin dapat dicuri
Barang siapa hendak bahagia
Harus banyak ilmu di dada
Menuntut ilmu jangan berhenti
Karena ilmuwan berderajat tinggi
Jika ingin anak cerdik
Jangan lengah ia dididik
Kalau hendak anak bermutu
Ajak dia menuntut ilmu
Di masa muda malas belajar
Di hari tua hidup terlantar
Menuntut ilmu baru berakhir
Jika nyawa sudah menyingkir.
(Sulaiman Yusuf)

Hanya orang yang halus perasaannya keindahan dan rahasia alam ini dibukakan Tuhan untuknya. Kehidupan adalah kitab yang indah, tetapi tak bermanfaat bagi orang yang tidak membacanya.

Baca tulisan-tulisan Muhammad Chirzin lainnya: Kumpulan Tulisan Prof. Dr. Muhammad Chirzin, M.Ag.

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
9
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin

Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. Guru Besar Tafsir Alquran UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Anggota tim penyusun Tafsir Tematik Litbang Kemenag RI dan tim penyusun draft revisi Alquran dan Terjemahnya Tim Kemenag RI 2017. Telah menulis lebih dari 50 buku tentang Alquran.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals