Idul Adha Menggugah Jiwa Kasih Sayang dan Pengorbanan

Kurban adalah simbol kasih sayang, kesetiakawanan dan pemberdayaan umat; inspirasi umat Islam untuk selalu peduli terhadap nasib sesama.


Sumber gambar: id.abna24.com

Mari kita rayakan Idul Adha. Ibadah kurban adalah suatu bentuk ketaatan kepada Allah swt berupa penyembelihan unta, sapi, dan kambing atau kerbau pada tanggal 10 Zulhijah dan hari-hari tasyrik karena mengharap ridha Allah swt.

Kurban adalah simbol kasih sayang, kesetiakawanan dan pemberdayaan umat; inspirasi umat Islam untuk selalu peduli terhadap nasib sesama. Dengan Hari Raya Idul Adha Allah swt memberikan ruang untuk saling menyapa dan berbagi, meneguhkan silaturahmi, dan persaudaraan. Allah swt berfirman dalam Al-Qur'an,

Sungguh, telah Kami berikan kepadamu sumber yang melimpah. Maka shalatlah untuk Tuhanmu dan berkurbanlah. Sungguh, orang yang membenci engkau,- dialah yang putus dari harapan masa depan (QS 108:1-3).

Allah swt memberikan anugerah yang melimpah-ruah. Nikmat kehidupan, kesehatan, keluarga bahagia, tanah air yang indah subur, dan berbagai rezeki yang kita nikmati setiap hari. Al-kautsar mengandung arti sumber mata air samawi yang suci, karunia dan hikmah yang tak terbatas, rahmat dan segala kebaikan, kebenaran, kearifan, kekuatan rohani dan wawasan yang dalam yang telah diberikan kepada semua orang.

Pengalaman kurban seumur dengan keberadaan manusia di bumi. Ibadah kurban ditetapkan pertama kali atas kedua putra Nabi Adam untuk menguji kesalihan di atara keduanya. Yang satu berkurban hasil pertanian dengan berat hati dan yang seorang lagi berkurban domba dengan penuh takwa. Allah swt menerima kurban yang kedua. 

Baca juga: Menyongsong Hari Raya Kurban

Adapun ibadah kurban umat Nabi Muhammad saw adalah ajaran yang diwariskan oleh Bapak Para Nabi, Ibrahim as, sebagaimana difirmankan Allah swt dalam Al-Qur'an,

Kemudian, ketika anaknya sudah mencapai usia dapat bekerja dengan dia, Ibrahim berkata, “Hai anakku, aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu sebagai kurban, maka bagaimana pendapatmu?” Anaknya menjawab, “Wahai ayahku, laksanakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah akan kaulihat aku termasuk orang yang sabar dan tabah.” Maka setelah keduanya berserah diri kepada Allah, dan dia meletakkannya terbaring di atas dahinya untuk kurban.  Kami panggil dia, “Hai Ibrahim, Engkau telah memenuhi apa yang kaulihat dalam mimpi!” – demikianlah Kami memberi balasan kepada orang yang berbuat kebaikan. Sungguh, ini suatu ujian yang nyata.  Dan Kami tebus dia dengan kurban  yang besar. (QS 37:102-107).

Teladan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Ismail as mengandung moralitas untuk berbagi sumber, berbagi kesempatan yang akan menumbuhkan semangat memelihara warisan kemanusiaan, warisan budaya, dan warisan bangsa bersama; memelihara asset nasional, dengan mengalahkan kepentingan pribadi, keluarga, kelompok, golongan, suku, partai politik, maupun fanatisme agama sempit.

Penyembelihan ternak tahunan secara teratur membuahkan keseimbangan ekosistem. Andaikata tidak ada ibadah kurban, mungkin populasi kambing dan sapi melimpah di negeri ini, sehingga melahap habis bahan makanan yang hendak dikonsumsi manusia.

Ibadah kurban membuka peluang untuk memperoleh rezeki. Dari pengadaan benih hewan kurban, pemeliharaan dan pembesaran hewan kurban, penyediaan pakan, serta memberikan pekerjaan bagi tukang potong ternak.

Penyembelihan hewan kurban adalah simbol pengorbanan diri; memotong syahwat duniawi dan sikap mental syaithani yang mengalir dalam diri kita. Allah swt berfirman,

Yang sampai kepada Allah bukan daging atau darahnya, melainkan yang sampai kepada-Nya ketakwaan kamu. Demikianlah Ia memudahkannya kepada kamu supaya kamu mengagungkan Allah atas bimbingan-Nya kepada kamu; dan sampaikan berita baik kepada semua orang yang telah berbuat baik.(QS 22:37).

