Menjaga Eksistensi Gerakan Mahasiswa (Bagian 1)

Sejarah mencatat bahwa mahasisiwa mampu memberikan perubahan besar terhadap keberlangsungan suatu negara diberbagai belahan di dunia.


Mahasiswa mempunyai peranan penting dalam membangun peradaban bangsa. Sebagai agen perubahan, mahasiswa harus mampu menjaga idealismenya walaupun harus dibenturkan dengan kepentingan-kepentingan pragmatis. Dengan bekal idealisme, mahasiswa akan mampu menjadi Ikonperubahan dan tetap pada eksistensinya.

Sejarah mencatat bahwa mahasisiwa mampu memberikan perubahan besar terhadap keberlangsungan suatu negara diberbagai belahan di dunia. Gerakan mahasiswa pertama di dunia dimulai sejak tahun 1918 di Amerika latin. Mereka menuntut kebebasan kampus dari tekanan pemerintah yang otoriter dan menuntut otonomi akademik. Mahasiswa meminta supaya dilibatkan dalam manajemen kampus.

Aksi mahasiswa di Amerika latin kemudian menyebar ke seluruh daratan Amerika seperti Peru tahun 1919, Kolumbia tahun 1924, Chili tahun 1920, Paraguay tahun 1927, Brazil dan Bolivia tahun 1928, Mexsiko 1929, Kostarika tahun 1930 dan Kuba tahun 1933. Pada tahun 1967, giliran mahasiswa Italy melakukan gerakan menolakan terhadap otoritarianisme akademik menuntut perubahan kurikulum dan setidaknya 2000 mahasiswa jadi korban.

Pada tahun 1965, di negara Spanyol mahasiswa melakukan penolakan terhadap kapitalisme pendidikan, dan di Prancis pada tahun 1968, mahasiswa melakukan penolakan terhadap proletariat baru, yaitu meminta perubahan kurikulum yang hanya berbasis industri kapital.

Gerakan mahasiswa di Indonesia dimulai sejak tahun 1908 dengan melakukan kritik terhadap primordialisme, memberikan pendidikan kepada rakyat dan menyuarakan keluar dari penindasan kolonialisme. Gerakan ini salah satunya dimotori oleh Muhammad Hatta yang statusnya sebagai mahasiswa di Nederland Belanda dengan mendirikan indische vereeninging (Perhimpunan Indonesia) pada tahun 1925.

Pada tahun 1928, Muhammad Hatta bergabung dengan kelompok mahasiswa di Indonesia, salah satunya adalah Soekarno sebagai mahasiswa tehnik di Bandung. Pada tahun 1925 berdirilah organisasi perhimpunan pelajar-pelajar Indoensia (PPPI) yang mengusung tema kebangsaan, kemudian muncul deklarasi  sumpah pemuda pada tanggal 28 oktober 1928.

Pada tahun 1945 Indoensia saat itu dikuasai oleh Jepang dan muncul pelarangan dan pembubaran organisasi mahasiswa oleh pemerintah Jepang. Setelah organisasi kemahasiswaan bubar, mereka tetap tidak tinggal diam, para pemuda dan mahasiswa terus melakukan konsolidasi melalui asrama-asrama yang terkenal, yaitu asrama Menteng raya, asrama Cikini dan asrama Kebon Sirih. Kemudian muncul istilah angkatan muda 45, dan terjadi penculikan terhadap Soekarno dan Muhammad Hatta oleh Chaerul Saleh dan Soekarni agar segera meproklamirkan kemerdekaan yang disebut dengan peristiwa Rengasdengklok.

Tahun 1966 setelah Indoensia merdeka kemudian muncul organisasi-organisasi kemahasiswaan seperti: GMKI, PMKRI, GMNI, CGMNI, GEMSOS, PMII dan HMI. Para mahasiswa melakukan gerakan dengan mengusung isu komunis dan menentang pemerintah Orde Lama dan berjuang melakukan perubahan mendirikan pemerintahan Orde Baru. Gerakan mahasiswa ini sebagai gerakan nasional dan dikenal dengan gerakan angkatan 66, dari sinilah banyak aktivis yang masuk sebagai pejabat pemerintah Orde Baru.

Tahun 1974, mahasiswa melakukan kritik terhadap rezim orde baru karena telah melakukan rekayasa politik dan terjadi kenaikan harga BBM, beras dan terjadi korupsi di kepemerintahan, maka muncul peristiwa Malari yaitu pada tanggal 15 Januari 1975. Tahun 1977-1978, mahasiswa melakukan aksi serupa berskala nasional menuntut turunya pemerintah yang korup untuk turun dari jabatannya.

. Pada tahun 1980-an muncul lagi organisasi ektra kampus seperti: GMNI, GMKI, PMII, HMI, IMM dan lain-lain dan berkembangan hingga tahun 1990-an. Pada tahun 1998 muncul gerakan reformasi yang dilakukan oleh elemen mahasiswa meminta dihapusnya KKN. Melalui pendudukan gedung DPR/MPR oleh mahasiswa sehingga presiden pada waktu itu turun dari kursi kepresidenan. Ratusan aktivis mahasiswa menjadi korban tindakan refresip pemerintah diantaranya peristiwa Trisakti, peristiwa Cimanggis, peristiwa Gejayan, tragedi Semanggi I, dan II. dll.

Sejarah di atas cukup memberikan pemahaman kepada kita, bahwa mahasiswa mempunyai peranan penting dalam melakukan prubahan struktur negara. Eksistensi mahasiswa setidaknya dapat dibangun melalui empat gerakan yaitu: gerakan intelektual, gerakan sosial, gerakan moral dan gerakan aksi Jalanan.

Masyarakat saat ini, sedang menunggu aksi nyata mahasiswa yang daya kritisnya sudah melemah, karena mahasiswa zaman now sudah disibukkan dengan gadget, medosos, piala dunia atau keterlibatannay pada politik praktis. Berharap dengan adanya organisasi intra kampus seperti DEMA (dewan mahasiswa) dan UKM (unit kegiatan mahasiswa) serta organisasi ektra kampus, mampu mengembalikan eksistensi gerakan mahasiswa. Rindu akan aksi mahasiswa yang selalu membela kaum muntadz afiin. Wallaahu’alam. []

Baca juga: Menjaga Eksistensi Gerakan Mahasiswa (Bagian 2) 

 _ _ _ _ _ _ _ _ _

Bagaimana pendapat Anda tentang artikel ini? Apakah Anda menyukainya atau sebaliknya? Jangan lupa berikan reaksi dan komentar Anda di kolom bawah ya! 

Untuk mendapatkan info dan artikel terbaru setiap hari Anda bisa juga mengikuti Fanpage Facebook Artikula.id di sini!

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
0
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
9
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
5
Wooow
Keren Keren
4
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Hakiman

Warrior

HAKIMAN. SPd.I, MP.d. Dosen PAI FITK IAIN Surakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals