Tantangan Beriman di Era Pancaroba

Iman itu terkadang bisa naik dan bisa turun, kuatnya keimanan seseorang tergantung bagaimana memahami kalimat tauhid.


Iman dalam bahasa Arab artinya percaya dan yakin tanpa ragu. Sedangkan menurut istilah iman adalah meyakini dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Jadi, seseorang dapat dikatakan sebagai mukmin (orang yang beriman) dengan sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan tersebut.

Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.

Pancaroba adalah suatu keadaan tidak menentu yang menyebabkan prilaku berubah-ubah tidak sesuai dengan semestinya. Pancaroba dalam ensiklopedia bahasa Indonesia adalah masa peralihan antara dua musim utama di daerah iklim muson, yaitu di antara musim penghujan dan musim kemarau.

Tetapi pancaroba yang akan diangkat pada pembahasan ini adalah keadaan keimanan sesorang atau sekelompok orang kepada Allah Swt yang tidak menentu (berantakan tak tentu arah).

Berkaitan dengan hal ini Nabi Muhammad Saw sudah jauh-jauh hari mengingatkan kepada kita untuk senantiasa: “Berhati-hati akan tiba suatu masa di masa kita diperintahkan untuk segera bergegas untuk mengumpulkan banyak amal-amal sholeh. Karena pada masa itu akan terjadi ujian suasana pancaroba yang tidak biasa”. Di mana ujian yang tidak pernah kelihatan sebelumnya akan tampak. Yang tadinya orang-orang berhati-hati (mawas) dan was-was akan menjadikan orang-orang berprilaku biasa-biasa saja.

Contohnya: pada waktu dahulu jika terjadi gempa atau musibah sedikit saja semua orang-orang yang mengalami dan juga yang mendengar kejadian tersebut pasti bergetar, bergejolak ketakutan serta bertakbir meronta-ronta. Tetapi kini situasi seperti itu hanya dijadikan bahan tontonan dan informasi biasa-biasa saja yang tidak ada kesan sekalipun.

Nabi Muhammad Saw bersabda dalam hadits berikut:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَنْبَأَنَا إِسْمَاعِيلُ أَخْبَرَنِي الْعَلَاءُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَادِرُوا فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا وَيُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا

Telah menceritakan kepada kami Sulaiman telah memberitakan kepada kami Isma’il telah mengabarkan kepadaku Al-‘Ala’ dari bapaknya dari Abu Hurairah berkata, bahwasanya Nabi Saw  bersabda: “Bersegeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti sepenggalan malam yang gelap gulita, seorang laki-laki di waktu pagi mukmin dan di waktu sore telah kafir, dan di waktu sore beriman dan pagi menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan kesenangan dunia.” (Imam Ahmad–8493)

Dari hadis tersebut jelas memberikan penegasan ancaman atau tantangan besar yang pasti akan selalu kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari di era sekarang. Dewasa ini segala nilai agama sudah dibolak-balikkan sedemikian rupa sehingga seseorang tak lagi merasa perlu akan agama. Pada era modern ini telah dijumpai orang-orang yang paginya beriman sore harinya jadi kafir dan munafik serta menjual ayat-ayat agama demi jabatan dan kemewahan dunia.

Fenomena ini sudah terjadi di tengah-tengah kita, banyak orang mengutip dan membelokkan makna ayat-ayat Allah demi tahta, banyak orang mencampuradukkan agama, (beribadah di gereja), mengangggap semua agama sama, ikut ibadah campur-campur, menghalalkan yang haram dan mengharamkan yang halal, merendahkan agama sendiri, dsb.

Sikap tidak istiqamah tersebut mungkin disebabkan karena orang pada masa ini lebih mengutamakan kepentingan atau kemaslahatan dunia daripada memelihara keutuhan dien-nya (agama) alias imannya. Orang seperti ini telah tenggelam ke dalam faham bahkan ideologi materialisme dan hedonisme.

Mas’ud bin Faisal dalam kitabnya berjudul Dhawabith At-Takfir ‘inda Ahlis Sunnah wa Al-Jama’ah, menguraikan sembilan Pembatal Keimanan yang disepakati oleh para ulama:

1. Sombong dan menolak beribadah kepada Allah walaupun membenarkan dan mengakui kebenaran Islam

2. Syirik dalam beribadah kepada Allah Swt

3. Membuat perantara dalam beribadah kepada Allah Swt dan meminta pertolongan kepada selain Allah Swt

4. Mendustakan Rasulullah Saw membenci sesuatu yang beliau bawa walaupun ia melakukannya

5. Tidak mengkafirkan orang-orang musyrik atau ragu terhadap kekafiran mereka atau membenarkan mazhab (faham/keyakinan) mereka

6. Memperolok-olok Allah Swt, Al-Qur’an, Al-Islam, pahala dan siksa, dan yang sejenisnya, atau mengolok-olok Rasulullah atau salah seorang Nabi as, baik ketika bergurau ataupun sungguhan

7. Membantu orang musyrik atau menolong mereka untuk memusuhi orang Islam

8. Meyakini bahwa ada sebagian orang yang boleh keluar dari ajaran Rasulullah dan tidak wajib mengikuti ajaran beliau

9. Meyakini ada petunjuk yang lebih sempurna daripada petunjuk Nabi Saw atau meyakini ada hukum yang lebih baik daripada hukum beliau yang berlandaskan syariat Allah Swt.

Na’udzubillahi min dzaalik

 

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
0
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
2
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
1
Wooow
Keren Keren
1
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals