Menyoal Kebenaran HTI “Menunggangi” Demonstrasi Mahasiswa

Mahasiswa sebagai agent of social change tidak bisa diseret ke tengah pusaran isu-isu intoleransi, radikalisme, dan anarkisme. Aksi mereka murni dan tulen.


Kericuhan demonstrasi mahasiswa terkait RUU yang bermasalah pada satu titik menemukan kejanggalan yang sangat politis, dengan beberapa vidio yang beredar di media sosial menunjukkan adanya kecerdikan gerakan ideologi khilafah untuk menunggangi, menyusupi, dan meletakkan kepentingan perlawanan politik mereka untuk bersuara secara sistematis dan terstruktur. Mari sejenak lihat kejanggalan, problem, dan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi hari ini dan esok.

Penegasan bahwa mahasiswa sebagai agent of social change tidak bisa diseret ke tengah pusaran isu-isu intoleransi, radikalisme, dan anarkisme yang dipertontonkan ke publik menjadi senjata yang kuat. Pelabelan itu secara otomatis menggambarkan gerakan mahasiswa sebagai gerakan anarkisme, yang pada gilirannya akan melemahkan toleransi dan kebebasan sipil.

Berita yang menjurus pada pelemahan gerakan-gerakan ideologi mahasiswa yang diserap dari aspirasi masyarakat menurut analisis Drone Emprit and Kernels Indonesia, Ismail Fahmi, adalah perlawanan politik HTI, untuk mengambil alih perhatian masyarakat, dan sorotan dari berbagai media  (Tempo, 25/09). Gerakan ideologi ini wajah polarisasinya khilafah untuk memasuki ruang kegaduhan demokrasi saat ini yang menurut Najwa sebagai ujian reformasi.

Gelombang besar demonstrasi mahasiswa sudah bisa dipastikan sebagai tempat paling empuk untuk menuntaskan hasrat dendam politik organ eks-HTI. Ia mulai bergerak masuk untuk menemukan momentum besar ini dengan teriakan “turunkan Jokowi”, persepsi itu memang hasil analitik yang berdasar, ketika banyak pengamat mengatakan bahwa, demo-demo tersebut digerakkan, dikoordinasi, dan diotaki oleh sekumpulan elite tertentu. Tidak usahlah terlalu jauh berimajinasi, cukup sejenak baca bahwa, ideologi khilafah tidak terbatas oleh ruang dan waktu, ia menemukan eksistensinya sejak aksi 212, aksi 411 dan Ijtimak ulama. Apa yang diinginkan dengan agenda tersebut—ketidakberpihakan terhadap pemerintah—setelah dibubarkannya HTI dan dilarangnya penyebaran ideologi khilafah.

Lihat sekarang, saat negara mulai berkecamuk oleh ulah DPR terkait beberapa RUU KUHP yang dinilai mendiskreditkan rakyat kecil, dan revisi UU KPK, khilafah ingin kembali hadir secara diam-diam sebagai solusi atas semua itu, namun perlu ditegaskan di sini, khilafah tidak akan pernah berhasil memancing substansi aspirasi masyarakat yang disuarakan para mahasiswa. Seperti yang dikutip Presma UGM, gerakan mahasiswa murni gerakaran moral, gerakan yang ditunggangi aspirasi masyarakat itu sendiri. Secara tidak langsung, mahasiswa menegaskan secara blak-blakan posisi HTI khilafah, FPI radikal dan mafia Cendana yang ingin membuat kerusuhan di negeri yang damai ini.

Desas desus kata “ditunggangi” tampak sebagai trending topik, namun dengan jelas Ismail Fahmi menarasikan posisi itu sebagai cluster baru untuk mengaburkan gerakan demonstrasi mahasiswa yang murni tadi. Sebab di sinilah pentingnya tulisan ini dikaji secara mendalam, di mana prokhilafah dan antikhilafah bersarang mempolarisasi masyarakat secara masif.

Ruang kegaduhan ini yang bisa menaikkan volume isu khilafah sangat tinggi. Itu permainannya, dan ini yang ingin dipaparkan ke publik, agar para intelektual organik terlihat lebih cerdas dan ilmiah. Penegasan itu juga menjungkirbalikkan sebuah fakta tentang tagar gerakan aspirasi masyarakat yang dilakukan oleh mahasiswa di pelbagai daerah juga di ibu kota bahwa, semuanya benar-benar murni gerakan moral; tidak dikangkangi oleh gerakan radikalisme khilafah.

Kajian ini perlu terus dilanjutkan sampai ke akar-akarnya, sebelum semuanya mencapai kesimpulan yang konkrit, karena gerakan kembali ke “khilafah” tetap menjadi topik kajian analisis yang perlu dilakukan oleh para akademisi dan para aktivis-aktivis pergerakan untuk menjaga NKRI dari ideologi khilafah. Di mana para aktivis harus memposisikan secara proporsional isu yang berkembang agar tidak menjadi bom waktu.

Komitmen yang tertanam di kelompok yang mengidolakan khilafah mendorong mereka menggunakan cara apa pun. Mereka mendambakan romantisme masa lalu, menurut Gus Nadirsyah Hosein, mengulang kembali cerita masa-masa kejayaan Islam utuk menularkan semangat khilafah di muka bumi. Kalimat “penegakan khilafah adalah solusi bagi segala persoalan umat di Indonesia. Apa pun masalahnya, khilafah obatnya. Bendera khilafah pun dikibarkan di setiap aksi dan momen massa.

Pemutlakan terhadap khilafah semacam itu pada gilirannya membuat mereka tidak mampu membedakan mana yang merupakan instrumen khilafah dan mana tujuan pemerintahan yang adil. (Komaruddin Hidayat, 2014: 40). Masyarakat terlalu pintar untuk membedakan antara gerakan kelompok yang berkepentingan untuk membumikan wacana khilafah.

Sampai saat ini,  kalau meminjam apa yang dikatakan oleh Barthes, kelompok ini membentuk sebuah tipe wicara dengan meminjam konsep-konsep ideal masa lalu untuk mencapai kepentingan kelompok mereka di masa kini. Sedang masyarakat sudah paham, pemerintah sudah hafal gerak-gerik itu. Pembacaan ini semoga bisa memberikan sumbangsih yang sedikit banyak membuka cakrawala berpikir masyarakat tentang isu yang “ditunggangi” agar tidak sampai memancing emosi masyarakat, yang bisa terjadi kapan saja, di mana saja. Sehingga, keretakan kebangsaan bisa diredam dan spirit keindonesiaan tetap terawat.

 

 

What's Your Reaction?

Sedih Sedih
1
Sedih
Cakep Cakep
3
Cakep
Kesal Kesal
0
Kesal
Tidak Suka Tidak Suka
0
Tidak Suka
Suka Suka
7
Suka
Ngakak Ngakak
0
Ngakak
Wooow Wooow
4
Wooow
Keren Keren
6
Keren
Terkejut Terkejut
0
Terkejut
Jamalul Muttaqin
Mahasiswa Pasca Sarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, sebagai pemerhati spikologi dan tasawuf, tulisan-tulusanya terbit di berbagai media, di antaranya; Media Indonesia, Harakatuna.com, Bangkit.com, Alif.id, NusantaraNews.com, GeoTimes.co, Radar Surabaya.co, JawaPos Group Radar Madura, dan lain-lain. Sekarang tinggal di SMP-SMA Ali Maksum, Krapyak, Yogyakarta.

Comments 0

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

BACA JUGA

TULISAN LAIN DI Ulasan

REKOMENDASI

Choose A Format
Story
Formatted Text with Embeds and Visuals