Allah swt menurunkan agama untuk membebaskan manusia dari penderitaan; mencapai kedamaian hidup, agar manusia dapat berdiri bebas di hadapan Tuhan secara benar, saling menyayangi, berlaku adil, dan menjaga diri dari perbuatan aniaya. Agama membebaskan manusia dari kebodohan, agar manusia dapat meneruskan karya penciptaan di muka bumi ini secara cerdas dan kreatif.

Masing-masing kita bergantung pada kesejahteraan keseluruhan. Oleh karena itu kita meng­hargai komunitas segala yang hidup; manusia, binatang, tumbuhan; memelihara kelestarian bumi, udara, air, dan minyak.

Kita harus memperlakukan pihak lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Kita harus membenamkan perbedaan yang sempit, berusaha menjadi baik dan murah hati. Hidup tidak untuk diri sendiri, tetapi juga untuk orang lain. Tak seorang pun boleh diperlakukan semena-mena dan dieksploitasi dengan cara apa pun.

Kita singkirkan segala bentuk penguasaan dan tindak kekejaman terhadap pihak lain. Peduli pada suatu kehidupanyang penuh penghargaan, keadilan, dan kedamaian. Kita berusaha mewujudkan aturan sosial dan ekonomi yang adil, di mana setiap orang memiliki kesempat­an yang sama untuk mencapai prestasi puncak. Kita cegah dominasi ketamakan atas kekuasaan, pencitraan, uang, dan konsumsi untuk mencipta dunia yang adil dan damai.

Allah Swt memberi manusia potensi dan kemampuan untuk mengubah kehidupan dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta manajemen yang profesional. Umat Islam harus melawan keterbelakangan dan mengatasi kemiskinan dalam berbagai dimensinya dengan berpikir keras dan bekerja cerdas. Pendidikan adalah salah satu fundamen pengembangan kreativitas.

Tuhan menciptakan samudera, manusia membuat kapal untuk mengarunginya.
Tuhan menciptakan malam, manusia membuat lampu untuk meneranginya.
Tuhan menciptakan aneka barang tambang, manusia menggali dan memanfaatkannya.
Tuhan memerintahkan shalat, manusia membuat masjid untuk bersujud di dalamnya.
Tuhan memerintahkan haji, manusia menghimpun bekal untuk menempuh perjalanan ke Rumah-Nya.

Bahwa yang diperoleh manusia hanya apa yang diusahakannya. Bahwa usahanya akan segera terlihat. Kemudian ia akan diberi balasan pahala yang sempurna. Bahwa kepada Tuhamu tujuan akhir. (QS 53:38-42).

Kekayaan dan kekuasaan bukanlah tujuan, melainkan sarana untuk mewujudkan kesejahteraan, keadilan, kemakmuran, dan keselamatan bagi rakyat, jiwa maupun harta. Kekuasaan adalah ujian keimanan; apakah kekuasaan itu untuk menegakkan keadilan, mewujudkan kemakmuran, dan menjaga keselamatan rakyat atau sebaliknya.

Baca juga: Wujud Syukur Itu Berkurban

Pemerintah, penyelenggara Negara, rakyat dan wakil-wakil rakyat niscaya bersama-sama berjuang mewujudkan integrasi sosial yang lestari dengan mengupayakan kesamaan derajat di depan hukum; jaminan untuk memperoleh pendidikan yang memadai; memperoleh pekerjaan yang terhormat; memberantas mafia yang terlanjur menguasai berbagai sektor strategis: pangan, energi, pajak, anggaran pendidikan, kesehatan, logistik, hutan, tambang, dan lain-lain.

Akibat mafia menggurita, kerugian Negara dan rakyat sangat besar; ratusan triliun rupiah pertahun, yang mestinya bisa digunakan untuk mencerdaskan anak bangsa dan menyejahterakan rakyat. Akibatnya, kita semakin dalam masuk perangkap impor serta semakin jauh dari kemandirian dan kedaulatan pangan. Petani jadi korban dan pembangunan sektor pertanian serta pangan terabaikan.

Pengorbanan merupakan suatu keharusan dalam kehidupan. Manusia harus rela berkorban untuk meraih kehidupan yang bermakna. Setiap pengorbanan adalah investasi untuk memperoleh hasil yang lebih baik di masa depan. Jer basuki mawa bea… Tak ada pengorbanan tulus yang sia-sia. [DK]

_ _ _ _ _ _ _ _ _
Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom komentar di bawah ya! 

Anda juga bisa mengirimkan naskah Anda tentang topik ini dengan bergabung menjadi anggota di Artikula.id. Baca panduannya  di sini! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
4
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
4
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
2
Wooow
Keren Keren
5
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Muhammad Chirzin
Prof. Dr. H. Muhammad Chirzin, M.Ag. adalah guru besar Tafsir Al-Qur'an UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Anggota Tim Revisi Terjemah al-Qur'an (Lajnah Pentashihan Mushaf al-Qur'an) Badan Litbang Kementrian Agama RI.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals