Narasi Al-Qur’an tentang Makna Kafir

Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufrodat fi Gharib al-Qur’an menjelaskan bahwa kata kafara bermakna menutup sesuatu.


islami.co

Kontroversi pemberitaan “jangan sebut kafir ke non Muslim” yang merupakan hasil Munas Alim Ulama dan Konferensi Besar PBNU 2019 belum lama ini menghiasi jagat maya dan pembicaraan masyarakat dimana-mana.

Kontroversi ini menimbulkan dua kubu, ada yang pro dan ada yang kontra dan penulis tidak masuk ke dua ranah ini, namun mencoba melihat dari aspek al-Qur’an bil Qur’an dengan pola analisa sederhana, dimana pola yang ditawarkan belum sepenuhnya mewakili semua ayat yang dikaji, namun setidaknya memberi gambaran bagaimana ragam makna dan pola al-Qur’an ketika menyebut kata kafir.

Raghib al-Ashfahani dalam al-Mufrodat fi Gharib al-Qur’an menjelaskan bahwa kata kafara bermakna menutup sesuatu. Kata kafir dengan arti menutup dijelaskan dalam al-Qur’an Qs. al-Maidah: 65 dan Qs. az-Zumar:35.

Kata ini juga bermakna menghapus, sebagaimana dijelaskan dalam Qs. an-Nisa:31 dan Qs. Ali Imran: 195. Dalam konteks al-Qur’an, kata kafir dalam berbagai bentuknya memiliki beragam makna, diantaranya adalah Kufrana (Qs. al-Anbiya: 94) dan al-Kufru (Qs. al-Isra: 99, Qs. Ibrahim:7, Qs. Abasa: 42).

Kata kufrana seringkali digunakan dalam makna kufur nikmat sementara al-Kufru lebih banyak digunakan untuk mengungkapkan makna kufur dalam agama. Oleh karena itu, pengingkaran terhadap nikmat dan pengingkaran terhadap agama disebut kafara dan orangnya disebut kafir.

Pola penyebutkan istilah kafir oleh al-Qur’an dijelaskan cukup beragam. Diantara pola penyebutan istilah kafir pernah dituduhkan kepada Nabi Sulaiman namun al-Qur’an membantahnya.

”Padahal Sulaiman tidak Kafir(tidak mengerjakan sijir), hanya syaitan-syaitanlah yang kafir (mengerjakan sihir) mereka mengajarkan sihir kepada manusia.” (Qs. al-Baqarah:102). Dalam hal yang sama, terjadi juga kepada Nabi Nuh yang diingkari (kufira) oleh kaumnya (Qs. al-Qamar:14).

Dalam ayat ini sebagian ulama memberi penafsiran (kufira/ yang diingkari) adalah para Nabi dan orang-orang yang selalu memberikan nasihat kepada mereka mengenai perintah Allah.

Pola lain yang dinarasikan al-Qur’an terkait kafir juga dilakukan oleh syetan yang mengelak dari para sekutunya saat di Neraka (Qs. Ibrahim: 22). Kemudian dalam ayat lain, syaitan harus dijauhi sebab keingkaran kepada Tuhan-Nya dan peringatan agar tidak berlaku boros, sebab para pemboros adalah saudara syaitan (Qs. al-Isra:27). Wa Allahu A’lam Bisshowab

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
3
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
0
Wooow
Keren Keren
2
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Dr. Ridhoul Wahidi, MA

Dr. Ridhoul Wahidi, MA. Dosen Tafsir pada Prodi Ilmu Al-Quran dan Tafsir Universitas Islam Indragiri Tembilahan, Provinsi Riau. Menulis artikel dan buku motivasi dalam menghafal Al-Quran dan kajian keislaman baik media cetak maupun media Online.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Kajian

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals